Dari Sumpah Pemuda Menuju Perjuangan Gagasan

Penulis: Silviyana Anggraeni. *)

MAKLUMAT — Setiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda, sebuah ikrar bersejarah yang menyatukan tekad pemuda Indonesia untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Pada 1928, para pemuda berani melampaui sekat kedaerahan demi cita-cita Indonesia merdeka. Mereka tidak sekadar memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan masa depan sebuah bangsa. Hampir satu abad berlalu, Indonesia telah merdeka. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah semangat perjuangan itu masih hidup dalam diri pemuda hari ini?

Kita patut prihatin ketika sebagian generasi muda semakin terjebak dalam individualisme, pragmatisme, dan fanatisme buta. Tentu tidak adil menggeneralisasi seluruh pemuda, tetapi kecenderungan ini layak menjadi alarm bersama. Sebab, bangsa yang besar tidak cukup hanya memiliki generasi muda yang cerdas dan produktif; bangsa ini membutuhkan pemuda yang peduli, kritis, dan memiliki keberanian memperjuangkan kepentingan bersama.

Pertama, individualisme yang mengikis kepedulian. Sebagian pemuda semakin sibuk mengejar kenyamanan pribadi: memiliki uang, menikmati hiburan, dan memenuhi kebutuhan sendiri. Selama hidupnya baik-baik saja, persoalan di sekitarnya seolah bukan urusannya. Kepedulian bahkan terkadang memudar dalam lingkup keluarga, apalagi masyarakat.

Padahal, kemajuan bangsa tidak pernah dibangun hanya dari keberhasilan individu. Ia membutuhkan solidaritas, empati, dan kesediaan untuk ikut menyelesaikan persoalan bersama. Apa artinya menjadi generasi yang sukses secara pribadi jika kita tidak lagi peka terhadap tetangga yang kesulitan, masyarakat yang tertindas, atau lingkungan yang rusak?

Baca Juga  "Satu Sekolah Satu Dapur": Perkuat Program MBG

Kedua, FOMO yang merambah kehidupan politik. Budaya fear of missing out atau takut tertinggal dari tren tidak lagi sebatas urusan gaya hidup. Ia juga tampak ketika pemuda mengikuti arus dukungan politik hanya karena sebuah tokoh sedang populer, memiliki banyak pengikut, atau ramai dibicarakan.

Politik akhirnya menjadi urusan popularitas dan pencitraan, bukan pertarungan gagasan.

Pilihan dibuat bukan berdasarkan kualitas kebijakan, rekam jejak, dan keberpihakan kepada rakyat, melainkan karena ikut-ikutan kelompok. Lebih mengkhawatirkan lagi, sikap pragmatis membuat sebagian orang tidak lagi peduli pada persoalan publik selama kepentingan pribadinya terpenuhi.

Ketiga, fanatisme buta yang mematikan daya kritis. Mengagumi tokoh bukanlah kesalahan. Namun, ketika kekaguman membuat seseorang membenarkan semua perkataan dan tindakan tokohnya, di situlah nalar mulai dikalahkan oleh loyalitas. Kritik dianggap permusuhan, perbedaan pendapat dianggap pengkhianatan, dan kesalahan tokoh sendiri ditutupi demi menjaga citra.

Pemuda seharusnya menjadi kekuatan yang mengawasi kekuasaan, bukan sekadar barisan pembela kekuasaan. Kita boleh mendukung seorang pemimpin, tetapi tidak boleh menyerahkan akal sehat kepadanya. Jangan sampai kesetiaan kepada tokoh lebih besar daripada kesetiaan kepada kebenaran dan masa depan Indonesia.

Baca Juga  KHGT: Kemenangan Dialektik Muhammadiyah

Al-Qur’an memberikan teladan melalui Surah Al-Kahf ayat 13: “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” Kisah Ashabul Kahfi menunjukkan keberanian pemuda dalam mempertahankan keyakinan di tengah tekanan. Nilai yang dapat kita petik ialah keteguhan prinsip, keberanian, dan kesediaan untuk tidak sekadar mengikuti arus.

Lantas, apa yang harus dilakukan pemuda hari ini? Kita perlu mengubah kekaguman menjadi pembelajaran, kemarahan menjadi gerakan, dan kritik menjadi solusi. Perjuangkan pendidikan yang lebih baik, lawan korupsi, bangun solidaritas sosial, jaga lingkungan, serta awasi kebijakan publik. Bacalah lebih banyak, periksa informasi sebelum menyebarkannya, dan nilai setiap tokoh berdasarkan gagasan serta tindakannya, bukan popularitasnya.

Pemuda tidak harus menjadi pejabat untuk mengubah bangsa. Namun, pemuda harus berhenti menjadi penonton yang hanya ramai berkomentar tanpa berbuat apa-apa.

Sumpah Pemuda 1928 adalah keberanian untuk membayangkan Indonesia yang belum merdeka. Sumpah Pemuda hari ini seharusnya menjadi keberanian untuk memperjuangkan Indonesia yang lebih adil, cerdas, dan bermartabat.

Jangan sampai generasi terdahulu mewariskan api perjuangan, tetapi generasi hari ini hanya sibuk menikmati cahayanya—tanpa pernah bersedia menjaga apinya tetap menyala.***

Baca Juga  Makan Tidak Lagi untuk Kenyang, Tapi untuk Eksis

Penulis: Silviyana Anggraeni

Penulis Buku "Membaca Kehidupan Perempuan"