Mengenal Dry Ice, “Pawang Hujan” untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

Mekanisme dry ice untuk modifikasi cuaca. Foto/bahan diolah AI dari BMKG

MAKLUMAT — Dry ice atau es kering menjadi salah satu bahan yang digunakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kabut asap di Kalimantan Tengah. Bahan ini dimanfaatkan untuk mengganggu lapisan inversi atmosfer yang dapat memerangkap asap dan polutan di dekat permukaan tanah.

Meski kerap diasosiasikan dengan istilah pawang hujan, penggunaan dry ice dalam OMC bukanlah cara langsung untuk memadamkan api. Teknik ini ditujukan untuk memengaruhi kondisi atmosfer agar pergerakan udara lebih mendukung penyebaran asap dan, dalam kondisi tertentu, membantu proses pembentukan presipitasi.

Lantas, apa itu dry ice, bagaimana cara kerjanya, dan apa perannya dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)?

Apa Itu Dry Ice?

Dry ice adalah karbon dioksida (CO₂) dalam bentuk padat. Berbeda dengan es yang terbuat dari air, dry ice tidak mencair menjadi cairan ketika menyerap panas. Pada tekanan atmosfer normal, bahan ini langsung berubah dari padat menjadi gas melalui proses yang disebut sublimasi.

Karakteristik tersebut membuat dry ice dapat dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, mulai dari menjaga suhu produk selama pengiriman hingga aplikasi tertentu dalam modifikasi cuaca.

Dalam OMC, dry ice digunakan sebagai bahan semai untuk memengaruhi proses fisik di atmosfer. Penggunaannya membutuhkan perhitungan meteorologis, pemantauan kondisi atmosfer, serta penentuan lokasi dan waktu penyemaian yang sesuai.

Dengan demikian, dry ice bukan bahan pemadam api seperti air atau busa pemadam. Perannya dalam penanganan karhutla lebih berkaitan dengan upaya mengelola kondisi atmosfer dan mendukung penanganan dampak kabut asap.

Bagaimana Dry Ice Bekerja dalam Operasi Modifikasi Cuaca?

Salah satu kondisi atmosfer yang menjadi perhatian BMKG ketika menangani kabut asap adalah inversi suhu.

Inversi suhu terjadi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan atmosfer tertentu. Kondisi ini berbeda dari pola umum ketika suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian.

Lapisan inversi dapat menghambat pergerakan udara secara vertikal. Akibatnya, asap dari kebakaran hutan dan lahan serta polutan lainnya berpotensi terperangkap di dekat permukaan tanah.

Baca Juga  Bara Karhutla Belum Padam, Hotspot Nasional Naik Jadi 154 Titik

Kondisi tersebut dapat memperburuk kualitas udara dan mengurangi jarak pandang, terutama ketika kebakaran menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Dalam operasi di Kalimantan Tengah, BMKG menggunakan dry ice untuk mengupayakan perubahan kondisi pada lapisan inversi. Tujuannya adalah mendukung pergerakan udara yang lebih baik sehingga asap tidak terus terakumulasi di dekat permukaan.

Namun, keberhasilan teknik ini bergantung pada kondisi atmosfer dan hasil pemantauan di lapangan. Penggunaan dry ice tidak otomatis menghilangkan kabut asap, menurunkan polusi, atau menghasilkan hujan.

Mengapa Dry Ice Digunakan untuk Mengatasi Kabut Asap?

Kabut asap akibat karhutla dapat bertahan ketika asap dan partikel polutan terperangkap di lapisan udara dekat permukaan. Karena itu, penanganannya tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga kondisi meteorologis yang memengaruhi penyebaran polutan.

BMKG memusatkan operasi di sekitar Kota Palangka Raya dan Bandara Tjilik Riwut, Kalimantan Tengah, untuk mengganggu lapisan inversi atmosfer.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa penggunaan dry ice menjadi pendekatan yang pertama kali diuji dalam pelaksanaan OMC di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.

“Kami berharap upaya ini dapat membantu mengurangi dampak kabut asap dan mendukung peningkatan kualitas udara bagi masyarakat,” kata Faisal dikutip dari laman BMKG, Ahad (31/10/2026).

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menerangkan bahwa lapisan inversi dapat menghambat pencampuran udara secara vertikal sehingga asap dan polutan berpotensi tertahan di dekat permukaan.

Menurut data yang disampaikan BMKG, dalam beberapa hari pelaksanaan operasi, tingkat PM2.5 dilaporkan menurun sekitar 30–58 persen. BMKG juga menyebut operasi tersebut cukup efektif menghilangkan kondisi suhu isotherm.

Meski demikian, angka penurunan PM2.5 tersebut perlu dipahami sebagai hasil pemantauan selama periode operasi, bukan bukti bahwa dry ice menjadi satu-satunya penyebab penurunan konsentrasi polutan. Pengaruh hujan, perubahan angin, aktivitas kebakaran, dan kondisi atmosfer lainnya juga perlu diperhitungkan.

Dry Ice dan NaCl, Apa Bedanya?

Dalam Operasi Modifikasi Cuaca, BMKG tidak hanya menggunakan dry ice, tetapi juga natrium klorida (NaCl) atau garam.

Baca Juga  Warga Kalteng Terkepung Asap, Ultah Istri Gubernur Jadi Sorotan DPR

Kedua bahan tersebut memiliki karakteristik dan fungsi dalam proses penyemaian yang berbeda.

Dry ice digunakan dalam pendekatan untuk memengaruhi kondisi atmosfer, termasuk lapisan inversi. Sementara itu, NaCl digunakan dalam penyemaian yang disesuaikan dengan perkembangan dan karakteristik awan di wilayah sasaran.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa pemilihan bahan semai disesuaikan dengan kebutuhan operasi dan kondisi atmosfer.

“Tim menyesuaikan penggunaan bahan semai dengan kebutuhan operasi dan kondisi atmosfer. Selain dry ice, BMKG menggunakan natrium klorida (NaCl) untuk penyemaian yang disesuaikan dengan pertumbuhan awan di wilayah sasaran,” ungkapnya.

Dengan demikian, penyemaian bahan semai tidak dilakukan secara sembarangan. Tim operasional harus mempertimbangkan hasil pengamatan atmosfer, pertumbuhan awan, dan perkembangan cuaca di wilayah target.

Bagaimana Hasil Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan Tengah?

Dalam pelaksanaan OMC di Kalimantan Tengah pada Oktober 2026, BMKG mengerahkan delapan pesawat untuk mendukung kegiatan penyemaian.

Armada tersebut terdiri atas tiga pesawat Casa 212 dengan registrasi A-2107, A-2103, dan A-2119; satu pesawat CN-295 dengan registrasi A-2904; satu pesawat Hercules dengan registrasi A-1328; dua pesawat Caravan; serta satu pesawat Pilatus.

Pada 24 Oktober 2026, BMKG melaksanakan delapan sorti penerbangan, terdiri atas lima sorti menggunakan dry ice dan tiga sorti menggunakan NaCl.

Sementara itu, sejak operasi dimulai pada 18 Oktober hingga 23 Oktober 2026, BMKG telah melaksanakan 19 sorti penerbangan dengan total waktu terbang 40 jam 36 menit. Sebanyak 15 sorti menggunakan dry ice dan empat sorti menggunakan NaCl.

Hingga 23 Oktober 2026, bahan semai yang telah digunakan mencapai 12,8 ton dry ice dan 3,6 ton NaCl. Penyemaian dry ice difokuskan di kawasan bandara dan taman nasional, sedangkan penggunaan NaCl mengikuti perkembangan pertumbuhan awan di wilayah sasaran.

BMKG juga memantau jarak pandang dan konsentrasi PM2.5 untuk mengevaluasi perkembangan kondisi udara.

Berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut pada 25 Oktober 2026, jarak pandang yang semula mencapai 900 meter menurun menjadi 200 meter pada rentang pukul 00.00–06.00 WIB. Setelah itu, jarak pandang berkisar 100–200 meter hingga pukul 16.00 WIB.

Baca Juga  BMKG Peringatkan Potensi Hujan Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia

Selama penyemaian berlangsung pada pukul 08.00–16.00 WIB, jarak pandang cenderung bertahan di sekitar 200 meter.

“Data ini menjadi salah satu dasar evaluasi bersama parameter kualitas udara dan hasil pengamatan atmosfer pada lapisan atas,” ujar Tri Handoko Seto.

BMKG juga menggunakan radar cuaca dan satelit untuk memantau hujan. Data pengamatan menunjukkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Seruyan, Kotawaringin Timur, Barito Timur, dan Katingan.

Dalam perkembangan berikutnya, BMKG melaporkan bahwa hujan yang cukup signifikan selama tiga hari telah membasahi lahan gambut dan diikuti penurunan jumlah titik panas. Data SiPongi+ Kementerian Kehutanan yang dirujuk dalam laporan tertanggal 28 Oktober 2026 menunjukkan tidak ada titik panas yang terdeteksi selama 12 jam sebelumnya pada tingkat kepercayaan rendah, sedang, maupun tinggi.

Data tersebut menggambarkan perkembangan kondisi selama operasi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa penurunan titik panas hanya disebabkan oleh OMC.

Apakah Dry Ice Bisa Memadamkan Karhutla?

Tidak secara langsung. Dry ice bukan bahan yang digunakan untuk menyiram atau memadamkan api di lahan yang terbakar.

Pemadaman karhutla tetap membutuhkan penanganan langsung terhadap titik api, pengendalian penyebaran kebakaran, serta upaya pencegahan kebakaran berulang. Pada lahan gambut, penanganan juga perlu mempertimbangkan kemungkinan api menjalar di bawah permukaan tanah.

OMC merupakan salah satu pendekatan pendukung yang memanfaatkan kondisi atmosfer. Operasi ini dapat diarahkan untuk membantu pengelolaan hujan atau memengaruhi kondisi tertentu di atmosfer, bergantung pada tujuan dan situasi meteorologis.

Dalam penanganan kabut asap, BMKG mengevaluasi jarak pandang, konsentrasi PM2.5, profil atmosfer, dan sebaran hujan untuk menentukan langkah operasional berikutnya.

Pelaksanaan operasi di Kalimantan Tengah melibatkan sejumlah instansi, antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI Angkatan Udara, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pertahanan, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.***