Perang Timur Tengah Mengancam IFEX 2026? Ini Penjelasan Ketum HIMKI

IFEX 2026-Ketum-HIMKI

MAKLUMAT — Ketua Umum DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi lalu lintas pengunjung pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX 2026).

Menurutnya, dampak yang mungkin terjadi terutama berkaitan dengan mobilitas perjalanan internasional para buyer yang umumnya transit melalui kawasan Timur Tengah.

“Traffic pengunjung mungkin ada pengaruh. Karena jaringan perjalanan dunia rata-rata transit lewat Timur Tengah, seperti Qatar dan Dubai,” kata Abdul Sobur dalam konferensi pers IFEX 2026 di ICE BSD, Serpong, Tangerang, Kamis (6/3/2026).

Meski demikian, hingga saat ini panitia belum menerima laporan pembatalan kehadiran dari pengunjung maupun pembeli internasional. “Belum ada laporan. Sampai hari ini belum terlihat ada yang membatalkan,” ujarnya.

Sobur menjelaskan, jika terjadi pembatalan, biasanya buyer langsung menyampaikannya kepada mitra atau exhibitor yang telah terhubung dengan mereka.

“Para buyer biasanya sudah terhubung dengan exhibitor. Jika ada pembatalan, mereka menyampaikannya langsung kepada mereka. Sementara registrasi yang kami pegang tetap atas nama mereka,” kata Sobur.

Ia menambahkan, panitia masih memantau perkembangan situasi global untuk melihat apakah konflik tersebut akan berdampak lebih jauh terhadap arus pengunjung IFEX 2026.

Baca Juga  Tarif AS Tekan Industri Furnitur, Pemerintah Andalkan Skema Kredit Industri Padat Karya

Logistik Ekspor Berpotensi Naik

Konflik di Timur Tengah juga mulai berdampak pada logistik ekspor furnitur Indonesia. Biaya pengiriman bahkan berpotensi meningkat hingga dua kali lipat jika jalur pelayaran terganggu.

“Ketika Selat Hormuz ditutup, mau tidak mau pilihannya ke mana lagi. Biayanya pasti akan sangat mahal, bisa naik mungkin dua kali lipat. Namun, kita berharap perang ini segera berakhir,” tutur Sobur melansir Detik Properti.

Meski demikian, pasar ekspor furnitur anggota HIMKI ke kawasan Timur Tengah relatif kecil sehingga dampaknya dinilai tidak terlalu signifikan.

“Jika Timur Tengah bergolak, secara agregat sebenarnya tidak terlalu berpengaruh karena hanya sekitar 4 persen,” ujarnya.

Pemerintah Soroti Tantangan Industri

Pemerintah juga menyoroti sejumlah tantangan yang tengah dihadapi industri furnitur nasional di tengah situasi geopolitik global.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan salah satu tantangan utama adalah terhambatnya logistik pengiriman ekspor akibat kondisi geopolitik yang sedang berlangsung.

“Kedua, isu kebijakan kelestarian lingkungan di negara tujuan ekspor, misalnya The European Union Deforestation Regulation (EUDR). Ketiga, meningkatnya impor furnitur, terutama furnitur logam dan plastik. Keempat, isu keamanan dalam berinvestasi,” ujar Putu.

Baca Juga  Iran Bisa Targetkan Desalinasi Teluk, Dampaknya Lebih Dahsyat Ketimbang Kilang Minyak

Saat ditemui seusai acara, Putu menjelaskan dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai terasa pada sektor logistik ekspor. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan industri furnitur, tetapi juga industri agro serta industri makanan dan minuman.

Ia mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan situasi untuk melihat apakah konflik tersebut akan memengaruhi ekspor furnitur Indonesia ke kawasan Timur Tengah.

“Di Kementerian Perindustrian sudah beberapa kali dilakukan pertemuan untuk membahas langkah mitigasi. Namun, kita masih melihat perkembangan situasinya terlebih dahulu,” ujarnya kepada awak media.

Menurut Putu, kawasan Timur Tengah selama ini menjadi pasar berkembang (emerging market) bagi ekspor furnitur Indonesia. Namun, kondisi geopolitik yang tidak stabil mendorong pelaku industri mencari alternatif pasar baru.

“Kami sedang intens menjajaki pasar India. Selain itu, ada juga upaya untuk masuk ke Afrika, meskipun itu masih memerlukan waktu. Untuk saat ini, yang paling potensial adalah India dan negara-negara ASEAN,” ungkapnya.

Pemerintah juga mendorong transformasi industri furnitur nasional agar tidak hanya bergantung pada volume produksi, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah melalui desain, kenyamanan, dan fitur tambahan produk.

“Kami sudah sepakat dengan pelaku usaha bahwa industri furnitur tidak hanya berbasis volume, tetapi juga nilai tambah, seperti desain, kenyamanan, dan fitur-fitur tambahan,” tutupnya.

Baca Juga  Ketum HIMKI Abdul Sobur: Industri Furnitur Nasional Harus Bangun Ekosistem Kuat untuk Dongkrak Ekspor

Sebagai informasi, IFEX 2026 merupakan edisi satu dekade pameran furnitur dan kerajinan terbesar di Indonesia yang berlangsung pada 5–8 Maret 2026 di ICE BSD City, Tangerang.

Menempati area seluas 85.000 meter persegi, ajang kolaborasi Dyandra Promosindo dan HIMKI ini menghadirkan lebih dari 500 eksibitor dengan target transaksi ekspor mencapai US$1 miliar.

Pameran ini mengalokasikan tiga hari pertama bagi pembeli profesional (B2B) dan membuka akses bagi masyarakat umum pada hari terakhir.***