Setelah Mengenal Jepang, Bagaimana Kita Memandang Indonesia?

jepang

MAKLUMAT — Hidup di Jepang bagi sebagian orang adalah surga dunia. Gaji dua digit setiap bulan tanpa harus lembur, menikmati jalan raya kota sambil mendengarkan playlist favorit tanpa harus terganggu suara klakson motor, pulang tengah malam tanpa khawatir akan tindakan kriminal, hingga menemukan berbagai pusat perbelanjaan barang branded tanpa takut dompet menipis.

Beberapa kali saya bertemu dengan orang Indonesia yang sudah tinggal cukup lama di Jepang, mulai dari 3–10 tahun. Beberapa di antaranya kerja sebagai “Kaigo” atau “Caregiver”, yang dalam bahasa Indonesianya adalah perawat lansia. Cukup banyak orang Indonesia yang berprofesi sebagai kaigo, jika diamati lebih jauh dikarenakan kecenderungan orang Indonesia yang terbiasa merawat orang tuanya.

Sedangkan jika berbicara tentang Jepang, karakteristik orang-orangnya cukup individualis, dan sering kali jika memiliki keluarga yang sudah tua akan dikirimkan ke semacam panti jompo. Alasan profesi ini cukup digemari oleh orang-orang Indonesia yang bekerja di Jepang adalah dari segi gaji yang sudah menyentuh angka dua digit dalam setiap bulannya. Selain kaigo, ada juga profesi sebagai chef restoran, staf hotel, hingga pegawai pabrik.

Banyak orang Indonesia yang memilih pergi ke Jepang untuk bekerja, karena ada banyak sekali pilihan profesi dan lapangan pekerjaan dengan gaji yang cukup menyejahterakan. Jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia tentu akan sangat jauh ketimpangan kesempatannya.

Baca Juga  Laut yang Tidak Lagi Menjadi Halaman Belakang

Selain sebagai tujuan pekerjaan, Jepang merupakan negara yang memiliki kampus-kampus terbaik di dunia. Ada banyak sekali mahasiswa Indonesia yang berkuliah di kampus top Jepang, seperti University of Tokyo, Chiba University, hingga Kyoto University. Dan para lulusan kampus yang ada di Jepang cenderung memiliki prospek karier yang cukup bagus.

Dengan semua kelengkapan fasilitas tersebut, Jepang menawarkan masa depan bagi siapa pun yang mau untuk menukarkan hidupnya dengan tinggal di sana. Semua serba ada, dan tidak mungkin rasanya merasa kekurangan dari segi finansial, kualitas pendidikan, jaminan keamanan, hingga hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

Tetapi sesempurna apa pun bayangan tentang Jepang, ada beberapa hal yang membuat banyak di antara orang-orang Indonesia di sana merasakan kerinduan akan kampung halamannya. Ada banyak hal di Indonesia yang tidak dimiliki oleh Jepang. Beberapa contoh di antaranya adalah fasilitas beribadah yang sangat terbatas. Jika di Indonesia tempat ibadah sangat mudah ditemukan terutama bagi yang beragama muslim, di Jepang masyarakat muslim menjadi minoritas sehingga terbatas sekali tempat untuk beribadah. Selain itu susahnya mencari makanan halal, baik itu di tempat makan sederhana, restoran, hingga supermarket.

Baca Juga  Sukses Gelar Piala Asia Futsal 2026, Indonesia Bakal Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Futsal 2028

Berbicara soal perilaku hidup orang Jepang yang cenderung cukup cepat, terkadang membuat sebagian orang Indonesia merindukan pola kehidupan yang seimbang, baik itu dari aspek kebahagiaan dan kebermaknaan. Berbicara lagi soal Jepang, perilaku individualis yang cukup lekat seperti halnya pola interaksi antartetangga yang cukup minim, membuat sebagian orang Indonesia yang sudah terbiasa hidup bermasyarakat dan bergotong royong ingin kembali ke kampung halamannya.

Hal menarik yang saya temui di Jepang ini adalah kehangatan yang tercipta oleh orang-orang Indonesia yang sedang berkumpul. Di tengah kesibukan masing-masing dan kondisi lingkungan yang serba individualis di Jepang, menemukan momentum berkumpul bersama orang-orang dengan kewarganegaraan yang sama menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Karakter orang-orang Indonesia yang cenderung “guyub rukun” membuat mereka sangat semangat jika ada komunitas yang menghubungkan antar orang-orang Indonesia.

Jepang mungkin terlihat sempurna, tapi Indonesia tetap selalu membuat kita rindu akan kehangatannya. Terkadang kita lebih bisa menghargai sesuatu ketika kita sedang berada jauh dari sesuatu itu. Seperti halnya orang-orang yang sedang berjuang hidup di negara Jepang, sebagian dari mereka mengakui bahwa tetap ada keinginan untuk kembali ke Indonesia.

Baca Juga  Prabowo Hadiri KTT BRICS di India, Begini Sejarah dan Perkembangannya

Jepang memberikan banyak pelajaran hidup, tetapi Indonesia adalah tempat sebaik-baiknya untuk kita pulang dan memberikan kontribusi. Hidup serasa tak ada artinya jika hanya mengejar sesuatu untuk diri sendiri tanpa mau berbagi arti. Barangkali perantauan di Jepang memberikan banyak pelajaran hidup, maka pengabdian di Indonesia menjadi sarana untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna.

 

*) Penulis: Shintya Iftitah Dzikrullah

Wakil Ketua BEM Universitas Airlangga 2026