Sri Fatmawati, Ilmuwan ITS yang Membawa Riset Biodiversitas Indonesia ke Panggung Dunia

Sri Fatmawati, dosen Departemen Kimia ITS dan ISC Fellow 2026.

MAKLUMAT – Kekayaan biodiversitas Indonesia menyimpan potensi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan. Bagi Sri Fatmawati, S.Si., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), potensi tersebut bukan sekadar kekayaan alam, melainkan sumber pengetahuan yang perlu diteliti, dibuktikan secara ilmiah, dan dikembangkan agar bermanfaat bagi masyarakat.

Komitmen itu mengantarkannya terpilih sebagai International Science Council (ISC) Fellow 2026. Pengakuan internasional tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Sri Fatmawati dalam mengembangkan penelitian bahan alam, senyawa bioaktif, pengobatan tradisional, dan kimia medisinal.

Perempuan yang akrab disapa Fatma itu meyakini bahwa penelitian yang berangkat dari kekayaan lokal tetap dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan sains dunia.

“Kita tidak harus meninggalkan akar lokal untuk menjadi relevan secara global,” tegasnya.

Mengolah Kekayaan Alam Menjadi Pengetahuan Ilmiah

Perjalanan riset Fatma berangkat dari ketertarikannya terhadap potensi biodiversitas Indonesia. Kekayaan hayati yang tersebar di berbagai wilayah menyimpan peluang untuk dikaji, termasuk dalam pencarian senyawa bioaktif dan pengembangan bahan alam untuk berbagai kebutuhan.

Melalui penelitian di bidang bahan alam, senyawa bioaktif, pengobatan tradisional, dan kimia medisinal, Fatma berupaya menjembatani pengetahuan tradisional dengan pendekatan ilmiah modern.

Upaya tersebut menghasilkan publikasi internasional dan berbagai kekayaan intelektual. Namun, bagi Fatma, keberhasilan penelitian tidak cukup diukur melalui jumlah publikasi atau pengakuan akademik.

Baca Juga  Dorong Riset Unggulan Berbasis Potensi Lokal, Wamen Stella Christie Sambangi UM Kendari

“Keberhasilan riset tidak cuma diukur lewat publikasi, tetapi pada manfaatnya bagi masyarakat,” ungkap perempuan kelahiran 1980 tersebut.

Pandangan itu menempatkan manfaat sosial sebagai salah satu orientasi penting penelitian. Kekayaan alam dan pengetahuan tradisional, menurut semangat riset yang ia tekuni, perlu dikembangkan melalui penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dengan pendekatan tersebut, penelitian biodiversitas tidak berhenti pada pengumpulan pengetahuan. Riset juga berpotensi membuka jalan bagi inovasi dan pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Pengakuan Internasional atas Kontribusi Sains

Terpilihnya Fatma sebagai ISC Fellow 2026 menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam bidang sains. International Science Council atau Dewan Sains Internasional merupakan organisasi global yang menghimpun organisasi ilmiah dari berbagai negara.

ISC Fellowship memberikan pengakuan kepada ilmuwan dan insinyur atas kontribusi mereka dalam memajukan sains serta memperkuat hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Bagi Fatma, pencapaian tersebut bukan hanya capaian personal. Pengakuan itu juga membuka peluang untuk memperluas kolaborasi penelitian dan memperkenalkan perspektif ilmuwan Indonesia dalam jejaring sains internasional.

Ia berharap keterlibatannya dalam ISC Fellowship dapat mendorong kerja sama lintas negara, pertukaran peneliti dan mahasiswa, serta pengembangan proyek riset bersama.

Baca Juga  Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dorong Penguatan Kolaborasi Pendidikan dan Riset dengan Jepang

“Saya berharap semakin banyak ilmuwan kita hadir untuk memberikan perspektif dan andil dalam sains global,” harap alumnus program doktoral Kyushu University, Jepang, tersebut.

Harapan itu sekaligus menegaskan pentingnya kehadiran ilmuwan Indonesia dalam percakapan sains dunia. Kekayaan biodiversitas Indonesia dapat menjadi salah satu kontribusi penting apabila dikembangkan melalui penelitian yang kuat, kolaborasi terbuka, dan orientasi pada kebutuhan masyarakat.

Memperluas Kolaborasi Riset Biodiversitas

Selain mengajar dan meneliti di Departemen Kimia ITS, Fatma juga disebut menjabat sebagai Direktur Indonesian Herbal and Horticultural Science Technology Park (TSTH2).

Dalam peran tersebut, ia melihat peluang untuk memperluas penelitian dan kolaborasi di bidang biodiversitas, genomik, metabolomik, serta pengembangan produk herbal dan hortikultura.

Bidang-bidang tersebut membuka ruang bagi pendekatan lintas disiplin untuk memahami potensi sumber daya hayati secara lebih mendalam. Penelitian genomik dan metabolomik, misalnya, dapat membantu mengungkap karakteristik biologis serta kandungan senyawa pada bahan alam yang menjadi objek penelitian.

Kolaborasi juga menjadi penting untuk memperkuat kapasitas peneliti muda. Melalui pertukaran pengetahuan, jejaring akademik, dan proyek bersama, generasi ilmuwan berikutnya diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk berkontribusi dalam penelitian bertaraf internasional.

Baca Juga  ITS Siapkan Penanganan Lanjutan Gempa NTT di 5 Kabupaten

Bagi Indonesia, pengembangan riset biodiversitas bukan hanya persoalan menghasilkan publikasi ilmiah. Tantangan berikutnya adalah membangun ekosistem penelitian yang mampu menghubungkan pengetahuan, inovasi, dan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Sains yang Berakar pada Kemanusiaan

Perjalanan Fatma memperlihatkan bagaimana penelitian yang berangkat dari potensi lokal dapat terhubung dengan agenda sains global. Baginya, ilmu pengetahuan bukan semata-mata tentang kemajuan teknologi atau pencapaian akademik, melainkan juga tentang manfaat dan kemampuan manusia untuk berkembang bersama.

Prinsip Science is a way of humanity yang ia pegang mencerminkan pandangan tersebut. Sains perlu membuka ruang kolaborasi, memperluas pengetahuan, dan menghadirkan manfaat yang melampaui batas institusi maupun negara.

Terpilihnya Fatma sebagai ISC Fellow 2026 diharapkan memperkuat peluang ITS untuk membangun jejaring penelitian internasional. Namun, dampak yang lebih luas akan ditentukan oleh sejauh mana pengakuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kolaborasi nyata, peningkatan kapasitas peneliti, dan pengembangan riset yang bermanfaat.

Dari biodiversitas Indonesia menuju forum sains dunia, perjalanan Fatma mengingatkan bahwa kekayaan lokal dapat menjadi sumber kontribusi global ketika ditopang penelitian yang konsisten, kolaborasi, dan keberpihakan pada kemaslahatan manusia.***