MAKLUMAT — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia atau DPP GAMKI bersama sejumlah lembaga kristen dan organisasi kemasyarakatan telah melaporkan Jusuf Kalla ke Kepolisian RI.
Laporan itu berawal dari ceramah Jusuf Kalla dalam acara Ramadhan Public Lecture yang diadakan oleh Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (5/3/2026) silam.
Ceramah Jusuf Kalla dengan tema Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar itu juga telah diunggah oleh Kanal YouTube Masjid Kampus UGM.
GAMKI lalu menyoroti bagian video pada menit ke-9 hingga ke-10. GAMKI juga menulis ulang pernyataan Jusuf Kalla melalui laman resmi mereka pada Ahad (12/4/2026).
“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Semua pihak. Kristen juga berpikir begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti,” ujar Jusuf Kalla.
Ketua Umum DPP GAMKI, Sahat Sinurat lalu membacakan tiga poin sebagai pernyataan sikap terhadap ucapan Jusuf Kalla tersebut.
”Pertama, menyatakan bahwa agama Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh orang Islam akan syahid masuk surga, justru agama Kristen mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia bahkan musuh sekalipun,” ujarnya.
Selanjutnya, Sahat juga menyebut bahwa pihaknya mengecam keras Jusuf Kalla serta akan membawa polemik ini ke ranah hukum. “Kedua, mengecam keras pernyataan Bapak Jusuf Kalla yang menyakiti hati kami umat Kristen dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat,” katanya.
“Ketiga, maka bersama ini kami yang terdiri dari berbagai Lembaga Kristen dan Organisasi Masyarakat akan melaporkan Bapak Jusuf Kalla ke-Kepolisian RI,” imbuhnya.
Sementara itu, kanal YouTube Masjid Kampus UGM juga buka suara. Mereka menyematkan komentar di unggahan video tersebut yang mengimbau publik untuk menyimak video secara utuh, bukan sekadar potongan yang beredar.
“Jemaah sekalian, kami mohon dengan sangat untuk menyimak video secara utuh, bukan hanya potongan-potongan yang beredar. Seringkali cuplikan yang tidak lengkap dapat menimbulkan kesalahpahaman karena konteks pembicaraan tidak tersampaikan dengan baik,” ujarnya.
“Mari kita bersikap adil dalam menilai suatu hal, dengan melihat secara menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan atau menyebarkannya lebih lanjut. Adapun apabila memerlukan klarifikasi lebih lanjut, silakan langsung ke pihak yang bersangkutan. Terima kasih atas perhatian dan kebijaksanaannya,” imbuh pihak Masjid Kampus UGM.












