Bumi Bukan Lagi Global Warming, Tapi Global Boiling

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015 yang juga pernah menjabat Ketua Umum MUI, Prof Din Syamsuddin (kanan) memaparkan materinya dalam Kajian Ramadan 1447 H PWM Jawa Timur di Unmuh Jember, Ahad (22/2/2026). (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015, Prof HM Din Syamsuddin MA PhD, menyebut topik Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan yang diangkat dalam Kajian Ramadan 1446 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember sangat relevan dengan situasi dunia saat ini.

Menurutnya, isu-isu perubahan iklim dan pemanasan global saat ini menjadi fokus utama dalam berbagai forum maupun gerakan internasional. Ia menyebut, dunia saat ini tengah menghadapi apa yang disebut sebagai ecological collapse alias keruntuhan ekologis.

“Saya kira tema ini timely, sangat tepat waktu, karena isu lingkungan hidup sekarang ini menjadi isu utama dunia. Termasuk dalam SDGs, sustainable development goals, soal climate change and global warming yang menjadi momok peradaban,” ujarnya, Ahad (22/2/2026).

Mengutip pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Din Syamsuddin menyebut bahwa kondisi bumi saat ini bukan lagi berada dalam ancaman global warming, melainkan global boiling.

“Dunia sekarang memfokuskan diri untuk mengatasi ecological collapse, keruntuhan ekologis,” sebut pria yang pernah menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

“Perubahan iklim dan pemanasan global yang oleh PBB (disebut) bukan lagi global warming, tapi global boiling, tidak lagi panas tapi mendidih,” sambungnya.

Baca Juga  Hasil Survei Ungkap 82,9% Anak Muda Dukung KHGT Muhammadiyah: Tak Mau Ribet Penentuan Lebaran

Sebelumnya, Din Syamsuddin mengapresiasi komitmen dan konsistensi PWM Jawa Timur melalui berbagai kegiatan, program, maupun inisiatif yang dihadirkan, termasuk Kajian Ramadan yang rutin diadakan dan ia ikuti sejak sekitar medio 2004/2005 silam. Sebab itu, ia tak ragu menyebut PWM Jawa Timur sebagai wilayah andalan dan unggulan.

“PWM Jawa Timur adalah wilayah andalan dan unggulan Muhammadiyah. Pengajian seperti ini selalu ramai, tapi bukan hanya pesertanya yang banyak, tetapi juga karena tema dan topik yang dibahas itu penting dan menarik,” tandas pria asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.

Lebih lanjut, Din Syamsuddin mengungkapkan keterkaitannya dengan isu-isu lingkungan hidup yang cukup erat, terutama melalui pendekatan berbasis iman. Ia menyebut menjadi perwakilan Islam dalam Interfaith Rainforest Initiative (IRI) pada tahun 2017 silam, yakni sebuah gerakan lintasagama untuk menjaga paru-paru dunia, terutama di negara-negara yang memiliki hutan luas.

Secara teologis, ia menegaskan bahwa Islam adalah religion of nature atau agama yang selaras dengan alam. Bahkan di dalam Al-Quran, kata dia, terdapat sangat banyak ayat yang membahas ataupun berbicara terkait alam.

Ia menyoroti penggunaan istilah ath-thabi’ah yang menempatkan alam sebagai subjek, bukan objek eksploitasi. “Jangan perlakukan alam sebagai objek, tetapi sebagai subjek,” tegasnya.

Baca Juga  Muhammadiyah Harus Jadi yang Terdepan Lawan Industri Candu dan Lindungi Anak Menuju Generasi Emas 2045

Maka dari itu, manusia sebagai khalifah mengemban mandat untuk membangun peradaban dan melakukan perbaikan, bukan justru menimbulkan kerusakan. “Mandat manusia adalah membangun peradaban di muka bumi,” tandas Din Syamsuddin.

Ke depan, ia berharap sekaligus mendorong supaya hasil kajian Muhammadiyah tentang ekoteologi dirumuskan secara akademis dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, sehingga dapat menjadi rujukan secara global.