MAKLUMAT — PP Muhammadiyah telah menetapkan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh bertepatan pada Jumat, 20 Maret 2026 mendatang, berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Hal tersebut termaktub dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tertanggal 22 September 2025 lalu, yang ditandatangani Ketua Umum Prof Dr Haedar Nashir MSi dan Sekretaris Muhammad Sayuti MPd MEd PhD.
“Berdasarkan prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai keputusan Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan tahun 1445 H/2024 M yang telah ditanfidzkan dengan Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 86/KEP/I.0/2025 dan dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” tulis maklumat tersebut.
Dijelaskan bahwa ijtimak jelang Syawal 1447 Hijriah terjadi pada Hari Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 Hijriah bertepatan dengan 19 Maret 2026 Masehi pukul 01:23:28 UTC.
“Pada saat matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24:00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi bulan lebih dari sama dengan 5 derajat dan elongasi bulan lebih dari sama dengan 8 derajat,” bunyi penjelasan dalam Maklumat tersebut.
Adapun wilayah yang memenuhi parameter tersebut, antara lain:
- Lintang: 64 derajat 59 menit 57,47 detik Lintang Utara dan Bujur: 42 derajat 03 menit 3,47 detik Bujur Timur.
- Tinggi Bulan: +06 derajat 29 menit 20 detik dan Elongasi: 08 derajat 00 menit 00 detik.
“Di seluruh dunia tanggal 1 Syawal 1447 H jatuh pada Hari Jumat Legi, 20 Maret 2026 M,” tegas Maklumat tersebut.
Adapun dokumen resmi Maklumat PP Muhammadiyah dapat diunduh dengan klik link berikut: Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025
View this post on Instagram
Pemerintah Tetapkan di Sidang Isbat
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI masih akan melakukan proses pengamatan atau rukyatul hilal dan Sidang Isbat untuk menetapkan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026 mendatang.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa tim perukyat bakal melakukan pengamatan atau pemantauan hilal di sejumlah titik di Indonesia.
“Sidang isbat akan diawali dengan paparan posisi hilal berdasarkan data hisab (perhitungan astronomi), kemudian dilanjutkan dengan laporan hasil rukyat (pengamatan) dari berbagai titik pemantauan di Indonesia,” ujar Abu Rokhmad awal Maret lalu.














