Baikuni Alshafa Dorong IMM Pahami Kebudayaan Masyarakat Sebelum Bergerak

imm

MAKLUMAT — Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) perlu memahami karakter masyarakat sebelum menentukan langkah gerakannya. Pemahaman terhadap kondisi sosial dan kebudayaan setempat dinilai penting agar kader tidak hadir dengan gagasan yang jauh dari kebutuhan masyarakat.

Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Kementerian Kehutanan Baikuni Alshafa dalam Pelantikann dan Konsolidasi Organisasi PC IMM Lamongan di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITBAD) Lamongan, Kamis (17/9/2026). Forum tersebut mengangkat tema “Relevansi IMM: Dialektika Penggerak Zaman” dan diikuti puluhan kader IMM se-Lamongan.

“Masyarakat kita ini harus berubah. Kalau masyarakat Lamongan itu nelayan atau petani, maka harus paham betul karakteristik masyarakat pesisir,” ujarnya.

Menurut Baikuni, pemahaman terhadap karakter masyarakat akan menentukan cara kader IMM membangun hubungan dengan lingkungan sosialnya. Ia menilai kader perlu mengenali persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung agar gerakan yang dibangun tidak berhenti pada pembahasan di internal organisasi.

Ia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan pentingnya kebudayaan dalam gerakan mahasiswa. Bagi Baikuni, kader IMM perlu mengetahui kebiasaan, kebutuhan, dan karakter masyarakat di wilayah tempat mereka bergerak.

“Dengan menguasai kebudayaan masyarakat, maka IMM akan mudah memasuki ruang kebudayaan mereka,” jelasnya.

Baca Juga  IMM Lamongan Ajak Mahasiswa Bijak Memilih Pemimpin

Gagasan tersebut menjadi salah satu bagian dari langkah yang ia tawarkan untuk mengoptimalkan gerakan IMM. Selain membangun kebudayaan berbasis sosial masyarakat, Baikuni mendorong kader membangun laboratorium riset berbasis kebutuhan masyarakat di setiap tingkatan organisasi.

Ia juga meminta IMM memperkuat kerja sama dengan berbagai kelompok masyarakat. Aliansi lintas sektor pemuda dan masyarakat, menurutnya, perlu dibangun secara inklusif dan tidak bias gender agar gerakan memiliki ruang yang lebih luas untuk bekerja.

Baikuni menilai pendekatan terhadap masyarakat juga perlu ditopang kemampuan kader membaca perubahan zaman. Disrupsi digital, krisis lingkungan, dan dinamika geopolitik global menjadi tantangan yang harus diolah IMM sebagai ruang dialog kritis tanpa meninggalkan Tri Kompetensi Dasar, yakni intelektualitas, religiusitas, dan humanitas.

“Kader-kader harus bersabar dan komitmen untuk berproses. Karena kita punya tiga catatan Trikoda yang harus diselami,” pesannya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki