MAKLUMAT — Memasuki 10 hari terakhir bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amalan. Momentum ini dinilai penting agar Ramadan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan tanpa memberikan dampak pada peningkatan spiritual.
Hal tersebut disampaikan Afifun Nidlom, Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jatim. Menurutnya, tradisi iktikaf di masjid pada 10 hari terakhir Ramadan merupakan amalan yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan umat Islam.
“Ramadan ini jangan sampai hanya menjadi rutinitas setahunan yang kita lalui tanpa bekas, tanpa suatu nilai bahwa pencapaian spiritual kita menjadi jauh lebih baik,” ujarnya saat ditemui di Kantor PWM Jatim, Surabaya pada Jumat (13/3/2026).
Namun di era digital saat ini, praktik tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, khususnya Generasi Z atau Gen Z. Ia menjelaskan, salah satu tantangan yang dihadapi Gen Z saat ini adalah ketergantungan pada gawai.
Bagi sebagian Gen Z, melepaskan ponsel dalam waktu tertentu saja sudah menjadi hal yang tidak mudah. “Hal sederhana seperti melepaskan gadget kadang menjadi tantangan. Padahal dalam iktikaf salah satu ujiannya adalah tidak menoleh gadget dan memperbanyak zikir,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa iktikaf tidak harus dilakukan dalam waktu yang lama. Bagi generasi muda, memulai dengan waktu singkat dapat menjadi langkah awal untuk membiasakan diri mendekatkan diri kepada Allah.
“Tidak usah lama-lama. Satu jam saja kira-kira bisa atau tidak? Tantangannya sederhana itu,” jelasnya.
Nidlom juga menegaskan bahwa iktikaf secara syariat dilakukan di masjid, sebagaimana disebutkan dalam berbagai riwayat.
“Iktikaf itu tempatnya di masjid. Jadi bukan di warung kopi, bukan di rumah, tetapi di masjid,” tegasnya.
Iktikaf seharusnya tidak hanya menjadi aktivitas ritual semata, tetapi juga menjadi sarana untuk mencapai pengalaman spiritual yang lebih mendalam.
Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim yang diceritakan dalam QS Al-Baqarah ayat 260 mengenai dialog dengan Allah tentang bagaimana Allah menghidupkan yang mati. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan keyakinan, tetapi juga ketenangan hati melalui pengalaman spiritual.
“Jika ingin pengalaman spiritual yang lebih baik, maka momentum iktikaf itu harus memiliki capaian bagi diri sendiri, sekaligus menjadi kesempatan memohon kepada Allah agar diberikan anugerah yang istimewa,” pungkasnya.














