Gusti Nurul, Kebaya, dan Pilihan Meninggalkan Kehidupan Bangsawan

kebaya

MAKLUMAT — Kebaya dan kain batik milik Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau Gusti Nurul menjadi bagian dari pameran Waves of Weave di Museum Nasional, Jakarta, pada 26 Oktober 2026 hingga 8 Januari 2027.

Koleksi tersebut mengajak pengunjung mengenal perjalanan seorang perempuan bangsawan Jawa yang memilih menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa. Gusti Nurul merupakan putri bangsawan dari Pura Mangkunegaran yang dikenal dengan julukan “Bunga Mangkunegaran”.

Melansir laman resmi Kementerian Pariwisata RI, Gusti Nurul adalah sosok yang dikenang karena kecantikan, kecerdasan, dan prinsip hidupnya yang mandiri. Kebaya, kain panjang batik, serta aksesori yang dikenakannya dalam keseharian maupun acara resmi merekam identitasnya sebagai perempuan bangsawan Jawa pada masanya.

Koleksi pribadi Gusti Nurul pun membuat pameran ini menghadirkan cerita tentang busana yang memiliki makna lebih luas daripada sekadar pakaian. Kebaya dan batik yang dikenakannya memperlihatkan hubungan antara tradisi keraton, identitas perempuan, dan kedudukan sosial dalam masyarakat Jawa.

Perjalanan hidup Gusti Nurul juga memperlihatkan perubahan dalam hubungannya dengan status kebangsawanan. Setelah menikah dengan perwira militer R.M. Soerjo Soejarso, ia memilih meninggalkan status tersebut dan menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa. Pilihan itu menjadi salah satu pokok refleksi dalam bagian pameran bertajuk Suwung.

Baca Juga  Kartini: Perempuan Tak Perlu Kebaya, Tapi Wajib Berdaya

Dalam filosofi Jawa, suwung merujuk pada keadaan batin yang terbebas dari ego, hawa nafsu, dan keterikatan duniawi, tetapi tetap hadir dengan kesadaran diri. Konsep tersebut menjadi landasan kuratorial untuk membaca perjalanan Gusti Nurul, terutama ketika seseorang menimbang kembali arti kedudukan dan menentukan jalan hidupnya.

“Melalui kisah Gusti Nurul dan koleksi busana yang menyertainya, pameran ini menjadi ruang refleksi tentang hubungan antara busana, identitas perempuan, tradisi keraton, dan perubahan zaman, sekaligus tentang kebebasan untuk menentukan jalan hidup dengan kesadaran penuh,” demikian keterangan kuratorial Waves of Weave.

Pameran ini dikurasi oleh Asisten Kurator Museum Tekstil Jakarta, Benny Gratha. Secara keseluruhan, Waves of Weave menampilkan 42 koleksi kebaya, wastra tradisional, dan aksesori yang dihimpun melalui kolaborasi dengan kolektor pribadi serta sejumlah institusi. Koleksi Gusti Nurul berasal dari keluarga dan Atilah Soeryadjaya.

Selain kisah Gusti Nurul, pameran ini menampilkan kebaya dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kelima negara tersebut mengajukan kebaya secara bersama-sama hingga UNESCO menginskripsikan tradisi kebaya ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2024.

Ruang pameran lainnya menghadirkan wastra dari 10 negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Kamboja, Timor-Leste, Thailand, Laos, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Brunei Darussalam. Koleksi tersebut memperlihatkan keragaman teknik pembuatan tekstil, keterampilan perajin, serta pertukaran budaya yang membentuk tradisi wastra di kawasan.

Baca Juga  Pariwisata Indonesia Tumbuh di Tengah Rentetan Bencana, 4.132 Penerbangan Terdampak

Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, pameran ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk mengenal warisan tekstil dan menjaga keberlangsungannya. Kolaborasi lintas negara juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami hubungan budaya di Asia Tenggara melalui tradisi busana.

“Inisiatif SEAWAVES menunjukkan peran penting budaya dalam mempererat hubungan antarnegara. Dengan mempertemukan kedutaan besar, desainer, lembaga pelestarian warisan budaya, kolektor, dan komunitas budaya, mode turut memperkuat cara Asia Tenggara memandang identitas kawasannya sendiri, sekaligus bagaimana kawasan ini dikenal dan dipandang oleh dunia,” ujar Widiyanti.

Pameran Waves of Weave dibuka untuk umum di Museum Nasional, Jakarta, pada Selasa hingga Ahad, pukul 08.00–17.00 WIB. Pengunjung dapat melihat koleksi tersebut hingga 8 Januari 2027 dengan harga tiket masuk Rp50.000.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki