El Nino “Godzilla” Ancam Panen, Komoditas Ini Paling Rentan

dampak elnino godzilla bagi panen

MAKLUMAT – Fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki “Godzilla” mulai mengancam sektor pertanian. Gelombang panas dan berkurangnya curah hujan menekan produksi pangan dan meningkatkan risiko gagal panen.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya mengatakan kondisi ini berdampak langsung pada proses biologis tanaman. Suhu tinggi mempercepat penguapan air, mengganggu fotosintesis, serta merusak fase penting seperti pembungaan dan penyerbukan.

“Dampak paling nyata adalah penurunan produktivitas karena proses biologis tanaman terganggu, terutama pada fase reproduktif,” ujar Oki dikutip, Senin (20/4/2026).

Ia menegaskan, panas yang terjadi saat ini bukan lagi fenomena sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas.

“Panas yang dirasakan sekarang bukan kejadian sementara. Ini bagian dari tren yang lebih luas, di mana titik suhu normal sudah bergeser ke arah yang lebih hangat,” jelasnya.

Komoditas Paling Rentan

Sejumlah komoditas strategis mulai menunjukkan kerentanan tinggi terhadap suhu ekstrem, yaitu padi, jagung, cabai, tomat, dan kopi.

“Kenaikan suhu sekecil apa pun berdampak signifikan terhadap produksi. Setiap kenaikan 1 derajat Celsius bisa menurunkan hasil padi, jagung, hingga kedelai. Ini bukan asumsi, tapi indikator nyata yang sudah terukur,” papar Oki.

Baca Juga  Muhammadiyah Pelopori Transisi Energi dari Ternate

Gejala Sudah Muncul

Dampak di lapangan mulai terlihat meski belum selalu tercatat sebagai gagal panen total. Tanaman cepat layu saat siang hari, pembungaan terganggu, dan kualitas hasil menurun.

Oki menekankan ancaman terbesar muncul saat panas bertemu dengan kekurangan air. Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika dua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya jauh lebih berat bagi tanaman.

Ia juga mengingatkan penurunan hasil sering terjadi bertahap sebelum akhirnya terlihat dalam data produksi.

“Penurunan kualitas atau hasil sering terjadi lebih dulu sebelum tercatat sebagai penurunan produksi secara resmi,” tambahnya.

Adaptasi Jadi Kunci

Petani perlu bergerak cepat untuk mengurangi risiko. Langkah yang bisa dilakukan antara lain menyesuaikan waktu tanam, mengoptimalkan penggunaan air, melindungi fase berbunga dan menggunakan varietas tahan panas

“ Di sisi lain, pemerintah harus memperkuat sistem pendukung seperti informasi cuaca, distribusi benih adaptif, serta infrastruktur irigasi,” kata Oki

El Nino “Godzilla” menunjukkan bahwa ancaman terhadap pertanian tidak lagi bersifat musiman, melainkan struktural. Dampaknya sering muncul bertahap—dimulai dari penurunan kualitas, lalu berujung pada penurunan produksi.

Jika tidak diantisipasi cepat, kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga pangan dan memperlemah daya beli masyarakat. Ketahanan pangan kini bergeser dari isu jangka panjang menjadi tekanan nyata yang sedang berlangsung.

Baca Juga  Anggota DPR Tegaskan Pentingnya Pemberdayaan Peran Perempuan Menuju Indonesia Emas 2045