Ancam Keselamatan Kontingen Garuda, Indonesia Kecam Serangan Israel di Lebanon Selatan

Israel mengatakaan akan melakukan serangan darat ke Lebanon Selatan, dengan target laskar Hizbullah, Senin (16/3/2026). (Foto: SS BBC)

MAKLUMAT — Indonesia mengecam serangan Israel di Lebanon selatan sambil memantau keselamatan Kontingen Garuda di tengah eskalasi konflik.

Serangan Israel tersebut dinilai melanggar hukum humaniter internasional serta Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) 1701.

Indonesia menyerukan seluruh pihak menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon serta menghentikan serangan yang membahayakan warga sipil dan infrastruktur publik.

Pemerintah juga menegaskan bahwa jalur dialog dan diplomasi harus kembali diutamakan untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas serta membuka jalan menuju perdamaian di kawasan.

Dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (16/3/2026), pemerintah menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di Lebanon, terutama di Beirut dan sepanjang garis demarkasi Blue Line di wilayah selatan negara tersebut.

Indonesia juga menyoroti serangan terhadap pos Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) yang menyebabkan sejumlah personel penjaga perdamaian terluka.

Pemerintah menegaskan seluruh pihak memiliki tanggung jawab berdasarkan hukum internasional untuk menjamin keselamatan dan keamanan personel serta properti Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pantau Keselamatan Kontingen Garuda

Pemerintah Indonesia menyatakan terus memantau perkembangan situasi di Lebanon serta dampaknya terhadap Kontingen Garuda yang bertugas dalam misi UNIFIL.

Baca Juga  Terungkap! 5 Upaya Rahasia Hancurkan Masjid Al-Aqsa Sejak 1967, Eks Ketua Knesset Buka Fakta Mengejutkan

Keselamatan dan keamanan personel pasukan pemelihara perdamaian Indonesia disebut menjadi prioritas utama di tengah situasi keamanan yang semakin tegang.

Pemerintah juga menyampaikan penghargaan atas integritas, profesionalisme, dan dedikasi Kontingen Garuda bersama UNIFIL dalam menjalankan mandat menjaga stabilitas dan perdamaian di Lebanon selatan.

Indonesia berharap seluruh personel Kontingen Garuda dapat menjalankan tugas dengan aman.

Israel Perluas Operasi Militer

BBC melaporkan militer Israel menyatakan operasi yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir menargetkan “benteng-benteng utama Hizbullah” dengan tujuan memperkuat pertahanan komunitas Israel di wilayah perbatasan.

Jet tempur Israel terus menyerang kota dan desa di Lebanon selatan. Media pemerintah Lebanon melaporkan tujuh orang, termasuk dua paramedis, tewas pada Senin (16/3/2026).

Di Israel, sirene peringatan berbunyi setelah serangan rudal dan roket dari Hizbullah, namun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Lebanon terseret dalam konflik yang lebih luas antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran setelah Hizbullah meluncurkan roket serta drone ke wilayah Israel sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran dan serangan Israel sejak gencatan senjata yang mengakhiri perang pada 2024.

Israel menyatakan serangan Hizbullah tersebut menjadi alasan untuk melancarkan operasi militer baru yang akan terus berlangsung hingga kelompok tersebut dilucuti senjatanya.

Baca Juga  Gawat! Stok Alat Medis dan Obat-obatan di Gaza Habis

Menurut otoritas Lebanon, sedikitnya 850 orang, termasuk 107 anak-anak, tewas dalam serangan Israel sejak konflik meningkat. Sekitar 830.000 warga juga terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Militer Israel sendiri melaporkan dua tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan.

Peringatan Negara Barat

Sementara itu, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yang memperingatkan Israel agar menghindari serangan darat besar-besaran di Lebanon.

Menurut mereka, operasi darat skala besar berpotensi menimbulkan konsekuensi kemanusiaan yang menghancurkan dan memperpanjang konflik di kawasan.

Negara-negara tersebut juga menyatakan keprihatinan atas meningkatnya kekerasan di Lebanon dan mendorong keterlibatan diplomatik antara Israel dan Lebanon untuk mencapai solusi politik yang berkelanjutan.

“Kami sangat mendukung inisiatif untuk memfasilitasi pembicaraan dan mendesak de-eskalasi segera,” demikian pernyataan bersama yang dikutip dari laporan Al Arabiya.

Pengungsian Terus Bertambah

Serangan roket Hizbullah ke wilayah Israel pada awal Maret memicu konflik regional yang semakin meluas di Timur Tengah.

Hizbullah menyatakan serangan tersebut sebagai pembalasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Israel kemudian merespons dengan kampanye pengeboman intensif di Lebanon yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 880 orang.

Baca Juga  Setahun Konflik Gaza (4): Beban Ekonomi Israel, Hingga Unjuk Rasa Pro Palestina di Berbagai Negara

Otoritas Lebanon menyebut lebih dari satu juta warga telah mengungsi dari rumah mereka, sementara sekitar 130.000 orang kini tinggal di tempat penampungan kolektif.

Israel bahkan mengancam akan menimbulkan kehancuran di Lebanon dengan skala serupa seperti yang terjadi di Gaza jika konflik terus berlanjut.

Negara-negara Barat menilai situasi kemanusiaan di Lebanon kini sangat mengkhawatirkan akibat gelombang pengungsian yang terus meningkat. Mereka juga menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata kelompok Hizbullah yang didukung Iran.***