Ramadan sebagai “Sekolah Alamiah”: Latih Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif

Ilustrasi Ramadan 1447 Hijriah. (Freepik)

MAKLUMAT — Puasa Ramadan tak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual semata, tetapi juga berpotensi menjadi sarana pendidikan kognitif yang relevan dengan tuntutan abad ke-21. Hal itu disampaikan Dosen FMIPA Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr Raharjo MSi, yang menyoroti puasa sebagai “sekolah alamiah” bagi penguatan Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Menurut Raharjo, selama ini umat Islam terbiasa memaknai Ramadan sebatas menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, praktik puasa sesungguhnya melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dalam dunia pendidikan modern dikenal sebagai HOTS, yakni kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Dr. Raharjo, M.Si.
Dr. Raharjo, M.Si.

Dalam taksonomi pendidikan yang dirumuskan Benjamin Bloom, Raharjo menegaskan bahwa berpikir tingkat tinggi tidak hanya bergantung pada kecerdasan, tetapi juga pada kematangan pengendalian diri dan refleksi mendalam. Dalam konteks itu, puasa dinilai memiliki relevansi kuat.

“Berpikir kritis tidak mungkin tumbuh dalam diri yang impulsif. Puasa melatih pengendalian impuls melalui praktik menunda dorongan biologis paling dasar seperti makan dan minum,” kata pria yang juga pengurus Majelis Dikdasmen PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu.

Dalam perspektif psikologi kognitif, kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) terbukti berkorelasi dengan kualitas pengambilan keputusan jangka panjang. Ramadan, yang dijalani selama sebulan penuh, menjadi latihan sistematis bagi penguatan fungsi eksekutif otak, khususnya inhibitory control atau pengendalian diri.

Baca Juga  Muhammadiyah Luncurkan Berbagai Program Lingkungan 2026, Dorong Gerakan Ekologis Berkelanjutan

Selain itu, puasa juga dinilai melatih metakognisi, yakni kesadaran atas pikiran dan perilaku diri sendiri. Sepanjang menjalani ibadah, seseorang terdorong untuk berdialog dengan dirinya: mengendalikan emosi, menilai respons, hingga mempertimbangkan nilai ibadah dalam setiap tindakan.

Raharjo menilai, tujuan puasa untuk mencapai takwa dapat dimaknai secara psikologis sebagai heightened self-awareness alias peningkatan kesadaran diri.

“Kesadaran ini menjadi fondasi penting dalam berpikir tingkat tinggi, termasuk kemampuan mengoreksi kesalahan logika dan mengambil keputusan secara bijak,” tandasnya.

Tak hanya itu, perubahan pola makan, tidur, dan aktivitas sosial selama Ramadan juga mendorong fleksibilitas kognitif. Dalam kondisi adaptasi tersebut, otak belajar menyesuaikan diri sehingga memicu kreativitas. Sejumlah riset neurosains, menurutnya, menunjukkan bahwa perubahan pola biologis dapat memengaruhi reorganisasi cara kerja otak.

“Ramadan menyediakan ruang jeda, keheningan, dan refleksi—sesuatu yang justru sering hilang dalam pendidikan modern yang serba cepat dan instan,” kata dia.

Aspek evaluatif juga menjadi bagian penting dari puasa. Umat Islam dianjurkan melakukan muhasabah atau evaluasi diri sepanjang Ramadan. Dalam hierarki berpikir Bloom, kemampuan mengevaluasi diri merupakan salah satu puncak keterampilan kognitif. Tanpa evaluasi, seseorang sulit berkembang.

Baca Juga  Komisi X DPR Soroti Pentingnya Link and Match dalam Revisi UU Sisdiknas

Mengutip sabda Nabi Muhammad Saw, Raharjo menandaskan bahwa puasa juga merupakan perisai (junnah). Secara psikologis, perisai tersebut dapat dimaknai sebagai mekanisme pengendalian dari tindakan destruktif melalui pertimbangan konsekuensi sebelum bertindak—sebuah ciri berpikir kritis.

Lebih jauh, Raharjo menilai Ramadan dapat menjadi momentum pendidikan karakter sekaligus pendidikan kognitif di Indonesia. Guru dapat mengajak siswa merefleksikan pengalaman puasa dalam bentuk esai analitis, dosen dapat mengaitkan konsep self-regulation dengan praktik ibadah, dan orang tua dapat membimbing diskusi tentang makna pengendalian diri.

“Ramadan adalah latihan kolektif berpikir reflektif selama sebulan penuh. Sayangnya, potensi ini belum banyak disadari sebagai bagian dari penguatan kemampuan berpikir kritis peserta didik,” sebutnya.

Meski demikian, Raharjo menegaskan bahwa puasa tidak otomatis menjadikan seseorang kritis dan kreatif. Transformasi kognitif hanya terjadi jika ibadah dijalani dengan kesadaran dan refleksi mendalam, bukan sekadar rutinitas fisik.

Di tengah arus informasi yang deras dan budaya instan, Ramadan dinilai menawarkan ruang untuk memperlambat diri, melatih disiplin, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum bertindak.

“Jika sekolah adalah laboratorium berpikir, maka Ramadan adalah universitas kehidupan yang melatih disiplin kognitif manusia melalui pengendalian diri, refleksi, dan kesadaran penuh,” pungkas Raharjo.

Baca Juga  Silaturahmi dengan Bupati, PDM Bangkalan Perkuat Sinergi untuk Pendidikan dan Ketahanan Pangan