Membaca Ulang Ihya’ Ulumuddin: Dari Menara Gading Menuju Gerakan Pelajar yang Berdampak

Ihya' Ulumuddin

MAKLUMAT — Musyawarah Wilayah (Musywil) selalu menjadi momentum penting dalam perjalanan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Bukan hanya karena forum ini melahirkan kepemimpinan baru, tetapi juga karena di dalamnya dirumuskan arah gerakan yang akan menentukan wajah organisasi dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam Musywil XXIV IPM Jawa Timur, muncul sebuah gagasan besar yang diberi tajuk Ihya’ Ulumuddin. Nama ini tentu tidak asing bagi kalangan intelektual Muslim. Ia mengingatkan kita pada karya monumental Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang selama berabad-abad menjadi salah satu rujukan penting dalam khazanah pemikiran Islam.

Namun, perlu dipahami bahwa Ihya’ Ulumuddin yang dimaksud dalam blueprint Musywil bukanlah kitab Al-Ghazali yang dibahas secara tekstual. Ia merupakan sebuah gagasan gerakan yang mengadopsi semangat besar dari karya tersebut, yakni menghidupkan kembali nilai-nilai keilmuan, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan pelajar Muhammadiyah.

Secara filosofis, pilihan nomenklatur ini menarik. Di tengah arus modernitas yang sering menjauhkan manusia dari refleksi diri, semangat menghidupkan ilmu dan memadukan antara kecerdasan intelektual dengan kematangan spiritual memang menjadi kebutuhan mendesak. Terlebih ketika generasi muda hari ini sedang menghadapi berbagai tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.

Kita menyaksikan bagaimana kasus perundungan masih menjadi persoalan serius di lingkungan pendidikan. Kekerasan seksual terhadap anak dan remaja terus bermunculan. Kesehatan mental pelajar menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan.

Di ruang digital, generasi muda juga dihadapkan pada ancaman cyberbullying, penyalahgunaan teknologi, maraknya perjudian daring, hingga banjir informasi yang sering kali mengaburkan batas antara kebenaran dan manipulasi. Di tengah situasi tersebut, pelajar membutuhkan lebih dari sekadar slogan perubahan. Mereka membutuhkan gerakan yang mampu hadir sebagai solusi.

Baca Juga  Menuju Musywil XXIV IPM Jawa Timur: Perluas Gerakan, Tingkatkan Kualitas Hadapi Tantangan Global

Membaca Spirit Ihya’ di Tengah Krisis Pelajar

Di sinilah saya melihat perlunya pembacaan ulang terhadap gagasan Ihya’ Ulumuddin yang ditawarkan dalam blueprint Musywil.

Bukan karena gagasan tersebut kurang baik. Sebaliknya, ia memiliki fondasi filosofis dan akademik yang kuat. Akan tetapi, justru karena kekuatan intelektualnya itulah muncul tantangan lain: bagaimana memastikan gagasan besar tersebut dapat dipahami dan dijalankan oleh seluruh kader hingga tingkat daerah, cabang, bahkan ranting.

Jangan sampai gagasan yang begitu kaya secara konseptual justru terjebak menjadi “menara gading”; indah dalam diskusi, tetapi sulit diterjemahkan menjadi gerakan nyata.

Kader IPM di tingkat bawah tidak sedang berhadapan dengan persoalan teoritis semata. Mereka berhadapan langsung dengan pelajar yang menjadi korban perundungan, mengalami krisis mental, kehilangan motivasi belajar, terpapar konten negatif, atau bahkan tidak memiliki ruang aman untuk bertumbuh. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya kerangka berpikir yang kuat, melainkan juga panduan gerakan yang operasional dan aplikatif.

Salah satu contohnya terlihat pada gagasan Spiritual-Kritis. Secara substansi, konsep ini sangat relevan karena berusaha mempertemukan kesalehan dengan daya pikir kritis. Akan tetapi, istilah tersebut masih bersifat abstrak dan belum menunjukkan mekanisme pembentukannya.

Baca Juga  Haedar Nashir: Kader IPM adalah Inti Persyarikatan, Harus Punya Kualitas Lebih

Sebagai organisasi kader, IPM seharusnya tidak hanya menjelaskan karakter ideal yang ingin dicapai, tetapi juga menjelaskan instrumen yang digunakan untuk membentuk karakter tersebut. Oleh karena itu, konsep tersebut akan lebih membumi apabila diarahkan menjadi “Penguatan Spiritual-Kritis Melalui Perkaderan Berbasis Tauhid.”

Penekanan pada perkaderan menjadikan gagasan tersebut memiliki orientasi gerakan yang jelas. Sementara frasa “berbasis tauhid” penting untuk menegaskan bahwa daya kritis yang dibangun IPM tetap berakar pada fondasi ideologis Muhammadiyah.

Hal serupa juga terlihat pada bagian yang diberi judul “Di Dalam Risalah”. Judul tersebut memang memiliki nuansa sastra yang kuat, tetapi kurang mencerminkan orientasi strategis sebuah organisasi pelajar. Dalam konteks gerakan Muhammadiyah, akan lebih tepat apabila arah tersebut ditegaskan sebagai “Pembumian Risalah Islam Berkemajuan pada Pelajar Muhammadiyah.”

Dari Kesadaran Intelektual Menuju Gerakan Berdampak

Kritik yang paling menarik untuk didiskusikan sebenarnya berada pada gagasan IPM Berdampak: Membina Masyarakat Kultural.

Bagian ini menunjukkan keberanian IPM untuk keluar dari zona nyaman organisasi dan hadir lebih dekat dengan masyarakat. Kehadiran komunitas seperti Kampung Buku, Konselor Inklusi, Pelajar Pesisir, maupun berbagai komunitas tematik lainnya menunjukkan bahwa dakwah pelajar tidak lagi dipahami sebatas ceramah dan forum diskusi.

Dakwah hadir melalui pemberdayaan. Dakwah hadir melalui pendampingan. Dakwah hadir melalui penyelesaian masalah sosial.

Namun demikian, terdapat satu persoalan yang perlu diantisipasi. Berbagai model komunitas tersebut berpotensi menjadi program musiman apabila tidak didukung oleh pemetaan sosial yang matang. Tidak semua daerah memiliki karakteristik yang sama. Tidak semua cabang dan ranting memahami potensi lokal yang bisa dikembangkan menjadi gerakan.

Baca Juga  IPM Jatim Optimis Sukadiono Mampu Hadirkan Perubahan Positif di Sektor Kesehatan

Karena itu, sebelum mendorong pembentukan berbagai komunitas berbasis potensi lokal, PW IPM Jawa Timur perlu mengambil peran strategis melalui pemetaan regional (regional mapping). Pemetaan tersebut penting untuk mengidentifikasi karakteristik wilayah, kebutuhan pelajar, serta potensi sosial yang dapat dikembangkan menjadi gerakan.

Daerah pesisir tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan daerah perkotaan. Kawasan industri menghadapi tantangan yang berbeda dengan daerah agraris. Begitu pula wilayah dengan tingkat kerentanan sosial tinggi memerlukan pendekatan yang berbeda dibanding wilayah yang relatif mapan.

Melalui pendekatan tersebut, IPM tidak lagi bergerak berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Daerah pesisir dapat mengembangkan gerakan lingkungan dan literasi maritim.

Kawasan industri dapat memperkuat advokasi pelajar buruh. Wilayah perkotaan dapat membangun pusat kreativitas dan literasi digital. Sementara daerah dengan tingkat kasus perundungan yang tinggi dapat memperkuat sistem pendampingan sebaya dan layanan konseling pelajar.

Dengan demikian, konsep “IPM Berdampak” benar-benar menjadi strategi gerakan yang hidup, bukan sekadar jargon yang indah dalam arsip dokumen organisasi.

 

*) Penulis: Fachrudin Ad’han Tohari

Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ketua Bidang Kajian Dakwah Islam PD IPM Kota Malang