MAKLUMAT — Cendekiawan Melbourne University, Prof Nadirsyah Hosen menanggapi berbagai unggahan di media sosial akhir-akhir ini yang mengaitkan konflik Israel–Amerika melawan Iran dengan sebuah hadis dari Shahih Muslim.
Hadis yang sering dikutip itu menyatakan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan tayalisah (sejenis jubah atau selendang)”.
Sebagian orang kemudian menyimpulkan bahwa tidak perlu heran dengan perang yang terjadi saat ini, karena kelak Yahudi dan Syiah akan bersatu menjadi musuh Islam.
“Hadis ini memang sahih dan termasuk hadis eskatologis, yaitu hadis yang berbicara tentang fitnah akhir zaman. Masalahnya bukan pada hadisnya. Masalahnya pada narasi yang dibangun di sekeliling hadis ini,” ujar pria yang akrab disapa Gus Nadir itu, melansir akun X pribadinya @na_dirs pada Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa jika hadis itu dibaca dengan teliti, narasi tentang Syiah tidak terdapat di dalamnya. Nabi Muhammad Saw tidak pernah menyebut kata Syiah. Hadis tersebut hanya menyebut “Yahudi dari Isfahan”.
Adapun Isfahan saat ini memang berada di wilayah Iran dan mayoritas penduduk Iran modern bermazhab Syiah. Namun menyimpulkan bahwa hadis itu merujuk pada Syiah adalah lompatan logika yang terlalu jauh.
Menurutnya, penyebutan Isfahan dalam hadis itu bersifat geografis, bukan ideologis atau mazhab. “Siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah tertentu akan tetap berada di bawah identitas mazhab yang sama hingga akhir zaman?” ujarnya.
Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa wilayah, bangsa, dan mazhab dapat berubah berkali-kali. Sehingga menjadikan hadis tersebut sebagai bukti adanya “koalisi Yahudi–Syiah” jelas bukan berasal dari teks hadis itu sendiri, melainkan dari cara penafsiran manusia terhadapnya.
Hadis dan Nama Bangsa
Gus Nadir menjelaskan bahwa hadis tidak selalu menyebut nama bangsa secara eksplisit dan mencontohkan bahwa dalam hadis lain tentang akhir zaman disebutkan pengikut Dajjal memiliki wajah yang digambarkan seperti perisai yang dipukul.
“Sebagian ulama klasik mencoba memahami deskripsi ini. Misalnya Ibn Kathir berpendapat bahwa kemungkinan yang dimaksud adalah bangsa Turk. Tetapi penting dicatat, Nabi tidak pernah menyebut kata ‘Turk’ dalam hadis itu,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa hal itu merupakan interpretasi para ulama, bukan teks hadis. Istilah Turk dalam literatur klasik bukan merujuk pada negara Turki modern, melainkan pada bangsa-bangsa Turkic di Asia Tengah, yaitu suku-suku nomadik yang hidup di wilayah luas seperti Turkestan dan Transoxiana.
“Ini menunjukkan satu hal penting, tafsir ulama selalu terkait dengan konteks zaman mereka. Nama wilayah dalam hadis tidak sama dengan peta politik modern,” imbuhnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa hadis-hadis mengenai akhir zaman juga sering menyebut nama wilayah seperti Khurasan, Syam, maupun Rum. Khurasan adalah wilayah luas di Asia Tengah dan Timur Persia pada masa klasik, mencakup sebagian besar Iran timur laut, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan.
Syam adalah wilayah yang dulu meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon. Sedangkan Rum merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
“Semua istilah ini adalah geografi dunia klasik, bukan batas negara modern seperti yang kita kenal hari ini. Batas wilayah dalam sejarah bisa berubah berkali-kali. Dan bisa saja berubah lagi di masa depan,” tegasnya.
Karena itu menurutnya, membaca hadis-hadis ini dengan peta politik hari ini sering kali justru menyesatkan. Ia menegaskan bahwa berbahaya jika membaca hadis untuk membenarkan asumsi pribadi.
Pesan Nabi dan Opini Pribadi
Menurut Gus Nadir, masalah terbesar hari ini muncul ketika hadis tidak lagi dibaca untuk memahami pesan Nabi, tetapi dipakai untuk menguatkan asumsi dan opini yang sudah dimiliki sebelumnya.
“Kita berkata, ‘lihat, Nabi sudah mengabarkan ini sejak dulu’. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah kita memasukkan asumsi dan opini kita ke dalam hadis, lalu mengklaim bahwa itu berasal dari Nabi,” jelasnya.
Menurutnya, hal yang lebih parah dari asumsi semacam itu adalah dapat memunculkan kebencian terhadap mazhab atau kelompok tertentu. Ia menegaskan bahwa cara seperti itu bukanlah metode yang sehat untuk membaca hadis.
Ia memaparkan bahwa pesan hadis akhir zaman sebenarnya sederhana. Hadis-hadis tentang Dajjal tidak diturunkan untuk membuat manusia sibuk menebak-nebak geopolitik masa depan.
Melainkan bertujuan memperingatkan tentang fitnah besar, menegaskan pentingnya iman dan ilmu, serta mengingatkan agar manusia tidak mudah tertipu oleh kekuatan dan propaganda. Itulah sebabnya Nabi Muhammad Saw menganjurkan umatnya membaca QS Al-Kahfi untuk menghadapi fitnah Dajjal.
“Karena itu para ustaz, dai, dan tokoh yang gemar membahas hadis-hadis akhir zaman perlu lebih berhati-hati dalam menjelaskannya. Hadis tidak boleh dijadikan alat untuk menyudutkan kelompok tertentu, memanaskan konflik sektarian, atau secara tidak sadar membenarkan pelanggaran kemanusiaan,” jelasnya.













