MAKLUMAT— Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai terungkapnya dokumen kasus Jeffrey Epstein membuka borok moral bejat elite Barat. Skandal tersebut mencerminkan kemerosotan etika yang telah mengakar dalam struktur kekuasaan negara-negara Barat.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi NTV Rusia, Minggu (8/2/2026), Lavrov menegaskan dokumen Epstein bukan sekadar perkara kriminal individual, melainkan potret sistem kekuasaan yang kehilangan nilai kemanusiaan.
“Ini soal mengungkap wajah asli dari apa yang disebut Barat kolektif, yang mengklaim diri sebagai pemimpin moral dunia,” tegas Lavrov.
Lavrov juga menyinggung keberadaan jaringan kekuasaan tersembunyi yang selama ini kerap disebut deep state. Namun, ia memilih istilah deep union untuk menggambarkan jejaring elite yang, menurutnya, mengendalikan arah kebijakan global di balik layar.
Menurut Lavrov, praktik perdagangan seks anak yang terungkap dalam berkas Epstein berada di luar nalar manusia. Ia menilai tindakan tersebut menunjukkan degradasi moral ekstrem di kalangan elite yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga nilai-nilai universal.
“Ini bukan sekadar kejahatan. Ini adalah kemerosotan moral yang sistemik,” tegasnya.
Kasus Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan internasional setelah dokumen-dokumen terkait jaringan relasi dan aktivitas kriminalnya mencuat ke publik. Epstein, seorang taipan keuangan Amerika Serikat, pada 2019 didakwa atas kasus perdagangan seks anak di bawah umur sebelum ditemukan tewas di sel tahanan.
Jaksa mengungkap bahwa sepanjang 2002 hingga 2005, Epstein mengeksploitasi puluhan gadis di bawah umur di sejumlah kediaman mewahnya. Para korban direkrut, dibayar, dan dipaksa melibatkan korban lain dalam jaringan kejahatan tersebut.
Pernyataan Lavrov muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan Barat. Isu transparansi, moralitas, dan akuntabilitas elite global kini menjadi bagian dari pertarungan narasi di panggung internasional.














