Kopi. Andin. Dan Diabetes.

Kopi dan Diabetes

MAKLUMAT — Dr. Riandini Aisyah membawa kopi ke laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Ia tidak membawanya untuk diminum. Ia membawanya untuk diteliti.

Ia memulai riset dari dua fakta yang berjalan bersamaan: masyarakat Indonesia minum kopi setiap hari, sementara jumlah penderita diabetes terus meningkat. Ia lalu menyusun pertanyaan ilmiah dari situasi itu: apakah kopi hitam murni dapat membantu menurunkan kadar gula darah?

Bersama Dr. dr. Safari Wahyu Jatmiko dan dr. Nur Mahmudah, Riandini meneliti kopi robusta Lampung di laboratorium biologi molekuler UMS. Tim itu mempresentasikan hasil awal riset mereka dalam International Conference of Medical Breakthrough (ICMB) 2024. Mereka menguji efek kopi terhadap tikus wistar yang mengalami diabetes setelah induksi aloksan.

Peneliti membagi hewan uji ke dalam enam kelompok dan memberi tiga dosis kopi berbeda yang setara dengan konsumsi 3 gram, 6 gram, dan 9 gram per hari pada manusia. Selama 14 hari, tim mengukur kadar glukosa darah, massa otot, dan perubahan jaringan otot lurik.

Riset itu menunjukkan penurunan signifikan kadar gula darah, terutama pada kelompok dengan dosis tertinggi.

Mekanisme Biologis

Riandini menjelaskan bahwa kopi mengandung kafein, polifenol, asam klorogenat, trigonelin, dan diterpen. Senyawa tersebut mengaktifkan enzim AMPK, yang berperan sebagai pengatur energi sel.

Baca Juga  Di Hadapan Warga Aisyiyah Jatim, Emil Komitmen Support Rumah Sakit dan Sekolah Swasta

Aktivasi AMPK mendorong peningkatan translokasi transporter glukosa GLUT4 ke membran sel otot. Proses ini meningkatkan penyerapan glukosa dari darah ke dalam sel dan menurunkan kadar gula darah.

Tim tidak menemukan peningkatan signifikan pada massa otot selama periode penelitian. Riandini menyebut durasi penelitian yang relatif singkat sebagai faktor pembatas.

“Pembentukan otot membutuhkan waktu lebih panjang. Diabetes merupakan penyakit kronis, sehingga dua minggu belum cukup untuk melihat perubahan struktural,” kata Riandini.

Efek Antioksidan

Selain memengaruhi metabolisme glukosa, kopi juga menunjukkan efek antioksidan. Kandungan polifenol dan asam klorogenat menurunkan stres oksidatif, memperbaiki kerusakan DNA sel, serta meningkatkan kadar glutation endogen.

Riandini menilai efek tersebut relevan karena stres oksidatif berperan besar dalam progresivitas komplikasi diabetes, termasuk kerusakan pembuluh darah dan jaringan saraf.

Namun, tim menempatkan kopi sebagai faktor pendukung, bukan terapi utama.

“Kopi tidak menggantikan obat. Kopi hanya melengkapi intervensi gaya hidup sehat seperti diet dan aktivitas fisik,” ujar Riandini.

Konteks Epidemiologis

WHO memproyeksikan jumlah penderita diabetes global mencapai sekitar 592 juta orang pada 2035. Indonesia mencatat sekitar 14 juta penderita, dengan proporsi besar belum terdiagnosis.

Baca Juga  UMM Ciptakan Produk Medis Berbasis AI untuk Pasien Diabetes

Riandini menekankan bahwa faktor genetik berperan, tetapi pola makan tinggi gula dan rendah aktivitas fisik mempercepat munculnya penyakit.

Ia menyebut diabetes sebagai hasil interaksi antara kerentanan biologis dan lingkungan sosial.

Batasan Konsumsi

Riandini mengingatkan batas aman konsumsi kafein, yaitu sekitar 400 miligram per hari untuk orang dewasa sehat. Ia juga mengingatkan individu dengan gangguan lambung, hipertensi, dan aritmia untuk membatasi konsumsi kopi.

Ia menekankan bahwa respons tubuh terhadap kopi berbeda-beda pada setiap individu.

Arah Riset Lanjutan

Riandini merencanakan penelitian lanjutan dengan durasi lebih panjang dan fokus pada jaringan pankreas, khususnya sel beta penghasil insulin. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan mahasiswa dan peneliti muda.

Ia menilai banyak tanaman lokal Indonesia yang belum diteliti secara sistematis.

“Kopi Lampung hanya satu contoh. Banyak bahan lokal lain yang berpotensi mendukung kesehatan, tetapi belum masuk laboratorium,” kata Riandini.

Ia memulai riset dari kebiasaan harian. Ia membawa bahan dapur ke ruang sains. Ia mengubah rutinitas menjadi data.

Dan dari laboratorium itu, Riandini memposisikan kopi bukan sebagai komoditas atau gaya hidup, melainkan sebagai objek ilmiah yang berpotensi berkontribusi pada pencegahan penyakit kronis.***

Baca Juga  BRIN akan Gelar Seminar Internasional Nanoteknologi, Hadirkan Pakar dari Empat Negara