Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Naik 7% Lebih

Wilayah Selat Hormuz menjadi jalur distribusi lebih dari 20% minyak dunia. (Ilustrasi: Ubay NA)

MAKLUMAT — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Dampaknya langsung terasa pada jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang terganggu, memicu lonjakan harga minyak dunia.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan dua kapal terkena serangan, sementara sebuah “proyektil tak dikenal” dilaporkan “meledak sangat dekat” dengan kapal ketiga. Awak kapal dikabarkan selamat.

Dikutip dari BBC, Iran sebelumnya dilaporkan telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi selat tersebut. Jalur ini diketahui dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan keamanan berdampak langsung pada pasar energi global.

UKMTO juga melaporkan “beberapa insiden keamanan” di Teluk Arab dan Teluk Oman serta mengimbau kapal-kapal untuk melintas dengan hati-hati. Sedikitnya 150 kapal tanker dilaporkan berlabuh di perairan teluk di luar Selat Hormuz.

Menurut platform pelacakan kapal Kpler, beberapa kapal Iran dan China masih melintas, namun secara umum lalu lintas pelayaran terganggu. “Karena ancaman Iran, selat tersebut secara efektif tertutup,” kata Homayoun Falakshahi dari Kpler, dikutip dari BBC, Senin (2/3/2026).

Baca Juga  Mojtaba Khamenei Minta Negara-negara di Kawasan Mengklarifikasi Posisi dan Tutup Pangkalan AS!

“Kapal-kapal telah mengambil tindakan pencegahan untuk tidak masuk karena risikonya terlalu tinggi dan biaya asuransi mereka telah meroket.”

Harga Minyak Dunia Mulai Melonjak

Pada perdagangan Asia, Senin pagi, minyak mentah Brent naik lebih dari 7 persen menjadi 78,25 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS meningkat 7,3 persen menjadi 71,93 dolar AS per barel.

“Pasar tidak panik,” kata Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Research kepada BBC.

“Pasar akan mengamati tanda-tanda bahwa lalu lintas melalui Selat Hormuz kembali normal, yang akan menyebabkan harga minyak kembali turun,” tambahnya.

Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan harga minyak bisa melampaui 100 dolar AS per barel jika konflik berkepanjangan.

Kelompok produsen minyak OPEC+ yang beranggotakan negara-negara seperti Arab Saudi dan Rusia sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari. Langkah ini diambil untuk meredam kenaikan harga, meski efektivitasnya masih diragukan.

Edmund King, presiden AA, memperingatkan dampak lebih luas terhadap distribusi energi global. “Kekacauan dan pemboman di Timur Tengah pasti akan menjadi katalis untuk mengganggu distribusi minyak secara global, yang pasti akan menyebabkan kenaikan harga,” katanya.

Baca Juga  Iran Tuntut 3 Syarat Ini Jika Ingin Perang Berakhir

“Besarnya dan lamanya kenaikan harga minyak bergantung pada berapa lama konflik berlangsung.”

Klaim IRGC dan Pengalihan Rute Pelayaran

Dilansir dari Middle East Eye, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyebut sebanyak tiga kapal tanker dari Inggris dan AS telah “terkena rudal dan terbakar”. Hingga kini, Inggris dan AS belum memberikan komentar resmi.

IRGC menyatakan telah menutup jalur vital perdagangan minyak dunia tersebut menyusul serangan yang diklaim menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.

“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ungkap Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari.

Perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech menyebut insiden tersebut melibatkan kapal berbendera Gibraltar, Palau, Kepulauan Marshall, dan Liberia.

Sementara itu, grup pelayaran kontainer asal Denmark, Maersk, menyatakan menghentikan pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez, serta mengalihkan rute kapal melalui Tanjung Harapan.

Ketegangan memuncak setelah serangan AS-Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu. Peristiwa itu memicu serangan balasan Iran terhadap sejumlah wilayah di Timur Tengah, termasuk Dubai di Uni Emirat Arab, Doha di Qatar, serta wilayah Bahrain dan Kuwait.

Baca Juga  Hamas Terima Proposal Damai Trump, Muhammadiyah Jatim Dukung Upaya Akhiri Perang Gaza

Pemerintah RI Pantau Dampak

Sementara itu, dari Indonesia, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi naik apabila eskalasi perang terus memanas.

“Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraine kan naik,” ujar Airlangga kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Meski demikian, ia menilai lonjakan harga masih dapat ditekan apabila pasokan meningkat. “Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” kata dia.

Terkait langkah antisipasi pemerintah, Airlangga menyatakan masih memantau perkembangan sebelum mengambil kebijakan lanjutan. “Nanti kita monitor dulu,” katanya.