MAKLUMAT — Suasana penuh refleksi dan ketenangan mewarnai kegiatan pembinaan keagamaan bertajuk “Hakikat Kurban sebagai Jalan Perubahan Jiwa” di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pontianak, Jumat (15/5/2026).
Kegiatan yang terselenggara melalui kerja sama antara pihak lapas dan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Kalimantan Barat tersebut menghadirkan Samsul Hidayat sebagai narasumber, yang memberikan tausiyah serta renungan keagamaan menjelang Hari Raya Iduladha kepada para warga binaan.
Dalam tausiyahnya, Samsul Hidayat menegaskan bahwa Iduladha tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai momentum spiritual untuk “menyembelih” ego, kesombongan, amarah, serta kesalahan-kesalahan di masa lalu.
“Kurban sejatinya adalah latihan kejujuran batin. Momentum untuk mengalahkan diri sendiri dan membuka pintu perubahan jiwa,” ujarnya di hadapan warga binaan.
Ia juga mengangkat keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai simbol keikhlasan dan ketaatan dalam menghadapi ujian hidup. Menurutnya, setiap ujian merupakan jalan bagi manusia untuk kembali mengenal diri dan memperbaiki kehidupan.
“Bisa jadi tempat ini bukan akhir kehidupan, tetapi awal perjalanan memperbaiki jiwa,” tandas Samsul.
Dalam kesempatan itu, Samsul juga menekankan bahwa Islam senantiasa membuka ruang perubahan bagi setiap manusia. Kesalahan masa lalu tidak menutup peluang seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.
Mengutip Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 222. Sementara melalui Surah Ar-Ra’d ayat 11, ia mengajak warga binaan untuk menjadikan penyesalan sebagai energi perubahan, bukan sekadar kesedihan.
“Kita semua memiliki kesempatan untuk berubah. Yang paling penting adalah keberanian menghadapi diri sendiri dan kemauan memperbaiki hidup,” tandas Samsul.
Sementara itu, Ketua LDK PWM Kalbar, Aswan Bahri, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya dakwah dan pembinaan spiritual yang humanis bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan.
Aswan menilai, pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam menumbuhkan harapan, kesadaran, serta optimisme dalam menjalani kehidupan ke depan.














