Pentingnya Dimensi Tauhid dalam Membangun Peradaban yang Berkemajuan

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi, saat menyampaikan sambutan dalam Gebyar Milad ke-50 Smamda Sidoarjo, Sabtu (31/1/2026). (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menegaskan pendidikan sebagai kunci dalam membangun peradaban bangsa. Namun, ia juga menandaskan  pentingnya dimensi tauhid dalam memajukan hal tersebut.

Hal itu ia sampaikan ketika menghadiri Gebyar Milad ke-50 dan Temu Alumni SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo bertajuk “Mencerahkan Umat, Membangun Peradaban Berkemajuan,” yang digelar di Auditorium AR Fachruddin pada Sabtu (31/1/2026).

Peradaban adalah Kebudayaan Tertinggi

Menurut Haedar, peradaban adalah puncak dari kebudayaan, yang tidak dapat dibangun dalam sekejap mata, melainkan dari perjalanan panjang serta menampilkan keunggulan dari banyak dimensi.

“Peradaban itu puncak dari kebudayaan, yakni (sebagai) kebudayaan tertinggi, high culture. Dan kebudayaan itu adalah sistem pengetahuan kolektif manusia dalam menghadapi kehidupan dan perkembangan zaman. Dimensinya banyak,” ujarnya.

“Ada sistem mata pencaharian, sistem organisasi, sistem pengetahuan, sistem religi, kemudian sistem kesenian. Lalu ada aspek-aspek yang bersifat ekonomi, (ada) sistem ekonomi, sistem teknologi. Artinya dengan tujuh unsur ini, maka kita bisa meraih kebudayaan yang tinggi, yakni peradaban. Tapi, peradaban tidak bisa sekali jadi,” sambungnya.

Mengubah Budaya yang Kurang Baik

Dalam konteks membangun budaya yang baik dalam rangka menuju peradaban yang berkemajuan tersebut, Haedar menyoroti budaya buruk sebagian masyarakat.

Ia lantas mengajak masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah, untuk mengubah budaya kurang baik tersebut menjadi budaya yang baik. “Bisa tidak kita mengubah culture?” tandasnya.

Baca Juga  Filosofi Dua Sayap Garuda: Cara Abdul Mu'ti Terjemahkan Harmoni NU-Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, Haedar menekankan pentingnya membangun budaya disiplin sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah bahkan di keluarga dan individu masing-masing.

“Belajar disiplin itu bagian dari membangun culture, belum peradaban,” katanya.

Mengutip paparan Prof Koentjaraningrat, Haedar mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia tengah dijangkiti yang disebutnya sebagai penyakit kebudayaan. Bahkan, kata dia, bukan cuma satu penyakit kebudayaan.

“Satu suka menerabas. Menerabas itu kalau antre masuk terakhir (tapi) inginnya menyelinap ke depan, tidak suka antre. Yang kedua, tidak bisa disiplin murni. Kalau lampu lalu lintas, dia tertib kalau ada polisi, kalau sudah tidak ada polisi, dia langgar. Yang ketiga, tidak bisa menghargai waktu,” sebutnya.

Selain itu, ia menyebut salah satu penyakit kebudayaan yang menjangkiti adalah pandangan dan sikap yang tidak berorientasi ke masa depan. Padahal, hal tersebut menurut Haedar sangat penting.

Sekolah Muhammadiyah: Persemaian Kebudayaan

Dalam rangka membangun kebudayaan baik tersebut untuk menuju peradaban yang berkemajuan di masa depan, Haedar berharap agar sekolah-sekolah Muhammadiyah, termasuk Smamda Sidoarjo, mampu menjadi tempat bersemainya budaya-budaya positif.

“Saya berharap sekolah-sekolah Muhammadiyah mampu menjadi persemaian kebudayaan yang tinggi menuju peradaban yang berkemajuan. Dimulai dari hal-hal yang kecil, sampai pada hal-hal yang besar,” kata pria yang juga Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Hal itu, kata Haedar, sangat penting. Sebab, ia menilai bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan ke arah mana peradaban bangsa di masa depan.

Baca Juga  Nasyiatul Aisyiyah Luncurkan 10 Program Anyar, Perempuan Muda Siap Melaju

Ia mencontohkan pada negara-negara adidaya di dunia mengapa bisa maju dikarenakan pendidikan alias basis ilmu pengetahuan yang kuat.

“Negara-negara besar ini mereka maju karena apa? Jawabannya satu, mereka maju karena pendidikan, mereka maju karena ilmu pengetahuan, mereka maju karena teknologi, dan mereka maju karena ekonomi. Dan semua itu diperoleh dalam proses yang panjang, membangun kebudayaan untuk sampai membangun peradaban,” jelasnya.

Dimensi Tauhid dalam Membangun Peradaban

Lebih lanjut, Haedar menjelaskan sejarah peradaban di dunia, mulai dari peradaban Mesopotamia, Lembah Indus, Lembah Tiongkok, Babilonia, Yunani, Romawi, Persia, hingga peradaban Islam dan kejatuhan Andalusia serta Turki Ustmani, bersambung pada kebangkitan peradaban Barat di era renaissance, hingga era modern sampai saat ini.

Menurutnya, seluruh peradaban besar yang berdiri dan menjadi kekuatan pada masanya itu memiliki kunci yang kurang-lebih sama. Namun, ia menekankan pentingnya nilai tauhid dalam peradaban Islam.

“Semuanya hampir sama, kuncinya pada empat dimensi kemajuan tadi. Plus satu yang paling fundamental dalam peradaban islam, yakni nilai-nilai ilahiyah, nilai tauhid, yang melahirkan Al Madinah Al Munawarah, yakni peradaban yang berkemajuan,” tandasnya.

Menurutnya, dimensi tauhid berperan sangat fundamental dalam peradaban Islam, sehingga pada masa keemasan generasi Islam mampu melahirkan banyak ilmuwan terkemuka dan berpengaruh, yang bahkan pengaruhnya dapat dirasakan sampai saat ini.

Baca Juga  Gus Ipul Bicara PKB: Sudah Waktunya Regenerasi

“Ada dimensi tauhid dalam membangun peradaban. Maka semua ilmuwan lahir di generasi Islam, bahkan Islam menyumbang peradaban matematik dengan memperkenalkan angka numerik “0” (nol), yang melahirkan revolusi berfikir dan revolusi berhitung,” jelasnya.

“Nah pertanyaannya, dengan peradaban yang demikian besar itu, mampukah kita, Muhammadiyah sebagai organisasi, dengan Aisyiyah di dalamnya, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo yang berusia 50 tahun, menyangga beban peradaban itu? Saya yakin kita mampu, kuncinya apa? Niat!” tegas Haedar.

Mengubah Kebiasaan dari Individu

Lebih jauh, Haedar mengajak untuk bersama-sama berubah dan melakukan perbaikan mulai dari individu atau pribadi masing-masing. “Niat itu tekad kita untuk maju,” tegasnya.

“Dalam teori struktur sosial, dimulai dari individu kita. Kita harus mengubah habit (kebiasaan) kita, kebiasaan kita yang buruk, (menjadi) pada kebiasaan yang baik, sesimpel itu. Tapi bisakah kita mengubah habit yang buruk menjadi habit yang baik?” lanjutnya.

Untuk mengubah hal tersebut, Haedar mengungkap pentingnya peran keluarga serta ekosistem masyarakat yang mendukung.

“Perlu lapisan kedua, keluarga. Keluarga (merupakan) tempat mendidik paling baik. Tetapi apakah keluarga-keluarga kita sekarang menjadi tempat untuk pendidikan?” sorotnya.

Haedar mengajak seluruh pihak, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat, untuk bersama-sama menciptakan ekosistem yang baik, yang mampu menghasilkan budaya yang baik, hingga pada akhirnya menopang menjadi peradaban yang berkemajuan.