MAKLUMAT – Skandal besar mencoreng dunia pendidikan tinggi Indonesia. Polrestabes Surabaya berhasil membongkar jaringan joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 yang beroperasi secara sistematis.
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas hingga ke akar-akarnya demi menjaga marwah sistem seleksi nasional.
Reni memberikan apresiasi tinggi kepada Polrestabes Surabaya yang sigap mengendus praktik lancung ini. Baginya, terbongkarnya sindikat ini adalah alarm keras bahwa kecurangan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bukan lagi sekadar aksi individu, melainkan kejahatan terorganisasi.
”Kasus ini harus diusut sampai tuntas. Jangan ada yang tersisa, karena ini menyangkut kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan kita,” tegas Reni dalam keterangannya kepada maklumat.id, Minggu (10/5/2026).
Modus Canggih dan Tarif Fantastis
Kecurigaan bermula saat pengawas di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menemukan ketidakcocokan data administrasi peserta berinisial HR. Setelah penyelidikan mendalam, polisi menemukan fakta mencengangkan: jaringan ini telah beroperasi bertahun-tahun dengan pembagian tugas yang sangat rapi.
Tak tanggung-tanggung, sindikat ini mematok tarif hingga Rp700 juta bagi peserta yang ingin lolos ke jurusan bergengsi, seperti Fakultas Kedokteran di PTN favorit.
Reni juga memuji ketatnya sistem pengawasan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun ini. “Kemampuan mendeteksi kecurangan ini membuktikan ada peningkatan pengamanan. Dunia pendidikan kita tidak boleh dikotori oleh praktik yang merusak meritokrasi,” imbuh kader PKS itu.
Pendidikan dalam Bayang-Bayang Kapitalisme Instan
Terbongkarnya sindikat dengan tarif ratusan juta ini menunjukkan bahwa kursi di PTN favorit, khususnya Kedokteran, masih dipandang sebagai komoditas ekonomi bernilai tinggi daripada pencapaian akademik.
Angka Rp700 juta mencerminkan adanya “pasar” yang rela membayar mahal demi status dan jaminan masa depan secara instan. Jika tidak diputus hingga ke aktor intelektualnya, praktik ini akan terus berevolusi menggunakan teknologi yang lebih canggih, yang pada akhirnya hanya akan menyisakan kursi bagi mereka yang kaya, bukan mereka yang mampu secara kognitif.
Sebelumnya, Polrestabes Surabaya membongkar kasus sindikat perjokian Seleksi Nasional Berdasarkan Tes-Ujian Tulis Berbasis Komputer (SNBT-UTBK, yang diduga beroperasi sejak 2017 hingga 2026, dengan jaringan lintas daerah.
Sebanyak 14 tersangka sudah ditahan. Yang memprihatinkan, Tiga dari 14 tersangka adalah dokter aktif berinisial BPH (29 tahun), DP (46 tahun) dan MI (31 tahun). Mereka berasal dari Sumenep, Sidoarjo dan Pacitan.













