Maklumat Pemprov Jatim: Khofifah Minta Warga Siaga Hadapi Kemarau Ekstrem

Maklumat-Pemprov-Jatim

MAKLUMAT — Maklumat Pemprov Jatim. Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh kepala daerah, perangkat pemerintah, hingga masyarakat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kemarau ekstrem yang dipicu fenomena El Nino.

Seruan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026, Ahad (26/4). Menurut Khofifah, ancaman kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus diantisipasi sejak dini.

“Kesiapsiagaan adalah kunci. Mitigasi harus dilakukan secara terencana, terukur, dan berbasis data agar dampak bencana bisa ditekan semaksimal mungkin,” tegasnya.

Khofifah meminta seluruh kepala daerah di kabupaten/kota bergerak proaktif sebelum puncak musim kemarau tiba. Langkah antisipasi yang dimaksud mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan, kesiapan suplai air bersih, pengawasan titik rawan kebakaran, hingga edukasi masyarakat tentang penggunaan air secara bijak.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar, karena tindakan tersebut berpotensi memicu karhutla saat cuaca kering mencapai puncaknya.

BMKG Prediksi Kemarau Panjang

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan musim kemarau 2026 di Jawa Timur mulai terjadi pada Mei di sekitar 56,9 persen wilayah. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus dengan cakupan sekitar 70,9 persen wilayah.

Baca Juga  Khofifah: Muktamar NU Harus Jadi Ruang Evaluasi dan Menyusun Langkah Baru

Bahkan, periode kritis diprediksi meluas hingga 72,5 persen wilayah dengan durasi kemarau mencapai 220–240 hari di sejumlah zona musim.

“Kita akan menghadapi tekanan kekeringan yang lebih tinggi dibanding tahun lalu. Karena itu, respons kita tidak boleh biasa-biasa saja,” ujar Khofifah.

Risiko Bencana Tetap Jadi Ancaman

Pemprov Jatim mencatat, sepanjang Januari hingga 31 Maret 2026 telah terjadi 121 kejadian bencana alam. Rinciannya, 82 kejadian angin kencang dan 27 kejadian banjir, sisanya berupa longsor serta bencana hidrometeorologi lainnya. Dampaknya tidak kecil. Infrastruktur rusak, aktivitas ekonomi terganggu, dan puluhan ribu kepala keluarga terdampak.

Khofifah menegaskan, tingginya dinamika bencana pada triwulan pertama tahun ini harus menjadi alarm dini bagi semua pihak.“Mari kita kuatkan sinergi, percepat langkah, dan pastikan Jawa Timur tetap aman, tangguh, dan produktif menghadapi musim kemarau 2026,” tandasnya.***