MAKLUMAT — Ratusan ribu mahasiswa baru di 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) telah mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Terdiri atas 103 universitas, 30 sekolah tinggi, 24 institut, 5 politeknik, dan 2 akademi.
Meskipun Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah belum merinci jumlah total mahasiswa baru, namun diperkirakan angka ratusan ribu tersebut berada di kisaran 10 persen jumlah mahasiswa baru di seluruh kampus baik negeri maupun swasta. Jumlah yang tidak sedikit dan menjadi tanggungjawab besar bagi persyarikatan Muhammadiyah.
Banyaknya mahasiswa yang memilih kampus Muhammadiyah sebagai tempat mereka menempa diri di lingkungan akademik, merupakan bukti sahih tingginya kepercayaan publik pada institusi pendidikan yang dikelola Muhammadiyah. Apalagi, PTMA berhasil membuktikan sebagai kampus yang berhasil mencetak lulusan terbaik dan berdampak di berbagai sektor.
Keunggulan ini hendaknya benar-benar dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk menjadikan diri mereka sebagai bagian dari mahasiswa yang berprestasi, baik dalam ruang lingkup akademik maupun akademik. Termasuk menjadi future leader, tidak hanya di level nasional, namun juga global.
Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa terutama di kampus PTMA adalah problem solver. Kemampuan menyelesaikan masalah ini menjadi tantangan serius terutama bagi mahasiswa baru yang posisinya saat ini berada pada fase transisi. Dari level siswa menjadi mahasiswa. Dari penerima informasi pasif menjadi pembelajar mandiri (active learner). Di mana mereka akan menghadapi banyak tuntutan di dunia kampus. Baik dalam konteks kompetisi maupun kolaborasi.
Problem solver inilah yang menjadi elemen fundamental dalam konsep kepemimpinan. Setidaknya, ada empat konsep kepemimpinan menurut Gary Yukl dan William L. Gardner dalam Leadership in Organizations (2020).
Pertama, teori orang hebat atau great man theory, di mana pemimpin dilahirkan dengan bakat alami atau sifat istimewa. Kedua, teori sifat atau trait theory, yakni kepemimpinan dinilai berdasarkan karakteristik personal seperti integritas dan kecerdasan.
Ketiga, teori perilaku atau behavioral theory, yang fokus pada tindakan nyata pemimpin sehari-hari dalam berinteraksi dengan bawahan. Sedangkan keempat, teori kontingensi atau contingency theory, di mana efektivitas kepemimpinan bergantung pada situasi dan kondisi tertentu.
Empat teori kepemimpinan tersebut, menjadikan problem solver sebagai kompetensi mutlak. Pertanyaannya, apakah mahasiswa sudah memiliki kesiapan untuk menghadapi sekaligus menyelesaikan masalah yang dihadapi? Alih-alih mampu mengidentifikasi masalah (faktor penyebab, subjek, dan objek masalah), jangan-jangan mahasiswa belum mampu menemukan dan memahami maksud masalah itu sendiri dengan tepat. Sehingga, mata rantai masalah yang perlu didiagnosa tak kunjung ditemukan penawarnya.
IMM Jawaban atas Kebutuhan Soft Skill
Navigasi dalam sebuah pelayaran panjang mustahil diabaikan. Begitupula bagi mahasiswa yang akan mengarungi masa perkuliahan setidaknya empat tahun mendatang. Perlu kompas sebagai pedoman terbaik agar masa depan tidak salah arah, sehingga mereka tetap survive dan struggle apapun dinamika yang dihadapi.
Jawaban atas kebutuhan terkait kompas tersebut tentu saja adalah organisasi. Bukan sekadar gaya, meskipun sebagian besar anak muda menganggap aktif organisasi sebagai salah satu lifestyle. Namun, organisasi-lah yang nantinya memberi ruang sangat luas untuk melatih soft skill mahasiswa sebagai tempat untuk mengimplemetasikan kemampuan hard skill yang didapat dari bangku kuliah.
Banyak organisasi yang dibentuk dalam iklim kampus di PTMA. Di antara sekian banyak organisasi ekstra kampus berbasis kader, pilihan jatuh pada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Pondasi fundamental dalam Trilogi IMM (keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan) maupun Tri Kompetensi Dasar IMM (religiusitas, intelektualitas, dan humanitas) menjadi alasannya. Selain tentu saja, IMM merupakan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah.
Trilogi dan Tri Kompetensi Dasar IMM ini yang menurut Farid Fathoni, penulis buku Kelahiran yang Dipersoalkan (1990) menjadi elemen penting dalam gerak dan langkah organisasi. Sebagai, ortom yang bergerak dalam kaderisasi mahasiswa, IMM tumbuh dan berkembang mengikuti tantangan zaman. Mulai dari gerakan literasi, advokasi kebijakan publik, hingga riset dan inovasi teknologi—tanpa melepaskan identitasnya sebagai gerakan dakwah Islam berwatak tajdid (pembaharuan).
Relasi yang terbangun antara kemampuan akademik dengan non-akademik melalui IMM, memberikan value yang positif. Keilmuan akademis (hard skills) memberikan pondasi teoritis dan teknis, sedangkan kemampuan non-akademik (soft skills) membentuk kemampuan berinteraksi dan mengaplikasikannya. Tanpa soft skills, teori sehebat apa pun akan sulit diimplementasikan di dunia nyata yang penuh dinamika.
Beberapa kemampuan non-akademik yang diasah di IMM seperti komunikasi efektif, yakni kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas dan persuasif. Kemudian, teamwork atau kemampuan berkolaborasi dengan berbagai latar belakang karakter dan pemikiran. Termasuk di antaranya kecerdasan emosional, yakni kemampuan mengelola stres, empati, dan menjaga ketahanan mental saat menghadapi tantangan.
Dunia nyata di luar kampus tidak menyajikan masalah seperti soal ujian pilihan ganda. Masalah sosial, ekonomi, politik, maupun profesional bersifat kompleks dan serba tidak pasti. Mahasiswa yang memilih menjadi aktivis IMM terlatih sebagai problem solver dengan keunggulan mampu mendiagnosis akar masalah, bukan sekadar melihat gejalanya; merumuskan solusi alternatif yang relevan dan solutif; serta mampu memilih langkah terbaik berdasarkan analisis data dan pertimbangan risiko.
Di sisi lain, esensi kepemimpinan yang diinjeksi di IMM akan memberi dampak signifikan bagi diri sendiri, Muhammadiyah, dan bangsa. Tentu, kepemimpinan sejati tidak diukur dari gelar atau jabatan formal, melainkan dari seberapa besar dampak positif yang dihasilkan bagi lingkungan sekitar. Ketika mahasiswa dibekali kemampuan memecahkan masalah, mereka tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga mampu membawa perubahan positif di manapun mereka akan berdiaspora.
Mahasiswa dididik di kampus tidak sebatas untuk menyerap keilmuan sesuai standar akademik, namun mereka juga dicetak menjadi pemimpin di berbagai sektor. Karenanya, mahasiswa wajib membekali diri dengan kemampuan non akademik. Termasuk menjadi problem solver yang nantinya memberikan dampak positif pada banyak orang di bidang apapun yang mereka pilih.
Terakhir, mengutip pesan pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan pada seluruh kader Muhammadiyah tidak terkecuali IMM: “Muhammadiyah sekarang ini lain dengan Muhammadiyah akan datang. Maka teruslah kamu bersekolah menuntut ilmu pengetahuan di mana saja. Jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dll, kembalilah ke Muhammadiyah.”
*) Penulis: Radfan Faisal
Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); Alumni Magister Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)










