MAKLUMAT — Ketua Bidang Kajian Dakwah Islam (KDI) PD IPM Kota Malang, Fachrudin Ad’han Tohari menegaskan urgensi konsep “Ashabiyah” dalam konteks pelajar Muhammadiyah. Menurutnya, solidaritas sosial, ikatan, atau kesadaran kelompok menjadi pendorong utama terbentuknya peradaban yang unggul.
“Pada hakikatnya, output dalam pemahaman ‘Ashabiyah’ sendiri adalah untuk mencapai suatu kemashlahatan bersama. Sehingga dalam pandangan kami sebagai seorang pelajar, yakni menjadikan IPM sebagai rumah bersama yang perlu adanya kesadaran bersama untuk merawat,” jelasnya kepada wartawan Maklumat.id pada Kamis (5/3/2026).
Ia menekankan, kegiatan PKMTM II yang diadakan PD IPM Kota Malang pada 19–21 Februari 2026 silam tidak hanya bertujuan mencetak kader. Tiga hari dua malam kegiatan itu digunakan untuk memperkuat pondasi “Rumah IPM” yang mulai terbentuk, sekaligus membangun hubungan yang lebih dari sekadar teman atau organisasi.
Fachrudin menilai ada banyak hal di IPM berbeda dengan organisasi kebanyakan, terutama di tingkat universitas. Ia menjelaskan bahwa cara mahasiswa mengajar adik tingkatnya jauh berbeda dengan pola yang berlaku di IPM. Bahkan anggota yang lebih tua kadang menjadi orang yang belajar untuk berproses.
“Kita tidak sedang membicarakan posisi, akan tetapi perihal kompetensi dan loyalitas. Di pikiran kader IPM bukan masalah bagaimana dan siapa aku di organisasi, tetapi jauh daripada itu memikirkan bagaimana IPM ini lebih baik dengan kehadiranku,” ujarnya.
Menurut Fachrudin, banyak anggota organisasi sering melupakan esensi tujuan bersama. Sering kali kepentingan pribadi menutupi visi kolektif. Ia menekankan, jika tujuan bersama menjadi sasaran, anggota harus memiliki rasa kebersamaan, saling memiliki, dan satu keluarga.
“Seringkali memang kita melupakan esensi organisasi dalam rangka mencapai tujuan bersama. Mungkin kita semua paham tentang hal itu, akan tetapi banyak orang yang salah dalam berpikir dan memosisikan diri,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemahaman “Ashabiyah” menjadi indikator baik buruknya sebuah organisasi. Ciri-cirinya sederhana, yakni berjuang, berkorban, menangis, tertawa, kecewa, dan bermimpi bersama-sama. Yang diingat bukan pengorbanan, tetapi momen kebersamaan yang menyenangkan.
“Pemahaman ‘Ashabiyah’ adalah kunci dari baik buruknya sebuah organisasi. Tanpa pernah mengingat apa yang kita korbankan, justru hanya mengingat momen-momen yang membuat kita tersenyum sendiri di kala malam yang sunyi. Menurut keyakinan saya, organisasi itulah yang berhasil dalam menjalankan fungsi dan perannya,” tutupnya.












