Haedar Nashir: Kader IPM adalah Inti Persyarikatan, Harus Punya Kualitas Lebih

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat menyampaikan sambutan dalam pengukuhan PP IPM 2026-2028. (Foto: Medcom PP Muh)

MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menegaskan bahwa ikrar yang diucapkan para pengurus PP IPM periode 2026-2028 saat dikukuhkan bukanlah sekadar formalitas, melainkan ikatan dan tanggung jawab moral untuk mengaktualisasikan amanat organisasi.

Hal itu ia tegaskan ketika memberikan sambutan dalam Pengukuhan PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Periode 2026–2028 bertajuk “Arah Baru IPM: Membumikan Gerakan, Mencerdaskan Semesta”, yang digelar di Amphitarium Lantai 9, Gedung Utama Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (12/4/2026).

Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah terbuka terhadap berbagai sumber kaderisasi sebagai wujud inklusivitas. Namun, keterbukaan tersebut sekaligus menuntut komitmen yang kuat, karena kader IPM merupakan bagian dari kader inti persyarikatan.

“Proses kaderisasi menjadi lebih lekat dan kental, tetapi juga menjadi tanggung jawab yang tidak ringan. Kita adalah kader inti persyarikatan yang harus memiliki kualitas lebih,” ujarnya.

Tantangan ke Depan

Menghadapi tantangan ke depan, Haedar Nashir mengingatkan pentingnya merawat arus keorganisasian di tengah perubahan spektrum kehidupan yang semakin kompleks dan cenderung sentrifugal. Ia menyoroti karakter generasi muda saat ini yang tumbuh sebagai digital native dalam lanskap revolusi teknologi.

Baca Juga  Jadi yang Terdepan Tanpa Berebut Jadi yang di Depan

“Generasi Z memiliki kultur dunia digital yang kuat. Memadukan dimensi kemanusiaan dan digital native itu tidak mudah. Di sinilah diperlukan kecerdasan yang melampaui batas-batas biasa,” sorot Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Spirit Keilmuan Berlandas Al-Qur’an dan Sunnah

Lebih jauh, Haedar menekankan pentingnya menghidupkan kembali spirit keilmuan yang berakar pada nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya makna iqra’ dalam Surah Al-‘Alaq hingga filosofi nuun wal qolami wa maa yasthuruun dalam pembuka Surah Al-Qalam sekaligus slogan IPM sebagai identitas pelajar Muhammadiyah.

Ia menegaskan bahwa arah baru IPM harus berlandaskan dimensi keimanan yang bersifat given ilahi dan senantiasa hadir dalam setiap aspek kehidupan. “Dalam seluruh nafas kehidupan kita, secerdas dan semaju apa pun, Tuhan akan selalu hadir bersama kita,” tegasnya.

Menurut Haedar, aktualisasi nilai iqra tersebut perlu dipertegas dengan spirit tauhid yang mencerahkan, tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga progresif dan transformatif.

“Tauhid harus mencerdaskan kehidupan, membuka ilmu, membuka semesta, dan menjadi jalan kehidupan. Atas nama Tuhan, kita berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran,” tandasnya.

Tak cuma itu, Haedar juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap fundamental values sebagai landasan gerakan, baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, maupun ideologi Muhammadiyah. Ia mengingatkan agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai wahyu normatif, tetapi dipahami secara mendalam.

Baca Juga  Pengamat Politik UMM Tegaskan Peran Muhammadiyah dalam Mengawal Demokrasi Indonesia

“Kuncinya, pahami dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Dari mana pun titik tolak belajar, kita harus memperdalam agama dan ideologi Muhammadiyah agar tidak mengalami pelunturan,” pesan Haedar.

Haedar menandaskan bahwa arah baru IPM tidak cukup dijalankan secara administratif atau rutinitas semata. IPM didorong untuk tampil sebagai gerakan pelajar yang dinamis, progresif, dan transformatif—menjadi pelopor dalam membumikan nilai, pelangsung gerakan, serta penyempurna dalam menghadirkan inovasi peradaban. Ia berharap, kader IPM mampu melampaui capaian generasi sebelumnya, tidak hanya dalam kapasitas intelektual, tetapi juga dalam integritas moral serta kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.