Fachrudin Ad’han Tohari Ingin Bangun Kaderisasi Berbasis Talenta di IPM Kota Malang

ipm kota malang

MAKLUMAT — Terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Malang periode 2026–2028, Fachrudin Ad’han Tohari membawa gagasan tentang kaderisasi yang memberi ruang bagi kemampuan setiap pelajar. Ia ingin IPM menjadi tempat kader mengembangkan bakat, menyampaikan ide, dan menemukan peran sesuai potensi masing-masing.

Bagi Fachrudin, organisasi membutuhkan keterlibatan banyak orang untuk menjalankan gerakan bersama. Setiap kader memiliki kemampuan dan minat yang berbeda. Karena itu, ia ingin proses kaderisasi memberi kesempatan kepada mereka untuk mengambil peran sesuai kapasitasnya, sekaligus memastikan kebutuhan organisasi dapat terpenuhi.

“Kami merasa tetap perlu ada gerakan bersama, dan dalam mewujudkan itu harus ada orang yang mau mengisi ruang-ruang kosong tersebut. Dalam hal ini, kami mengupayakan agar meritokrasi terbangun, bakat tersalurkan, ide tersampaikan, sehingga akan mewujudkan lingkungan yang rahmatan lil ‘alamin,” kata Fachrudin kepada Maklumat.id pada Jumat (23/10/2026).

Gagasan tersebut menjadi bagian dari rencana revitalisasi gerakan IPM Kota Malang. Fachrudin menyebut pembenahan organisasi sebenarnya sudah mulai ditata sebelum kepengurusan baru melanjutkan estafet kepemimpinan. Ia ingin meneruskan proses tersebut dengan memperhatikan kebutuhan organisasi sekaligus perkembangan kader.

Kaderisasi berbasis talenta menjadi salah satu cara yang ingin ia tempuh. Dalam pandangannya, organisasi akan lebih berkembang ketika kader memperoleh kesempatan untuk menyalurkan kemampuan dan gagasannya. Ia berharap setiap orang dapat menemukan ruang untuk berkontribusi, sehingga gerakan tidak hanya bergantung pada beberapa orang yang sama.

Namun, Fachrudin tidak ingin gagasan tersebut dipahami sebagai pekerjaan seorang ketua umum semata. Ia menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang membutuhkan keterlibatan seluruh pimpinan dan kader.

“Saya sebagai ketua umum terpilih bukan serta-merta menjadikan diri ini lebih tinggi dari pimpinan yang lain. Saya hanyalah seorang manusia yang kebetulan diberikan amanah dalam organisasi. Pada intinya, saya tidak mungkin berjalan sendiri,” ujarnya.

Berawal dari Kegemaran Membaca

Ketertarikan Fachrudin pada dunia keilmuan tumbuh sejak masa sekolah. Ia lahir di Lumajang pada 28 Desember 2006 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani pisang, sedangkan ibunya mengurus rumah tangga sekaligus menjalankan usaha warung di dekat rumah.

Kedua orang tuanya tidak menempuh pendidikan tinggi. Ayahnya menyelesaikan pendidikan hingga SMA, sementara ibunya menamatkan SMK. Pada 2019, Fachrudin mulai tinggal di Malang dan menempuh pendidikan di SMP Muhammadiyah 1 Kota Malang. Selama di kota tersebut, ia tinggal di sebuah lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) milik Muhammadiyah di kawasan Jalan Bareng Tenes.

Di bangku SMP, ia mulai menyukai kegiatan membaca, terutama novel dan karya sastra. Ia mengenal karya Tere Liye, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Habiburrahman, serta sejumlah penulis lain. Kebiasaan membaca itu berlanjut ketika ia masuk MA Muhammadiyah 1 Kota Malang dengan mengambil jurusan bahasa.

Memasuki masa madrasah aliyah, minat bacanya mulai mengarah pada sastra klasik. Ia membaca Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis dan Sang Nabi karya Kahlil Gibran. Seiring bertambahnya pengalaman, ia juga mulai membaca buku keislaman dan pengembangan diri.

Baca Juga  Ashabiyah Pelajar Muhammadiyah, Membangun IPM sebagai Rumah Bersama

“Saya mulai suka membaca sejak SMP. Kebanyakan yang saya baca adalah novel atau buku sastra, dari Tere Liye, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Habiburrahman, dan beberapa karya penulis yang mungkin juga kurang terkenal,” tutur Fachrudin.

Kegemarannya membaca kemudian mendorongnya mencoba menulis. Saat duduk di kelas XI, ia mengikuti lomba menulis cerpen dan meraih juara kedua dalam ajang nasional FSBB 2024 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaiannya di bidang kepenulisan ketika masih sekolah.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Fachrudin melanjutkan studi S-1 Pendidikan Agama Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia mulai mengembangkan kemampuan menulisnya ke ranah karya ilmiah dan pernah mengikuti dua konferensi internasional sebagai presenter.

“Hingga akhirnya sekarang menjadi mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya mulai juga menulis karya ilmiah dan pernah dua kali ikut konferensi internasional sebagai presenter,” katanya.

Pengalaman tersebut turut membentuk perhatiannya terhadap gerakan keilmuan di kalangan pelajar. Baginya, kegiatan membaca dan menulis dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan kader. Organisasi pelajar perlu menyediakan ruang agar kemampuan tersebut tumbuh dan dapat digunakan untuk menjawab persoalan di lingkungan mereka.

Memperluas Gerakan Keilmuan dan Jurnalistik

Fachrudin ingin memperkuat tradisi intelektual itu melalui gerakan keilmuan dan jurnalistik di PD IPM Kota Malang. Ia menilai pelajar perlu melangkah lebih jauh dari sekadar menyampaikan gagasan dalam diskusi atau forum internal. Gagasan tersebut perlu diolah menjadi tulisan dan dipublikasikan agar dapat dibaca oleh masyarakat yang lebih luas.

Ia berharap media daring menjadi salah satu saluran bagi kader untuk menyampaikan pemikiran. Dengan demikian, hasil pembelajaran dan diskusi di lingkungan IPM dapat menjangkau pembaca di luar organisasi.

“Kedua, memasifkan gerakan keilmuan dan jurnalistik, sebagai gambaran bahwa hari ini pelajar tidak cukup jika hanya sampai pada taraf menyampaikan. Akan tetapi, juga bisa sampai pada publikasi, sehingga gagasan tidak hanya menjangkau kalangan internal IPM, tetapi juga masyarakat luas di media online,” jelasnya.

Gagasan tersebut memiliki kaitan dengan pengalamannya sebagai penulis. Sejak sekolah, ia telah merasakan proses mengembangkan minat baca menjadi kemampuan menulis. Ketika memasuki perguruan tinggi, ia mulai mengerjakan karya ilmiah dan terlibat dalam konferensi internasional. Ia ingin ruang pengembangan seperti itu juga tersedia bagi kader lain.

Menurut Fachrudin, pelajar memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan yang mereka peroleh semestinya tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga membantu mereka memahami persoalan sosial. Ia menilai keberhasilan pendidikan perlu dilihat dari kemampuan pelajar memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Pelajar adalah wajah pendidikan. Sebagaimana buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire, pendidikan selayaknya harus membebaskan. Bebas dalam artian tidak sekalipun mengekang, akan tetapi juga tidak dibiarkan lepas tanpa kendali,” ujarnya.

Baca Juga  Musyda XXIV IPM Kota Malang Soroti Perlindungan Anak hingga Kepemimpinan

Fachrudin menggunakan pemikiran Paulo Freire untuk menjelaskan pentingnya pendidikan yang memberikan ruang bagi perkembangan pelajar. Baginya, kebebasan dalam pendidikan tidak berarti ketiadaan arah. Pelajar tetap membutuhkan proses pembelajaran yang membantu mereka memahami tanggung jawab dan menentukan sikap.

Ia juga merujuk pemikiran Antonio Gramsci tentang intelektual organik. Gagasan tersebut ia hubungkan dengan peran pelajar dalam membawa persoalan masyarakat ke ruang pembelajaran dan gerakan. Ia berharap pelajar tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperhatikan keadaan kelompok masyarakat yang menghadapi berbagai kesulitan.

“Akan tetapi, perlu juga kita pahami bahwa pendidikan Indonesia hari ini belum cukup berhasil jika pelajar yang dihasilkan tidak mampu memberikan dampak kepada masyarakat. Sebagaimana apa yang dikatakan Gramsci tentang intelektual organik, ya, itu juga termasuk pelajar hari ini, yang membawa sambatan-sambatan masyarakat kecil,” katanya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar pemikirannya mengenai arah gerakan pelajar. Ia ingin pelajar memiliki kemampuan intelektual yang dapat digunakan untuk memahami masalah di sekitarnya. Gerakan keilmuan dan jurnalistik menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan kemampuan tersebut sekaligus menyampaikan hasil pemikiran kepada publik.

“Pada akhirnya, pelajar harus bisa menjadi khairunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya). Saya mencita-citakan akan ada masa pelajar menjadi sentral keilmuan yang diperhitungkan, karena beda pelajar, beda mahasiswa. Keorganikan antara keduanya saya bisa pastikan lebih murni yang dimiliki oleh pelajar,” jelasnya.

Menjawab Persoalan Pelajar

Keinginan memperkuat gerakan keilmuan juga berkaitan dengan pandangan Fachrudin mengenai persoalan yang dihadapi pelajar saat ini. Ia menyebut pergaulan bebas, pernikahan dini, kenakalan remaja, kesehatan mental, kecemasan, dan masih banyak lagi, sebagai sejumlah masalah yang perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, perubahan sosial di Kota Malang turut membentuk lingkungan tempat pelajar tumbuh. Ia melihat kota tersebut semakin menyerupai kota metropolitan, antara lain karena urbanisasi dan kedatangan penduduk dari berbagai daerah. Para pendatang membawa karakteristik dan standar sosial yang beragam, sehingga kehidupan masyarakat terus mengalami perubahan.

“Pelajar hari ini dihadapkan dengan gelombang disrupsi yang tak berkesudahan. Jikalau ditanya isu apakah yang dominan, pastinya kita tahu bersama adalah pergaulan bebas, pernikahan dini, kenakalan remaja, mental health, anxiety, dan masih banyak lagi. Memang banyak sekali permasalahan yang dihadapi pelajar hari ini, khususnya di Kota Malang,” kata Fachrudin.

Ia menilai persoalan tersebut perlu dihadapi melalui penguatan kualitas sumber daya manusia dan spiritualitas pelajar. Gerakan keilmuan dapat membantu mereka memperluas pengetahuan dan memahami perubahan di sekitarnya. Sementara itu, penguatan spiritualitas diharapkan dapat mendukung pembentukan integritas dan akhlak.

Fachrudin merangkum dua hal tersebut sebagai prinsip yang ingin ia dorong dalam gerakan pelajar. Ia melihat keduanya memiliki peran dalam mempersiapkan pelajar menghadapi tantangan kehidupan.

“Akan tetapi, ada prinsip-prinsip yang mampu kita usahakan untuk menjawab berbagai permasalahan pelajar Kota Malang hari ini. Pertama, penguatan gerakan keilmuan sebagai sarana memperkuat kualitas sumber daya manusia. Kedua, meningkatkan spiritualitas pelajar sebagai upaya dalam menguatkan integritas dan akhlak pelajar sebagai kunci kesuksesan di masa depan,” ujarnya.

Baca Juga  Membaca Ulang Ihya' Ulumuddin: Dari Menara Gading Menuju Gerakan Pelajar yang Berdampak

Selain penguatan keilmuan, ia merencanakan spiritualitas berbasis maqashid syariah sebagai salah satu agenda kepengurusan. Ia memandang gagasan tersebut penting untuk menjadi kompas dalam menentukan arah gerakan. Dengan pijakan itu, aktivitas organisasi diharapkan tetap berhubungan dengan tujuan syariat.

“Ketiga, menguatkan spiritualitas berbasis maqashid syariah. Tentunya, hal ini adalah barang baru yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan di kalangan IPM. Akan tetapi, memang sebegitu vitalnya gagasan maqashid syariah dalam gerakan pelajar seperti IPM, perannya sebagai kompas dalam menghasilkan gerakan yang tidak lepas dari tujuan syariat itu ada,” jelasnya.

Agenda tersebut memperlihatkan bahwa Fachrudin ingin mengembangkan gerakan IPM melalui beberapa jalur yang saling berkaitan. Ia hendak membenahi proses kaderisasi, memperluas kegiatan intelektual, serta memperkuat nilai yang menjadi dasar gerakan. Pelaksanaannya akan menjadi pekerjaan bersama bagi kepengurusan yang dipimpinnya.

Membuka Gerakan bagi Masyarakat Luas

Fachrudin juga ingin membangun lingkungan organisasi yang berkelanjutan dan inklusif. Menurutnya, jangkauan gerakan IPM tidak semestinya terbatas pada anggota organisasi dan warga Muhammadiyah. Ia ingin dakwah pelajar dapat hadir di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.

Gagasan itu menjadi salah satu bagian dari rencana revitalisasi gerakan yang ia sampaikan setelah terpilih sebagai ketua umum. Ia berharap IPM mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk mereka yang berada di luar lingkungan keagamaan organisasi.

“Keempat, sekaligus yang terakhir, yakni mewujudkan lingkungan organisasi berkelanjutan yang inklusif. Gerakan IPM hari ini tidak boleh hanya diperuntukkan untuk kalangan IPM dan Muhammadiyah saja. Gerakan dakwah ini bisa dikatakan berdampak jika bisa menjangkau masyarakat luas yang heterogen, baik kalangan muslim maupun nonmuslim,” ujarnya.

Bagi Fachrudin, kepemimpinan periode 2026–2028 menjadi kesempatan untuk melanjutkan pembenahan yang telah dirintis di IPM Kota Malang. Ia membawa empat agenda utama, yakni kaderisasi berbasis talenta, gerakan keilmuan dan jurnalistik, penguatan spiritualitas berbasis maqashid syariah, serta pembangunan lingkungan organisasi yang berkelanjutan dan inklusif.

Keempat agenda tersebut bertumpu pada keinginannya menjadikan organisasi sebagai ruang pengembangan kader. Ia ingin setiap pelajar memperoleh kesempatan untuk bertumbuh, mengembangkan kemampuan, dan terlibat dalam gerakan yang memiliki dampak bagi masyarakat.

Meski demikian, Fachrudin menyadari bahwa gagasan tersebut tidak akan berjalan hanya dengan mengandalkan ketua umum. Ia membutuhkan kerja bersama seluruh pimpinan dan kader untuk menerjemahkan rencana menjadi kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya.

“Saya sebagai ketua umum terpilih bukan serta-merta menjadikan diri ini lebih tinggi dari pimpinan yang lain. Saya hanyalah seorang manusia yang kebetulan diberikan amanah dalam organisasi. Pada intinya, saya tidak mungkin berjalan sendiri,” tandasnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki