AUM dan Risalah Islam Berkemajuan

Muhammadiyah dan Islam Berkemajuan

MAKLUMAT — Muhammadiyah memasuki abad kedua dengan jaringan amal usaha yang semakin luas. Ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, panti sosial, lembaga ekonomi, dan berbagai institusi pelayanan publik telah menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan masyarakat sipil terbesar di Indonesia. Namun, di tengah kemajuan kelembagaan tersebut, muncul pertanyaan yang layak diajukan: sejauh mana warga yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah memahami dan mengamalkan Risalah Islam Berkemajuan (RIB) sebagai fondasi ideologis gerakannya?

Pertanyaan itu menjadi penting sebab keberhasilan Muhammadiyah tidak hanya diukur dari besarnya aset, banyaknya gedung, atau luasnya jaringan kelembagaan. Muhammadiyah akan tetap relevan jika kemajuan organisasinya berjalan seiring dengan penguatan ideologi dan nilai-nilai yang menjadi ruh perjuangannya.

Dalam sebuah diskusi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beberapa waktu lalu, hasil survei Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM terhadap 294 sivitas akademika kampus memberikan pelajaran yang menarik.

Mayoritas responden mengaku menjunjung integritas, menghindari plagiarisme, menghargai keberagaman, berpikir kritis, peduli terhadap masyarakat, dan meyakini bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah. Semua indikator tersebut merupakan manifestasi dari nilai-nilai Islam Berkemajuan. Namun pada saat yang sama, tidak semua responden pernah membaca atau memahami Risalah Islam Berkemajuan secara utuh.

Baca Juga  Jaringan Media Afiliasi Muhammadiyah Jatim Silaturrahmi dengan Khofifah

Temuan tersebut melahirkan sebuah paradoks yang “menggembirakan”. Banyak warga Muhammadiyah ternyata sudah berkemajuan dalam praktik, namun belum sepenuhnya berkemajuan dalam kesadaran ideologis. Mereka telah berjalan di jalan Islam Berkemajuan, tetapi belum seluruhnya memahami peta jalan yang sedang mereka tempuh.

Kondisi tersebut bukan hanya terjadi di kampus Muhammadiyah. Di berbagai Amal Usaha Muhammadiyah, banyak guru yang mengajar dengan dedikasi tinggi, dokter yang melayani pasien dengan penuh empati, tenaga kependidikan yang bekerja secara profesional, dan pimpinan yang berusaha menjaga integritas. Akan tetapi, tidak sedikit yang memandang perilaku tersebut semata-mata sebagai tuntutan profesi, bukan sebagai pengejawantahan nilai Islam Berkemajuan.

RIB menegaskan lima karakter utama yang harus hidup dalam diri setiap warga Muhammadiyah; berlandaskan tauhid, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, menghidupkan ijtihad dan tajdid, mengembangkan wasathiyah, serta menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Kelima prinsip ini bukan hanya konsep teologis, melainkan pedoman etis dalam menjalankan profesi dan pelayanan sosial.

Karena itu, tantangan utama Muhammadiyah saat ini bukanlah menanamkan nilai yang sama sekali baru. Nilai-nilai tersebut sudah hadir dalam ruang kelas, laboratorium, kantor pelayanan, organisasi mahasiswa, hingga berbagai aktivitas pengabdian masyarakat.

Baca Juga  Media Muhammadiyah Menuju Profesional

Tantangan sesungguhnya adalah membantu seluruh warga Muhammadiyah memahami bahwa praktik-praktik baik yang mereka lakukan sehari-hari memiliki akar ideologis yang kuat dalam RIB. Di sinilah letak pentingnya literasi ideologis.

Literasi ideologis tentu saja bukan sekadar kemampuan menghafal isi dokumen atau mengutip pasal-pasal risalah. Literasi ideologis adalah kemampuan memahami mengapa seseorang harus jujur, mengapa penelitian harus berorientasi pada kemaslahatan, mengapa pelayanan harus dilakukan dengan ketulusan, dan mengapa ilmu pengetahuan harus menjadi sarana memajukan kehidupan manusia.

Tanpa kesadaran ideologis, perilaku baik bisa tetap berlangsung, namun akan mudah kehilangan arah ketika menghadapi tantangan zaman. Sebaliknya, tatkala perilaku baik ditopang oleh kesadaran nilai, maka budaya Islam Berkemajuan akan memiliki fondasi yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

Langkah berikutnya adalah menerjemahkan RIB ke dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan warga AUM. Selama ini RIB sering dipahami sebagai dokumen ideologis yang bersifat konseptual. Padahal bagi seorang guru, Islam Berkemajuan hadir ketika ia mengajar dengan profesional.

Bagi dokter dan tenaga kesehatan, Islam Berkemajuan tampak dalam pelayanan yang manusiawi. Bagi pegawai administrasi, Islam Berkemajuan hidup dalam pelayanan yang cepat, ramah, dan bebas pungutan. Bagi pimpinan, Islam Berkemajuan terlihat dalam transparansi, akuntabilitas, dan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kemaslahatan.

Baca Juga  Gaungkan Desa Wisata sebagai Strategi Ekonomi Global, UMLA Gelar 5th International Summer Course 2025

Selain itu, Muhammadiyah perlu menjadikan RIB sebagai literasi bersama seluruh warga AUM. Tidak cukup hanya diajarkan dalam forum AIK atau kegiatan Baitul Arqam, misalnya. RIB senyatanya hadir dalam budaya kerja, sistem penilaian kinerja, program pengembangan SDM, kurikulum pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dengan demikian, Islam Berkemajuan tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi sistem nilai yang menggerakkan seluruh aktivitas kelembagaan.

Masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membangun gedung yang megah atau mengelola institusi yang besar. Masa depan Muhammadiyah ditentukan oleh keberhasilannya menanamkan kesadaran bahwa setiap pekerjaan adalah dakwah, setiap pelayanan adalah ibadah, dan setiap inovasi adalah bagian dari tajdid. Ketika warga Amal Usaha Muhammadiyah mampu memahami dan mengamalkan RIB dalam kehidupan sehari-hari, niscaya Muhammadiyah tidak hanya memiliki amal usaha yang maju, tetapi juga memiliki peradaban yang berkemajuan.***

*) Penulis: Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag.
Dosen FAI dan Kepala Mata Kuliah Wajib Nasional UMM