MAKLUMAT — Pengurus Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan (DHC BPK) 45 Kabupaten Banyuwangi menggelar sarasehan memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 Tahun 2026, Rabu (20/5/2026).
Tema besar Harkitnas 2026 “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” juga menjadi sorotan para narasumber dalam sarasehan yang diselenggarakan di Sanggar Mawar Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi tersebut.
Pengurus Dewan Paripurna DHC BPK 45 Kabupaten Banyuwangi, Sugihartoyo SH MH, mengkritisi sejumlah hari besar nasional yang menurutnya hanya diperingati secara seremonial.
“Sama sekali belum menyentuh spiritnya, padahal yang dibutuhkan adalah semangatnya atau spiritnya kenapa terjadi peristiwa itu,” kata dia.
Sosok yang juga akademisi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi itu menekankan kepada para peserta, agar jangan sampai pulang dari acara peringatan hari besar nasional, termasuk Harkitnas, tetapi tidak ada bedanya.
“Tidak ada sesuatu yang berbeda atau berubah dari kita. Tetap menjalankan rutinitas seperti hari-hari sebelumnya,” sorotnya.
Yang memprihatinkan, lanjut pria yang akrab disapa Pak Gik itu, media yang menjadi ruang spirit itu kini sulit dijumpai. Menurutnya, saat ini justru semakin banyak platform media sosial (medsos) yang menampilkan kondisi bertolak belakang, seperti pro dan kontra atau senang dan tidak senang.
“Ini yang membahayakan kalau kita berbicara kelangsungan daripada berbangsa dan bernegara,” tegas Sugihartoyo.
Menurutnya, hal yang ditakutkan adalah situasi bertolak belakang itu justru dipelihara, bahkan menjadi spirit. Saat ini, media sosial selalu dihiasi beragam komentar pro dan kontra, karena spirit kebangsaan dinilainya sudah hilang. Sementara itu, media adalah sarana yang paling mudah mengubah pikiran orang.
“Kalau media sosial seperti sekarang ini, selalu berisi pro dan kontra, tetapi dijadikan acuan tanpa kita validasi, tanpa kita klarifikasi, bahkan tanpa kita edit, bagaimana jadinya?” sorotnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa momentum kebangkitan nasional sangat penting untuk membangun nasionalisme, sehingga diperlukan persatuan dan kesatuan untuk membentuk negara bangsa.
“Jika tema Harkitnas berkaitan dengan pendidikan bermutu, kalau kita tidak segera membentuk SDM yang unggul dan berkompeten, maka kita akan mudah diadu domba dan akhirnya pro dan kontra,” tandasnya.
Paparan Sugihartoyo tersebut menjadi pemantik dalam sarasehan Harkitnas yang diikuti oleh puluhan tokoh masyarakat dari berbagai unsur tersebut, termasuk kalangan pendidikan.
Drs Sucahyo Pinardi MPd menyoroti tema Harkitnas dari sisi mewujudkan pendidikan bermutu. Menurut dosen itu, pendidikan di sekolah pasca era Covid-19 bukan lagi unsur mendidik, melainkan mengajar.
“Di era digital ini, siswa lebih suka belajar secara digital daripada belajar kepada guru,” kata guru SMA yang baru saja pensiun itu.
Sucahyo menambahkan, perlu rekomendasi adanya sebuah tranformasi pendidikan. Boleh digital, tetapi pendekatannya tetap inklusif dan mendidik.
“Pendidikan transformatif mengurangi bullying terhadap guru, karena guru bisa mendidik secara terukur dan terarah,” kata pria yang juga seorang seniman yang membidangi Komite Seni Musik di Dewan Kesenian Blambangan itu.
Sucahyo merekomendasikan pendidikan karakter kepada siswa dengan melibatkan pelaku sejarah. Rekomendasi penguatan karakter diberikan kepada siswa sejak masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) itu disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi dan Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur di Banyuwangi.
“Harapannya nanti anak-anak didik kita akan berkualitas dan memiliki wawasan kebangsaan, tentunya ini dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat dan sekolah,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua DHC BPK 45 Kabupaten Banyuwangi Akhmad Touwil Firdaus SE MSi mengatakan bahwa peringatan Harkitnas merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Selain mengikuti upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Wisma Raga Satria Banyuwangi, DHC BPK 45 selalu mengadakan sarasehan memperingati Harkitnas.
“Momentum peringatan Harkitnas selalu kami manfaatkan untuk menggelar sarasehan sebagai bentuk refleksi dari perjalanan panjang sejarah bangsa kita menuju terbentuknya sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata dia.














