MAKLUMAT – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., menantang Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk bertransformasi dari sekadar kampus maju menjadi kampus pelopor. Terobosan itu sebagai respons atas dinamika persaingan pendidikan tinggi.
Pesan strategis dan tajam itu disampaikan dalam agenda Tausiyah dan Pengarahan di Auditorium Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM, Kamis (11/6). Haedar menegaskan bahwa UMM tidak cukup hanya mempertahankan capaian dan infrastruktur yang telah diraih.
Keberhasilan hari ini, kata Haedar, pantang membuat institusi terjebak dalam zona nyaman. Mengingat perguruan tinggi negeri maupun swasta lain kini memiliki fleksibilitas pengelolaan dan inovasi yang bergerak sangat cepat.
“Bagi PTMA dan para rektor, jika tidak berani melakukan langkah yang lebih progresif, kita akan tertinggal. Padahal, saat ini kita merasa sudah berada di posisi yang cukup maju,” tegas Haedar mengingatkan pentingnya keberanian mengambil terobosan baru.
Haedar menyoroti dua agenda besar yang wajib dipelopori oleh Kampus Putih UMM untuk mewujudkan lompatan tersebut. Yaitu, penguatan sektor ekonomi dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul.
Menurutnya, pola pikir umat yang selama ini berfokus pada ekonomi menengah ke bawah harus segera didorong menuju penguasaan sektor industri, teknologi mutakhir, serta posisi strategis pengambil keputusan melalui peran strategis perguruan tinggi. “Siapa yang mampu membangun sumber daya manusia berkarakter kuat, menguasai IPTEK, keahlian, dan memiliki jaringan yang luas, ke depan dia yang akan memberi kontribusi besar bagi masa depan Indonesia. UMM harus kembali menjadi pelopor dalam menghadirkan kemajuan tersebut,” papar tokoh kelahiran Bandung tersebut.

Dia juga menyempatkan diri untuk merefleksikan dan mengapresiasi perkembangan luar biasa yang telah dicapai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Menurutnya, infrastruktur pendidikan, ekosistem akademik, dan jejaring nasional maupun internasional yang saat ini dimiliki UMM adalah modal kuat yang dahulu sulit dibayangkan, yang terwujud berkat dedikasi serta gerakan dakwah persyarikatan.
“Kita sungguh bersyukur kepada Allah atas segala anugerah ini. Saya yakin, berbagai capaian yang diraih hari ini lahir dari keikhlasan mereka yang terus berkhidmat membesarkan persyarikatan,” ujarnya.
Haedar menegaskan bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari besarnya infrastruktur atau capaian institusi. Lebih dari itu, bagaimana kemampuan perguruan tinggi melahirkan SDM unggul yang mampu memimpin perubahan. (*)













