Muhammadiyah Dorong RIB Jadi Pedoman Bisnis, Lahirkan Pengusaha Islam Berkemajuan

RIB Muhammadiyah

MAKLUMAT — Risalah Islam Berkemajuan (RIB) hasil Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta tahun 2022 ditegaskan sebagai dokumen strategis yang merumuskan pandangan dunia Muhammadiyah. Dokumen ini dinilai perlu diturunkan ke level praksis, termasuk dalam bidang ekonomi dan kewirausahaan.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) sekaligus Wakil Ketua Lembaga Pengembang UMKM PP Muhammadiyah, Muhammad Ghufron Mustaqim, dalam Pengajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ahad (22/2).

Ghufron menjelaskan, RIB memuat pandangan komprehensif tentang kehidupan, termasuk ekonomi. Di dalamnya terdapat kata kunci seperti keadilan ekonomi, pemberdayaan, literasi ekonomi, budaya kedermawanan, dan kebangkitan ekonomi umat.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak boleh berhenti sebagai konsep ideologis, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata dunia usaha.

“Risalah Islam Berkemajuan mengkristalisasi worldview Muhammadiyah. Nilainya harus diturunkan ke praksis, termasuk dalam wirausaha,” ujarnya.

Ia menginisiasi gagasan penyusunan panduan praktis berbasis RIB bagi pengusaha Muhammadiyah. Ghufron menilai hingga kini belum ada rujukan komprehensif yang menjelaskan secara operasional sosok pengusaha Islam berkemajuan dalam praktik bisnis sehari-hari.

Selama ini, kata dia, banyak pelaku usaha Muslim masih mengadopsi falsafah bisnis sekuler, kapitalistik, dan materialistik tanpa proses kritis. Karena itu, Muhammadiyah perlu mengontekstualisasikan RIB ke dalam dunia usaha modern.

Baca Juga  SUMU Gandeng URUZIN Solusi Bisnis, Tekankan Pentingnya Legalitas untuk Pengembangan Usaha

Ghufron menilai pendekatan ekonomi global yang dominan saat ini terlalu berorientasi pada keuntungan, bahkan sering mengabaikan aspek keadilan dan keberlanjutan. Pola tersebut, menurutnya, memicu ketimpangan ekonomi ekstrem, kemiskinan, konflik sosial, hingga kerusakan lingkungan.

“Krisis global banyak bersumber dari pendekatan ekonomi sekuler-kapitalistik yang bertentangan dengan nilai Risalah Islam Berkemajuan,” tegasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjadikan RIB sebagai fondasi utama pengelolaan usaha. Model bisnis Muhammadiyah, lanjutnya, harus menempatkan nilai ketuhanan sebagai pusat orientasi sehingga tidak hanya mengejar profit, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan kemaslahatan.

“Pengelolaan bisnis harus meletakkan Allah sebagai pusat orientasi. Ini berbeda dari falsafah bisnis yang berbasis sekularisme dan materialisme,” katanya.

Ghufron menambahkan, potensi ekonomi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah sangat besar dan dapat terus berkembang apabila RIB dijadikan basis ideologis sekaligus operasional dalam pengembangan usaha.

Ia menegaskan, penguatan pilar ekonomi Muhammadiyah bukan sekadar agenda organisasi, melainkan bagian dari strategi dakwah berkemajuan yang menyasar kesejahteraan umat.

Melalui sinergi nilai ideologis dan profesionalitas pengelolaan usaha, Muhammadiyah diharapkan mampu menghadirkan model ekonomi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.***