MAKLUMAT — Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPM PWM) Jawa Timur resmi mengukuhkan Jamaah Nelayan Muhammadiyah (JALAMU) dan Sahabat Migran Muhammadiyah (SARANMU) di bawah naungan MPM Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang, Sabtu (7/2/2026).
Bertempat di Aula Pusdiklat Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pengukuhan tersebut menjadi langkah strategis Muhammadiyah dalam memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi komunitas nelayan serta pekerja dan calon pekerja migran.
Pengukuhan hihadiri jajaran PWM Jawa Timur, pengurus PDM Kabupaten Malang, unsur MPM di tingkat wilayah dan daerah, serta perwakilan komunitas nelayan dan migran. Acara juga diisi dengan penguatan visi gerakan, konsolidasi program, serta peneguhan komitmen bersama untuk memperluas kerja-kerja pemberdayaan masyarakat.
Ketua MPM PWM Jawa Timur, Luthfi J Kurniawan, berharap JALAMU menjadi wadah penguatan kapasitas, kemandirian ekonomi, serta advokasi bagi nelayan. Sementara SARANMU diharapkan hadir untuk memberikan pendampingan, perlindungan, dan edukasi bagi komunitas migran dan keluarganya.
Luthfi menegaskan, pembentukan dan pengukuhan JALAMU maupun SARANMU merupakan wujud nyata komitmen Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah sosial yang berorientasi pada keadilan, kesejahteraan, dan keberpihakan kepada kelompok rentan.
“Melalui struktur yang lebih tertata di tingkat daerah, program-program pemberdayaan diharapkan dapat berjalan lebih terukur, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tandasnya.
Wakil Ketua PDM Kabupaten Malang, Abdul Rouf, berharap dikukuhkannya pengurus JALAMU dan SARANMU dapat semakin berperan aktif dalam menjawab persoalan sosial-ekonomi masyarakat pesisir dan migran, sekaligus memperkuat kontribusi persyarikatan dalam pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Ketua Divisi Petani, Nelayan dan Buruh Migran MPM PWM Jawa Timur, Hutri Agustino, menyampaikan bahwa pengukuhan JALAMU dan SARANMU bukan sekadar seremoni, tetapi peneguhan ikhtiar Muhammadiyah untuk benar-benar hadir di tengah kehidupan nelayan, petani, dan buruh migran.
“Mereka bukan objek pemberdayaan, melainkan subjek perubahan yang memiliki martabat, pengetahuan, dan kekuatan untuk bangkit bersama,” tandasnya.
Melalui MPM, lanjut Hutri, kita ingin memastikan bahwa dakwah Muhammadiyah menyentuh laut tempat nelayan menggantungkan hidupnya, sawah tempat petani berjuang, serta negeri-negeri jauh tempat buruh migran mencari penghidupan.
“JALAMU dan SARANMU harus menjadi ruang solidaritas, perlindungan, dan penguatan, agar keadilan sosial benar-benar dirasakan oleh mereka yang selama ini berada di pinggir,” pungkas Hutri.













