Putusan Mahkamah Agung AS Pangkas Tarif Trump, Dolar Melemah dan Rupiah Menguat

trump

MAKLUMAT — Nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah pada awal pekan ini setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) membatalkan sebagian besar kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump. Putusan tersebut langsung memicu sentimen positif di pasar global dan mendorong penguatan sejumlah mata uang, termasuk rupiah.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin (23/2/2026), bergerak menguat 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp 16.868 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.888 per dolar AS. Pelemahan dolar terjadi setelah pelaku pasar menilai pembatasan kewenangan presiden dalam menetapkan tarif dapat meredakan ketidakpastian kebijakan perdagangan.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengungkapkan penguatan nilai tukar rupiah mempengaruhi keputusan MA AS yang menganulir kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah tajam setelah data pertumbuhan ekonomi jauh di bawah ekspektasi dan keputusan MA yang menganulir tarif Trump,” jelas dia.

Sementara itu, Euro naik 0,4 persen ke level 1,1823 dolar AS, sementara poundsterling menguat ke 1,3521 dolar AS. Dolar juga turun 0,4 persen terhadap yen Jepang ke posisi 154,42. Pergerakan pasar relatif terbatas karena volume transaksi tipis, menyusul libur di Jepang dan perayaan Tahun Baru Imlek di China.

Baca Juga  Iran Tolak Berunding Selama Israel Masih Menyerang, Trump Cawe-cawe Ancam Kerahkan Kekuatan Penuh AS

Putusan MA AS menyatakan tarif besar-besaran yang sebelumnya diberlakukan Donald Trump melampaui kewenangan presiden. Namun, Trump merespons dengan keras. Ia mengecam putusan tersebut dan tetap mengumumkan tarif menyeluruh 15 persen atas impor, serta menegaskan kesepakatan dagang bertarif tinggi dengan mitra dagang tetap berjalan.

Analis strategi mata uang OCBC Bank Singapura, Sim Moh Siong menilai keputusan tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi di luar AS sehingga menekan dolar. Meski begitu, ia mengingatkan dampak jangka panjang terhadap pasar valuta asing masih belum sepenuhnya jelas.

Selain faktor tarif, lanjut dia, investor juga mencermati meningkatnya kehadiran militer AS di Timur Tengah. Washington terus menekan Iran terkait isu pengembangan senjata nuklir. Ketegangan geopolitik ini menahan pelemahan dolar lebih dalam karena sebagian investor tetap mencari aset lindung nilai.

Dolar Australia dan dolar Selandia Baru tercatat menguat tipis pada perdagangan pagi. Sementara franc Swiss, yang dikenal sebagai aset safe haven, naik 0,5 persen menjadi 0,7716 franc per dolar AS.

Pasar kini menantikan pidato kenegaraan Trump yang dijadwalkan berlangsung Selasa (24/2/2026). Investor berharap arah kebijakan perdagangan dan fiskal AS menjadi lebih jelas di tengah dinamika global yang terus bergerak cepat.***

Baca Juga  Utang Pemerintah Naik, IMF Soroti Beban Pajak yang Bisa Menekan Pekerja