
MAKLUMAT — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memperkuat dan mendorong pertumbuhan sentra industri kecil dan menengah (IKM) di pelosok tanah air agar semakin berdaya saing. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kolaborasi antara Kemenperin dan Pemerintah Daerah terus dilakukan guna menjaga keberlangsungan aktivitas produksi di sentra-sentra IKM.
“Kemenperin bersama dengan pemerintah daerah terus bersinergi untuk menjaga keberlanjutan aktivitas produksi di sentra-sentra IKM dengan memberikan berbagai dukungan dan fasilitasi yang dapat digunakan oleh para pelaku IKM,” kata Menperin Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (5/4/2025).
Strategi pengembangan IKM berbasis sentra ini diharapkan menciptakan dampak positif yang meluas terhadap ekosistem industri nasional, baik melalui pengolahan bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah maupun melalui penguatan komunitas-komunitas IKM yang telah tumbuh di daerah.
Peningkatan Perkembangan Sentra IKM Berkat DAK
Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menambahkan bahwa perkembangan sentra IKM semakin meningkat berkat dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang IKM. Skema pembiayaan ini memungkinkan pelaku IKM untuk memanfaatkan fasilitas yang ada, seperti ketersediaan bahan baku, rumah produksi, mesin dan peralatan, hingga promosi dan pemasaran.
Reni menjelaskan bahwa skema ini juga membuka peluang bagi IKM untuk masuk dalam rantai pasok industri berskala besar maupun sektor ekonomi lainnya. Salah satu contoh keberhasilan program ini adalah Sentra IKM Olahan Pangan di Dusun Pancor Dao, Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.
Sentra ini didukung pendanaan DAK pada 2023 dan dikelola oleh Koperasi Produsen Syariah Sentra Olahan Pangan, dengan aset dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Tengah. Sejak 2016 hingga 2024, Provinsi NTB telah menerima DAK Fisik IKM untuk berbagai daerah seperti Kabupaten Bima, Dompu, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa, Sumbawa Barat, Kota Bima, dan Kota Mataram.
“Adapun dari beberapa Kabupaten/Kota tersebut, Provinsi Nusa Tenggara Barat telah memiliki 20 sentra IKM yang telah mendapatkan dana DAK, yang terdiri dari berbagai komoditas seperti tekstil, kerajinan, logam, pangan, perhiasan, garam beryodium, hingga penyedia layanan rumah kemasan,” jelasnya.
Di Lombok Tengah, pembiayaan DAK digunakan untuk memperkuat produksi olahan pangan intermediate dan membangun rantai pasok yang berkelanjutan. Setelah pengembangan, terjalin kemitraan antara pengelola sentra dan pelaku IKM pangan dari berbagai komoditas seperti bakso, roti, dan kue.
Awalnya, sentra ini fokus pada produk berbasis singkong. Namun, kini telah berkembang menjadi gedung produksi bersama dengan berbagai fasilitas seperti oven, mixer, vacuum frying, dan lainnya. Selain singkong, gedung ini juga digunakan oleh produsen kerupuk udang dan pelaku usaha pengupasan kemiri.
Hasilnya, terjadi peningkatan produksi mencapai lebih dari 18 ton per tahun, jangkauan pasar yang lebih luas, omzet yang meningkat signifikan, serta jumlah tenaga kerja yang bertambah dari 10 menjadi 30 orang.
Reni menyebut bahwa kehadiran sentra yang menghasilkan produk intermediate memberikan efek berganda karena pelaku industri lain turut merasakan manfaatnya. Ia berharap industri olahan pangan di Lombok Tengah semakin berkembang dan mampu menyumbang pada perekonomian masyarakat.
“Kami harap penggunaan DAK pada sentra IKM menjadi bentuk sinergi berkelanjutan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,” tandasnya.
____________
Penulis: M Habib Muzaki | Editor: Ubay NA