Mencicipi Melon Hidroponik Banyuwangi, Ipuk: Rasanya Crunchy

Ipuk Fiestiandani memanen melon hidroponik saat meninjau budidaya di Villa Green House, Dusun Tegalgondo, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru.

MAKLUMAT – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mencicipi langsung melon hidroponik saat meninjau budidaya di Villa Green House, Dusun Tegalgondo, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru, Rabu (25/2/2026).

Di dalam greenhouse, Ipuk tak hanya melihat proses budidaya, tetapi juga ikut memanen dan mencicipi salah satu varietas unggulan, yakni Kirin. Ia mengaku terkesan dengan tekstur dan kualitas buah yang dihasilkan.

“Ada beberapa jenis melon kualitas premium di sini, tapi saya ikut panen salah satunya jenis Kirin. Yang jelas, melon di sini itu semua tipenya crunchy (renyah),” ujar Ipuk di sela kunjungan kerjanya.

Greenhouse seluas kurang lebih 10 x 50 meter itu membudidayakan sekitar 7.500 tanaman melon dengan sistem hidroponik drip irrigation. Sistem ini memungkinkan suplai air dan nutrisi diberikan secara terkontrol ke setiap tanaman, sehingga kualitas buah lebih terjaga.

Tiga varietas utama yang dikembangkan adalah Kirin atau Golden Kirin berwarna kuning bernet, Sweet Hami (Hami Gua) berkulit hijau, serta Golden Aroma dengan kulit hijau dan daging oranye.

Menurut Ipuk, produksi yang tertata rapi dan konsisten menjadi contoh pertanian modern yang layak dikembangkan di Banyuwangi. Ia pun meminta Dinas Pertanian untuk terus memberikan pendampingan.

Baca Juga  Dokter RS Muhammadiyah Terima Penghargaan Tokoh Inspiratif dari Bupati Banyuwangi

“Produksinya sudah tertata dengan baik. Ini contoh pertanian modern yang bisa terus dikembangkan. Saya juga minta Dinas Pertanian untuk terus mendampingi,” katanya.

Pengelola greenhouse, Imam Badrus Soleh, menjelaskan usaha budidaya melon tersebut telah berjalan selama dua tahun. Sebelumnya lahan ditanami cabai, namun karena kondisi lingkungan lebih cocok untuk melon, komoditas ini kemudian menjadi fokus pengembangan.

Dalam satu pohon hanya dipertahankan satu buah agar kualitas dan ukuran maksimal. Siklus tanam hingga panen berlangsung sekitar 70–80 hari, dengan total persiapan hingga produksi sekitar tiga bulan.

“Rata-rata produksi per pohon bobotnya 1,5 sampai 2 kilogram. Melon ini umurnya hanya tiga bulan. Setelah panen, tanaman dibongkar dan dilakukan penanaman ulang,” jelas Badrus.

Untuk tingkat kemanisan (brix), varietas Kirin dan Sweet Hami mampu mencapai 16–18 brix, sementara Golden Aroma berada di kisaran 13–15 brix saat panen.

Harga jual melon bervariasi. Kirin dipasarkan sekitar Rp35.000 per kilogram, sedangkan Sweet Hami dan Golden Aroma sekitar Rp30.000 per kilogram. Pasarnya masih didominasi wilayah Banyuwangi dan sebagian Jember.

Selain meninjau pertanian, dalam kunjungan ke Kalibaru Ipuk juga bersilaturahmi dengan warga di kawasan Masjid Ar Raudloh, Desa Kalibaruwetan.

Baca Juga  Kapolda Jatim Panen Jagung Bhayangkara di Banyuwangi, Dorong Produksi Benih Unggul

Dalam kegiatan tersebut disediakan berbagai layanan publik, mulai dari pengurusan administrasi kependudukan, pembayaran PBB, layanan NIB dan PBG, klinik UMKM, layanan HAKI, konsultasi sosial, hingga pemeriksaan kesehatan gratis yang dilanjutkan buka puasa bersama.

“Ramadan kita jadikan momen untuk bersilaturahmi lebih intens dengan warga. Biasanya kami berbuka dan menggelar tarawih di masjid-masjid kampung. Kami juga sediakan cek kesehatan gratis hingga kepengurusan dokumen kependudukan,” ujar Ipuk.