Hening Parlan: Iman Harus Hadir dalam Tanggung Jawab Ekologis

MAKLUMAT — Ramadan sering dipahami sebagai waktu memperdalam ibadah personal. Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan mengingatkan bahwa dimensi spiritual juga berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Pesan itu disampaikan dalam acara buka puasa lintas iman yang membahas hubungan antara praktik keagamaan dan kesadaran ekologis di Jakarta.

“Iman sering dimaknai hanya sebagai hubungan dengan Tuhan. Padahal iman juga hadir dalam hubungan dengan manusia dan alam,” kata Hening Parlan dalam kegiatan bertajuk Dari Meja Buka Menjaga Bumi Kita di Aula Gedung Dakwah Pusat Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).

Acara yang diselenggarakan Eco Bhinneka Muhammadiyah itu dihadiri lebih dari 150 peserta dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta perwakilan komunitas lintas iman dan kepercayaan. Sejumlah lembaga yang terlibat antara lain Pusat Fasilitasi Kerja Sama Kementerian Dalam Negeri, WWF Indonesia, Kolese Kanisius, Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), serta perwakilan Kedutaan Besar Malaysia.

Hening menyatakan kerusakan lingkungan dan bencana ekologis yang semakin sering terjadi memperlihatkan bahwa persoalan alam tidak terpisah dari kehidupan sosial dan keagamaan. Menurut dia, ruang kerja sama lintas iman diperlukan agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi agenda bersama.

Baca Juga  Prof. Syafiq A. Mughni dan Tokoh Agama Dorong Kepedulian Ekologis

“Jika hubungan dengan alam rusak, maka hubungan manusia dengan sesama dan dengan Tuhan juga terganggu,” ujarnya.

Dalam dialog Ramadan yang dipandu Ahsan Jamet Hamidi, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Guru Besar Filantropi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Hilman Latief menyoroti rendahnya perhatian publik terhadap isu perubahan iklim. Ia menilai persoalan tersebut sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari.

“Perubahan iklim sering dipandang sebagai isu yang elit dan elitis, padahal dampaknya sangat nyata bagi kehidupan manusia,” kata Hilman.

Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi energi terbarukan, termasuk kendaraan listrik dan kebutuhan baterai, menunjukkan adanya perubahan besar dalam sistem energi global. Menurut dia, literasi lingkungan perlu diperluas agar masyarakat memahami hubungan antara kebijakan energi dan keberlanjutan lingkungan.

Perwakilan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat, Pdt. Samuel A.Z. Karinda, menyampaikan bahwa gereja juga mengembangkan gerakan Eco Church sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan terhadap lingkungan. Ia mencontohkan dampak banjir yang pernah memengaruhi sejumlah gereja di wilayah Sibolga hingga Medan.

“Kalau bicara lingkungan, orang kaya dan miskin bisa bersatu,” kata Samuel.

Dari kalangan pendidikan Katolik, Romo Buddy Haryadi dari Kolese Kanisius menjelaskan bahwa pendidikan lingkungan mulai menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah. Ia merujuk pada ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus sebagai dasar etika ekologis dalam pendidikan Katolik.

Baca Juga  Dari Dimensi Spiritual hingga Sosial, Zakat sebagai Upaya dan Solusi Pengentasan Kemiskinan

“Sekarang ada anak muda yang mengaku bersalah karena membuang sampah plastik. Artinya kesadaran ekologis mulai tumbuh,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia, Is Werdiningsih, menyampaikan pengalaman mendorong ketahanan pangan keluarga selama masa pandemi melalui kegiatan menanam sayuran di rumah. Sementara perwakilan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, Aldi Destian Satya, mengatakan isu lingkungan juga disampaikan dalam dakwah kepada umat.

“Kami menginstruksikan para rohaniwan untuk memasukkan isu lingkungan dalam dakwah mereka,” kata Aldi.

Acara tersebut juga diisi penampilan paduan suara Laetitia Disability Choir dari Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta dan pertunjukan tari siswa School of Talent SMP Muhammadiyah 8 Jakarta. Eco Bhinneka Muhammadiyah turut membagikan Majalah Suara Muhammadiyah edisi “Bersama Selamatkan Bumi” kepada para peserta.