Pascabencana, Madrasah di Sumatera Utara Laksanakan Pembelajaran sambil Gotong Royong Berbenah

Para guru dan murid MIN 4 Langkat gotong royong membersihkan buku-buku dan dokumen di sela-sela kegiatan pembelajaran. (Foto: Kemenag)

MAKLUMAT — Pascabenca banjir bandang dan tanah longssor yang melanda, kegiatan belajar mengajar (KBM) madrasah di Sumatra Utara sudah kembali berjalan sejak 5 Januari 2026 lalu, termasuk di sejumlah madrasah terdampak.

Selain melaksanakan aktivitas pembelajaran, para guru dan siswa juga sembari bergotong-royong membersihkan lingkungan madrasah yang masih menyisakan material banjir. Kondisi tersebut salah satunya terlihat di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Langkat, di mana sisa-sisa lumpur dan material banjir masih tampak di beberapa sudut madrasah.

Di sela-sela jam pelajaran, para guru dan siswa bersama-sama membersihkan tumpukan buku yang sebelumnya berhasil dievakuasi dan diletakkan di atas pentas seni saat banjir melanda. Mereka juga membersihkan kaki meja dan kursi kelas yang berubah warna menjadi abu-abu akibat endapan lumpur yang mengering setelah terendam air cukup lama.

Halaman madrasah yang masih berlumpur turut menjadi perhatian. Pembersihan dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu proses belajar mengajar. Strategi “belajar sambil berbenah” dipilih untuk memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi sekaligus mengembalikan kenyamanan dan keasrian lingkungan madrasah seperti sebelum bencana melanda Kecamatan Tanjung Pura.

Kepala MIN 4 Langkat, Sakdiah, mengapresiasi dedikasi para guru dan ketangguhan para siswa dalam menghadapi kondisi pascabanjir. Menurutnya, pemulihan fisik madrasah memang membutuhkan waktu, namun semangat belajar harus tetap menjadi prioritas.

Baca Juga  Relawan Umsura Perkuat Aksi Kemanusiaan di Lokasi Bencana Tamiang Aceh

“Kami berupaya semaksimal mungkin agar lingkungan madrasah kembali bersih dan sehat. Meskipun fasilitas seperti buku dan kursi dan meja belajar banyak yang rusak, kami tidak ingin hal itu mematahkan semangat anak-anak,” ujar Sakdiah, dikutip laman resmi Kemenag, Rabu (7/1/2026).

“Gotong royong ini adalah bukti bahwa MIN 4 Langkat kuat dan siap bangkit kembali untuk mencetak generasi cerdas meski di tengah keterbatasan pasca-banjir,” sambungnya.

Selain sebagai upaya pemulihan, kegiatan gotong royong tersebut juga dinilai menjadi sarana pendidikan karakter bagi siswa, khususnya dalam menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta ketangguhan dalam menghadapi cobaan.

Tak cuma di Langkat, kondisi serupa juga terjadi di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Tapanuli Selatan (Tapsel), di mana kegiatan belajar mengajar telah kembali dilaksanakan secara bertahap selama masa pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda.

Kepala MTsN 4 Tapanuli Selatan, Cambong Dalimunthe, mengatakan bahwa proses pembelajaran di dalam kelas tetap berjalan dengan penyesuaian terhadap kondisi sarana dan prasarana yang terdampak.

Guru, kata dia, memulai kegiatan dengan absensi, pengecekan kesiapan belajar peserta didik, serta pemberian penguatan dan motivasi agar siswa tetap bersemangat.

Baca Juga  Perkembangan Terbaru Bencana Sumatera; Kemenkes Waspadai Campak, 152 Puskesmas Dalam Kondisi Rusak Berat

“Selain penyampaian materi pelajaran, guru juga mengajak peserta didik untuk menjaga kebersihan ruang kelas, merawat fasilitas madrasah, serta menumbuhkan sikap disiplin dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya.

“Suasana pembelajaran berlangsung tertib, aman, dan kondusif dengan tetap mengedepankan kenyamanan peserta didik,” sambung Cambong.

Ia menegaskan, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tersebut merupakan bentuk komitmen madrasah dalam memastikan layanan pendidikan tetap berjalan meskipun di tengah keterbatasan pascabencana.

Pihaknya berharap seluruh warga madrasah terus bekerja sama memulihkan kondisi lingkungan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. “Dengan dimulainya kembali pembelajaran di dalam kelas, MTsN 4 Tapanuli Selatan optimis kegiatan belajar mengajar pada semester genap TP 2025/2026 dapat berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik,” pungkas Cambong.