MAKLUMAT — Wakil Ketua Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, Faozan Amar, menekankan pentingnya memaknai iktikaf sebagai momentum untuk menata kembali ketenangan batin di tengah situasi global yang semakin tidak menentu dengan berbagai krisis dan konflik.
Refleksi tersebut ia sampaikan ketika memberikan ceramah tarawih bertajuk “Iktikaf di Tengah Bisingnya Krisis Global” di Masjid Al Falah Bendungan Hilir, Selasa (10/3/2026), bertepatan dengan malam ke-22 Ramadan 1447 Hijriah.
“Dunia hari ini terasa sangat bising. Setiap hari kita disuguhi berbagai kabar tentang konflik geopolitik, tekanan ekonomi global, hingga ketegangan antarnegara. Dalam situasi seperti itu, iktikaf menjadi ruang untuk menenangkan hati sekaligus menjernihkan pikiran,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa iktikaf tidak hanya bermakna sebagai ibadah spiritual, tetapi juga memiliki dimensi refleksi yang mendalam bagi kehidupan manusia modern. Dalam kesunyian masjid, kata dia, seseorang memiliki kesempatan untuk mengevaluasi diri sekaligus memperbaiki orientasi hidup.
Menurutnya, banyak keputusan keliru dalam kehidupan pribadi maupun organisasi lahir dari pikiran yang terlalu bising oleh tekanan dan kekhawatiran.
“Dalam keheningan iktikaf, manusia belajar menata kembali hati dan pikirannya. Dari situ lahir ketenangan, dan dari ketenangan itulah muncul kejernihan dalam mengambil keputusan,” kata Faozan.
Tak cuma itu, Faozan juga mengaitkan nilai iktikaf dengan perspektif manajemen strategi. Menurutnya, dalam dunia kepemimpinan modern, proses menepi sejenak untuk refleksi sering disebut sebagai strategic retreat, yakni menarik diri sementara dari hiruk-pikuk aktivitas untuk menyusun langkah yang lebih matang.
“Iktikaf mengajarkan kita bahwa berhenti sejenak bukan berarti mundur. Justru dari jeda itulah seseorang bisa melihat persoalan dengan lebih jernih,” sebutnya.
Sepuluh malam terakhir Ramadan, lanjut Faozan, merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan spiritual upgrading agar memiliki ketahanan moral dan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Ketika dunia semakin gaduh, umat Islam diajarkan untuk menemukan ketenangan melalui kedekatan kepada Allah. I’tikaf adalah salah satu cara untuk menjaga kejernihan hati di tengah badai kehidupan,” tandasnya.












