MAKLUMAT — Jauh dari keluarga saat Hari Raya Idulfitri menjadi pengalaman yang tidak mudah bagi sebagian perantau. Hal itu pula yang dirasakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Iyaka Samanda Caysar, yang harus merayakan Lebaran di Malaysia tahun ini.
Berlebaran di Malaysia menjadi kisah tersendiri. Tidak ada kemeriahan seperti di tanah air, tidak pula suasana takbir yang riuh di lingkungan sekitar. Yaka, sapaan akrabnya, justru menemukan makna lain dari Idulfitri di negeri orang.
Saat ini, Yaka tengah mengikuti program student mobility di INTI International University, Negeri Sembilan. Program tersebut berlangsung selama Januari hingga Mei 2026. Lingkungan kampus yang multikultural dengan mayoritas non-Muslim membuat suasana Lebaran terasa kontras dibandingkan Indonesia.
“Untuk bisa melaksanakan salat Ied, kami harus keluar dari area kampus dan menempuh perjalanan beberapa kilometer menuju masjid terdekat,” ujarnya. Keterbatasan fasilitas ibadah di dalam kampus menjadi tantangan. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap menjalankan tradisi Lebaran.
Perpaduan Kultur Bangsa
Suasana hangat justru ia temukan dari sesama mahasiswa Indonesia yang tinggal di satu hostel. Kebersamaan sederhana itu menjadi pengganti kehadiran keluarga di kampung halaman. “Lebaran di sini terasa sangat berbeda, tidak semeriah di Indonesia,” tuturnya.
Di luar komunitas kecil tersebut, suasana kampus cenderung lengang. Banyak mahasiswa internasional memilih berlibur, sehingga nuansa hari raya nyaris tak terasa. Meski begitu, pengalaman ini justru memberi ruang refleksi bagi Yaka.
Ia menyadari bahwa makna Idulfitri tidak selalu identik dengan keramaian. Kebersamaan, meski dalam lingkup kecil, tetap mampu menghadirkan kehangatan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya. Yaka mengikuti program ini melalui rekomendasi dosen dan harus melewati proses seleksi yang tidak mudah. “Kesempatan ini jadi titik penting bagi saya untuk berkembang,” ungkapnya.
Bukan Sekadar Tantangan
Tak hanya pengalaman spiritual, program ini juga membuka wawasan global. Ia belajar memahami sistem pendidikan luar negeri sekaligus mengenali standar yang dibutuhkan industri internasional.
“Program ini saya ikuti untuk memahami apa yang diinginkan perusahaan-perusahaan besar dari mahasiswa,” jelasnya.
Keberanian Yaka merantau dan keluar dari zona nyaman mencerminkan karakter mahasiswa UMM yang adaptif dan tangguh. Ia pun berpesan kepada mahasiswa lain untuk mempersiapkan diri sejak dini, terutama dalam penguasaan bahasa Inggris dan peningkatan kualitas diri.
Kisah mahasiswa UMM Lebaran di Malaysia ini menjadi gambaran bahwa proses belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas. Di balik kesederhanaan perayaan Idulfitri di negeri jiran, tersimpan pengalaman berharga tentang adaptasi, kemandirian, dan keberanian menatap dunia global.













