MAKLUMAT — Pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia hingga Juli 2026 berlangsung di tengah sejumlah bencana yang berdampak terhadap destinasi, penerbangan, dan aktivitas wisata masyarakat. Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk menjaga pergerakan wisatawan sekaligus memastikan keselamatan di kawasan terdampak.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bencana yang terjadi di sejumlah daerah menjadi pengingat bahwa ketahanan harus menjadi bagian dari pembangunan pariwisata.
“Bencana dan musibah yang terjadi ini, mengingatkan kita bahwa, ketahanan harus menjadi bagian dari pembangunan pariwisata Indonesia,” tuturnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (11/9/2026).
Salah satu dampak terbesar terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang berpengaruh terhadap wilayah Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Peristiwa tersebut berdampak pada pembatalan 4.132 penerbangan yang membawa sekitar 450 ribu penumpang.
Kementerian Pariwisata kemudian mengimbau online travel agent dan biro perjalanan memberlakukan kondisi force majeure. Kebijakan tersebut diarahkan agar penumpang dapat memperoleh pengembalian biaya tiket secara penuh serta melakukan penjadwalan ulang tanpa tambahan biaya.
Di kawasan Bromo-Tengger-Semeru, kebakaran hutan sempat menyebabkan aktivitas wisata ditutup. Kementerian Pariwisata berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan sebagai pengelola kawasan untuk memastikan informasi mengenai kondisi destinasi sampai kepada wisatawan, termasuk informasi mengenai refund dan rescheduling.
“Bagi kami, pembukaan kembali destinasi harus selalu mempertimbangkan kesiapan kawasan dan keselamatan wisatawan,” ujar Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.
Kawasan Bromo kemudian kembali dibuka setelah penanganan dilakukan. Pemerintah juga mendorong penguatan mitigasi kebakaran dan pengelolaan risiko, terutama pada musim kering.
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo juga berdampak terhadap sektor pariwisata di wilayah Labuan Bajo dan Flores. Sejumlah destinasi sempat ditutup, sementara beberapa fasilitas wisata, akomodasi, aksesibilitas, dan desa wisata mengalami kerusakan.
Kementerian Pariwisata melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo dan Flores, asosiasi, serta pelaku industri. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat kemudian melaporkan bahwa aktivitas pariwisata di Labuan Bajo telah berjalan dan dapat menerima wisatawan secara normal.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar juga kembali dibuka setelah sempat mengalami penutupan sementara untuk kepentingan keselamatan wisatawan. Pemerintah tetap berupaya memastikan kondisi kawasan sebelum aktivitas wisata kembali berjalan.
“Keselamatan wisatawan, kejelasan informasi, dan percepatan pemulihan destinasi menjadi prioritas kami,” kata Ni Luh Puspa.
Bencana juga berdampak pada Desa Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data per 27 Agustus 2026, sebanyak 75 hunian rusak total dan 20 hunian lainnya terdampak di luar Dusun Sade. Sebanyak 11 tempat pertemuan serta fasilitas pendukung turut mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai Rp33,84 miliar.
Untuk penanganan awal, Kementerian Pariwisata mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat melalui bantuan makanan dan logistik, dapur umum, trauma healing, bimbingan teknis, serta pemberdayaan kelompok sadar wisata.
Pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang melalui rencana aksi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, mitra, serta masyarakat adat. Salah satu rencana yang disiapkan adalah Master Plan Rekonstruksi Desa Adat Sade.
“Yang sangat penting, proses pembangunan kembali Sade harus dilakukan bersama masyarakat, serta para pemangku kepentingan untuk tetap mempertahankan karakter serta identitas budaya Suku Sasak,” kata Widiyanti.
*) Penulis: M Habib Muzaki













