MAKLUMAT — SD Muhammadiyah 24 Surabaya menyemarakkan kegiatan Ramadan 1447 Hijriah dengan berkisah sosok tokoh-tokoh inspiratif dalam kegiatan Darul Arqam, Rabu (4/3/2026). Sosok KH Ahmad Dahlan diangkat, figur yang tentu sudah tidak asing lagi di masyarakat.
Mengundang Muslimah Story Teller Activist, Ummu Choiriyah Scholichah alias Kak Icha untuk membawakan kisah sang pendiri Muhammadiyah tersebut, cerita dikemas dengan bahasa komunikatif dan penuh semangat. Para siswa antusias mengikuti setiap alur kisah yang disampaikan, didukung adanya media peraga yang bernama Alya, sehingga suasana Darul Arqam tampak menggembirakan.
Sebelum cerita dimulai, Kak Icha memberikan pengantar menarik untuk menarik perhatian anak-anak. Dimulai dengan adegan mencari keberadaan Alya, hingga ragam pertanyaan pemantik yang relevan dengan kisah yang akan disampaikan.
“Tahukah kalian, siapa nama ayah dari KH Ahmad Dahlan..?” tanya dia.
Awal kisah KH Ahmad Dahlan dibuka dengan suara tangisan bayi yang keras. Situasi ini didukung dengan peraga Alya, posisi membuka mulut yang lebar. Tampak sorot mata hampir seluruh siswa tertuju pada Alya.
Kisah berlanjut, Kak Icha menyampaikan seluruh perjalanan hidup Ahmad Dahlan muda, hingga berdirinya organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912. Perjuangan itu penuh dinamika rintangan, dimulai dari keyakinan yang berbanding terbalik dengan ajaran Islam seperti menyakini pohon yang dianggap keramat, pemberian sesajen di beberapa tempat yang diangap sebagai pengusir roh halus, dan lainnya.
Berlanjut, ia mengisahkan pelajaran yang didapatkan Ahmad Dahlan hingga ke Makkah, di mana ia banyak belajar tentang pembaharuan di sana dengan beberapa tokoh Islam. Inilah menjadi cikal bakal gerakan tajdid yang diusung oleh Ahmad Dahlan, dimulai dari pendidikan modern.
Pendidikan yang diusung KH Ahmad Dahlan, kata dia, seperti SD Muhammadiyah 24 Surabaya ini. Pendekatan story telling yang menarik tersebut memudahkan siswa dengan rentang usia 8-9 tahun memahami materi yang disampaikan.
“Kita lihat sekarang, adanya SD Muhammadiyah 24 Surabaya juga menjadi bagian dari gerakan pembaharuan KH Ahmad Dahlan, begitu juga adanya Rumah Sakit, Panti Asuhan, dan lainnya” kata Kak Icha.
Mengisahkan sosok inspiratif seperti KH Ahmad Dahlan diharapkan tidak hanya sebatas cerita yang didengar saja, melainkan mengetahui nilai teladan perjuangannya, pantang penyerah, teguh pendirian, kejujuran, yang semua itu membawa pada nilai kebaikan dan tegaknya kebenaran, meski lingkungan tidak mendukung, banyak penolakan hingga disebut sebagai kiai kafir.
Kisah tersebutlah yang juga mengajarkan arti berjuang dan motivasi tidak semuda kata, tapi dengan ilmu dan iman yang kuat berlandaskan Al-Quran dan sunah menjadi pondasi utama sebagai wajah generasi dengan karakter islam yang berkemajuan.














