Netanyahu Disorot Dunia Usai Bandingkan Yesus dengan Genghis Khan, Iran: Penghinaan Tak Bisa Diterima

netanyahu

MAKLUMAT – Pernyataan Benjamin Netanyahu yang membandingkan Yesus Kristus dengan Genghis Khan memicu gelombang kecaman global. Ia menyatakan bahwa dalam sejarah, kekuatan sering kali mengalahkan moralitas. Ucapan kontroversial itu disampaikan Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi, Kamis (19/3/2026).

“Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan dibandingkan Genghis Khan. Jika seseorang cukup kuat dan tanpa belas kasihan, maka kejahatan akan mengalahkan kebaikan,” ujar Netanyahu dikutip, Minggu (22/3/2026).

Pernyataan tersebut segera viral dan menuai reaksi keras, terutama dari kalangan umat Kristen yang menilai ucapan itu sebagai bentuk penghinaan terhadap tokoh suci.

Iran Ikut Mengecam

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi turut mengecam keras pernyataan tersebut. Ia menilai Netanyahu tidak menunjukkan rasa hormat terhadap Yesus, sekaligus mempertanyakan sikapnya yang selama ini mengandalkan dukungan komunitas Kristen, khususnya di Amerika Serikat.

“Bagi seseorang yang bergantung pada itikad baik umat Kristen, penghinaan terbuka terhadap Yesus sangat mencolok,” ujar Araghchi melalui akun X resminya.

Ia juga menyoroti apa yang disebut sebagai pujian berlebihan terhadap Genghis Khan, sosok yang dikenal luas sebagai penakluk dengan sejarah kekerasan.

Reaksi Publik Meluas

Gelombang kritik tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga masyarakat global. Media sosial dipenuhi kecaman yang menyebut pernyataan tersebut sebagai anti-Kristen dan tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin negara.

Baca Juga  Menlu Iran Sindir Operasi AS “Epic Mistake”, Harga Minyak Dunia Langsung Meroket

Sejumlah warganet menilai ucapan itu mencerminkan standar ganda dalam narasi moralitas global, sementara yang lain mempertanyakan sensitivitas Netanyahu terhadap isu agama.

Kontroversi ini tidak berdiri sendiri. Pernyataan Netanyahu mencerminkan dinamika lebih dalam antara retorika politik, legitimasi kekuasaan, dan sensitivitas agama.

1.Retorika kekuatan vs moralitas

Pernyataan Netanyahu menggarisbawahi pandangan realpolitik: kekuatan menentukan hasil. Namun, ketika disandingkan dengan figur religius seperti Yesus, narasi ini berubah menjadi sensitif dan berpotensi ofensif.

2.Risiko diplomasi berbasis agama

Ucapan tersebut membuka front baru dalam konflik—bukan hanya politik dan militer, tetapi juga agama. Ini berisiko memperluas ketegangan lintas komunitas global.

3.Dampak terhadap dukungan internasional

Netanyahu selama ini mendapat dukungan kuat dari kelompok Kristen evangelis di Barat. Pernyataan ini berpotensi mengganggu basis dukungan tersebut jika dianggap ofensif.

Kontroversi ini menegaskan bahwa dalam situasi konflik global, setiap pernyataan pemimpin memiliki dampak luas, tidak hanya secara politik, tetapi juga sosial dan keagamaan.

Di tengah eskalasi yang terus meningkat, sensitivitas terhadap nilai-nilai universal menjadi kunci agar konflik tidak semakin meluas ke ranah yang lebih kompleks.