PAD Meningkat tanpa Kenaikan Pajak, BI Nilai Kinerja Ekonomi Jember Menguat

MAKLUMAT – Kinerja ekonomi Kabupaten Jember sepanjang 2025 dinilai menunjukkan penguatan. Tidak hanya dari sisi pertumbuhan, tetapi juga kemampuan daerah meningkatkan pendapatan tanpa menambah beban pajak.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Iqbal Reza Nugraha menyebutkan, kombinasi pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) menjadi indikator penting dalam menilai kualitas ekonomi daerah.

“Banyak daerah mencatat pertumbuhan, tetapi tidak diikuti peningkatan pendapatan. Ada juga yang PAD-nya naik karena tarif pajak dinaikkan. Dalam kasus Jember, keduanya bergerak beriringan,” kata Iqbal, Selasa (7/4/2026).

Dalam forum yang melibatkan sejumlah lembaga, antara lain, Badan Pusat Statistik, Otoritas Jasa Keuangan, dan BPJS, disebutkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Jember pada 2025 merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada saat yang sama, PAD meningkat sekitar 36 persen tanpa kenaikan tarif pajak dan retribusi.

Menurut Iqbal, capaian tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang optimalisasi pendapatan melalui perbaikan tata kelola. Ia menilai peningkatan penerimaan tidak selalu harus ditempuh melalui kebijakan kenaikan tarif.

Digitalisasi keuangan daerah juga disebut berperan dalam mendorong transparansi dan efisiensi pengelolaan anggaran.

Untuk 2026, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jember masih akan berlanjut. Proyeksi itu antara lain ditopang oleh belanja pemerintah pusat, terutama pada sektor infrastruktur, pertanian, dan pendidikan. Selain itu, munculnya aktivitas ekonomi baru seperti pembangunan rumah sakit, industri pengalengan ikan, serta peningkatan sektor pariwisata dinilai dapat memperluas basis pertumbuhan.

Baca Juga  Dukung Fatwa MUI, DPD IMM Jatim: Sejalan dengan Nilai-nilai Keadilan Sosial yang Diperjuangkan IMM

Kunjungan wisata menjadi salah satu indikator yang menguat. Pada periode Idulfitri, jumlah wisatawan ke sejumlah destinasi, seperti Watu Ulo, dilaporkan meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

“Tren ini diperkirakan akan semakin terlihat dampaknya terhadap kinerja ekonomi tahun berikutnya,” ujar Iqbal.

Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berkembang di Jember juga diproyeksikan berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal, terutama melalui aktivitas penyediaan bahan pangan dan distribusi.

Meski terdapat peningkatan aktivitas ekonomi, Bank Indonesia menilai tekanan inflasi masih dalam batas terkendali. Kenaikan harga yang terjadi pada periode Ramadan dan Idulfitri disebut sebagai pola musiman yang cenderung mereda setelahnya.

Ke depan, pengendalian inflasi akan diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Termasuk intervensi pasar dan distribusi bantuan dalam program “Bunga Desaku”.

Program tersebut juga diarahkan untuk mengurangi ketimpangan wilayah. Sejumlah kawasan pinggiran —seperti desa, kawasan perkebunan, hutan, dan pesisir— masih menjadi kantong kemiskinan yang memerlukan perhatian lebih.

Iqbal menegaskan, upaya penguatan ekonomi daerah pada akhirnya diarahkan untuk menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan berbagai indikator tersebut, kinerja ekonomi Jember dinilai berada dalam tren positif, meski tetap memerlukan konsistensi kebijakan dan penguatan distribusi manfaat pembangunan di berbagai wilayah. (SPT)

Baca Juga  Pajak Parkir di Surabaya: Ada 2.642 Titik, Mayoritas Belum Gunakan Sistem Palang