MAKLUMAT – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memastikan bakal kembali menerapkan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 NU mendatang. Mekanisme musyawarah mufakat oleh para kiai sepuh ini khusus berlaku untuk menentukan Rais Aam PBNU periode berikutnya.
”Peserta muktamar akan memilih AHWA, lalu tim AHWA inilah yang menentukan Rais Aam,” ujar Ketua Panitia Muktamar ke-35 PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dikutip Kamis, (28/5/2026)
Gus Ipul menegaskan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU berada sepenuhnya di tangan para peserta muktamar (muktamirin).
“Apakah model pemilihannya sama atau ada perubahan, semua bergantung pada dinamika di forum muktamar nanti,” tambahnya.
Saat ini, bursa calon Rais Aam mulai menghangat dengan munculnya nama petahana KH Miftachul Akhyar dan mantan Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj. Sementara untuk kursi Ketua Umum, nama petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Menteri Agama, Nasaruddin Umar santer disebut-sebut bakal bertarung ketat.
Mengapa AHWA Krusial Bagi NU?
Penerapan kembali sistem AHWA di Muktamar ke-35 bukan sekadar urusan teknis pemungutan suara, melainkan upaya menjaga marwah spiritual jam’iyyah. Dengan menyerahkan mandat kepada sembilan kiai sepuh, NU berhasil meredam polarisasi politik praktis dan gesekan tajam yang kerap mewarnai pemilihan Rais Aam di masa lalu.
Namun, tantangan sesungguhnya justru bergeser ke pemilihan Ketua Umum (Tanfidziyah). Jika pemilihan Ketum diserahkan sepenuhnya secara langsung kepada muktamirin tanpa filter musyawarah ketat, potensi “perang bintang” antara kubu Gus Yahya dan Nasaruddin Umar diprediksi tetap akan memanaskan tensi muktamar.
Kehadiran Pondok Pesantren Al-Hamid Jakarta yang baru saja disurvei sebagai calon tuan rumah mengindikasikan bahwa persiapan logistik dan pengondisian massa sudah mulai berjalan di ibu kota.














