MAKLUMAT — Belakangan viral berbagai unggahan di sosial media yang menarasikan kematian bayi berusia 4 bulan saat orang tuanya mencoba metode sleep training.
Bayi tersebut ditemukan sudah tak bernyawa setelah dibiarkan menangis di kasur selama 2 jam. Meski kejadiannya telah lama berlalu, kasus ini kembali viral belakangan ini.
Dokter Spesialis Anak, Shela Putri Sundawa menanggapi hal tersebut dan menegaskan agar orang tua tidak pernah membiarkan bayi menangis sendirian tanpa pengawasan, terutama dalam durasi yang sangat lama.
“Saya rasa saya perlu menanggapi ini dari POV dokter anak. Satu hal penting yg perlu dipahami: Menangis adalah satu-satunya ‘bahasa’ bayi. Jika ia menangis, itu adalah panggilan darurat,” ujarnya, melansir akun X pribadinya @oxfara pada Kamis (9/4/2026).
Ia kemudian menjelaskan bahwa kejadian ini menjadi pengingat keras bagi semua orang tua bahwa bayi belum memiliki kemampuan untuk menenangkan dirinya sendiri. Ketika bayi menangis dalam waktu lama tanpa respons, mereka bisa mengalami kelelahan ekstrem.
“Ketika bayi menangis dalam waktu lama tanpa respon, yang terjadi bukanlah mereka ‘belajar mandiri’, melainkan mereka mengalami kelelahan ekstrem atau kondisi medis yang tidak terdeteksi karena tangisannya diabaikan,” ujarnya.
Ia juga meluruskan anggapan di masyarakat bahwa kedekatan orang tua dengan bayi adalah bentuk memanjakan. Ia menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan keinginan orang tua untuk selalu dekat dengan anak.
“Tidak ada yang salah dengan keinginan orangtua untuk selalu dekat dengan anak. Menempel dengan anak saat tidur atau segera merespons tangisannya saat sedang memasak bukanlah tanda ‘memanjakan’, melainkan pemenuhan hak dasar bayi untuk merasa aman,” jelasnya.
“Tidur adalah proses perkembangan (milestone), bukan perlombaan. Setiap anak punya waktunya masing-masing untuk bisa tidur lebih tenang tanpa harus dipaksa dengan metode yang mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan emosionalnya,” imbuhnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa, apa pun metode yang dipilih, keamanan adalah hal yang tidak bisa ditawar. Bayi usia 4 bulan masih sangat berisiko mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) maupun kecelakaan saat tidur, seperti tersedak atau tertutupnya jalan napas.
Menurutnya, membiarkan bayi tanpa pengawasan —terlebih saat menangis— selama 2 jam sangat berbahaya karena dapat membuat orang tua kehilangan waktu emas untuk melakukan intervensi jika terjadi sesuatu.
“Jika kita merujuk pada teori perkembangan psikososial Erik Erikson, fase pertama kehidupan bayi (0-12 bulan) adalah fase trust vs mistrust (kepercayaan vs ketidakpercayaan). Pada usia ini, dunia bagi bayi adalah tempat yang asing. Satu-satunya cara mereka berkomunikasi adalah dengan menangis,” jelasnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa saat orang tua bersikap responsif (segera merespons tangisan bayi), anak akan belajar bahwa ‘dunia ini aman’ dan ‘orang tuanya dapat diandalkan’. Hal ini menjadi dasar terbentuknya secure attachment (kelekatan aman).
“Sebaliknya, jika tangisan diabaikan secara konsisten dan lama, bayi akan mengembangkan mistrust. Mereka berhenti menangis bukan karena sudah ‘pintar’ tidur, tapi karena mereka belajar bahwa tidak ada yang akan datang menolong —sebuah kondisi yang disebut learned helplessness,” pungkasnya.














