MAKLUMAT — Sore itu hujan turun pelan, tidak deras, tapi cukup membuat ruang kecil tempat biasa mereka berkumpul terasa lebih hangat. Pak Pacee duduk seperti biasa, ditemani kopi yang mulai dingin. Di depannya ada Mamad, Maman, dan juga Jajar yang sejak tadi sibuk membaca salinan aturan perusahaan dari layar telepon genggam.
“Pak…”, kata Mamad sambil mengernyit, “Ini saya baca ada kalimat begini, karyawan wajib mematuhi kebijakan perusahaan, baik suka maupun tidak suka.” Maman tertawa kecil, “Kalimatnya kayak orang lagi marah ya?”
Pak Pacee tersenyum tipis, mengatakan bahwa kadang aturan memang lahir bukan dari ketenangan, tapi dari ketakutan kehilangan kendali. Jajar yang sejak tadi diam ikut menyela, “Tapi bukankah perusahaan memang punya hak mengatur?”
Pak Pacee mengangguk pelan. Ia mengatakan bahwa dalam hubungan kerja, tentu perusahaan punya hak mengelola, ada yang disebut management prerogative. Karena kalau semua berjalan tanpa aturan, perusahaan bisa berubah jadi pasar malam.
Semua tertawa kecil. Pak Pacee melanjutkan sambil meletakkan cangkirnya, “Tapi hak mengatur itu bukan hak tanpa batas.” Maman mulai serius, “Berarti kalimat ‘baik suka maupun tidak suka’ itu bermasalah ya Pak?” Pak Pacee tidak langsung menjawab. Ia memandang hujan sebentar, seperti sedang memilih kata yang paling tidak melukai siapa pun.
“Begini, dalam aturan resmi, bahasa itu penting, kata-kata bisa menjadi jembatan, tapi bisa juga menjadi tekanan,” kata Pak Pacee. Mamad mengangguk pelan.
“Kalimat wajib patuh masih wajar,” lanjut Pak Pacee. Ia menjelaskan lagi, “Karena organisasi memang perlu disiplin, tapi ketika ditambah baik suka maupun tidak suka, kesannya jadi absolut, seolah pekerja tidak punya ruang berpikir, tidak punya hak keberatan, bahkan tidak punya hak bertanya.”
Jajar menyela, “Padahal hukum tetap memberi hak pekerja untuk menolak kalau kebijakannya melanggar aturan, ya Pak?” Betul, jawab Pak Pacee, ia melanjutkan bahwa dalam hubungan industrial, kepatuhan itu dibatasi oleh hukum, kepatutan, dan kemanusiaan.
Maman tersenyum kecil, dan menanyakan apakah hal itu mempunyai arti bahwa perusahaan tidak bisa semena-mena? Pak Pacee tersenyum, “Perusahaan yang sehat tidak takut pada pertanyaan.”
Hening sejenak, di sudut ruangan. Qiqi yang baru datang sambil membawa gorengan ikut nimbrung, “Pak, kadang perusahaan takut kalau pekerja terlalu banyak bertanya, katanya nanti susah diatur.”
Pak Pacee tertawa kecil, sembari berujar bahwa yang sulit diatur itu bukan orang yang bertanya, tapi orang yang sudah berhenti peduli. Semua terdiam. Pak Pacee melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Hubungan kerja itu sebenarnya bukan hubungan tuan dan hamba. Ia lebih mirip perahu panjang, ada yang memegang kemudi, ada yang mendayung, tapi kalau yang di depan memaksa arah tanpa mendengar suara di belakang, perahu bisa oleng,” jelas Pak Pacee.
Mamad tersenyum, menyebut jika Pak Pacee, kalau menjelaskan aturan selalu berubah jadi cerita. “Karena hidup manusia memang tidak pernah selesai dijelaskan hanya dengan pasal,” jawab Pak Pacee santai.
Jajar membuka lagi dokumen di tangannya, “Makanya di aturan perusahaan biasanya ditulis, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.” Pak Pacee mengangguk, menurutnya itu bahasa yang lebih sehat, karena perusahaan tetap dihormati, tapi pekerja juga tetap manusia.
Qiqi tiba-tiba bertanya polos, “Pak, kenapa banyak aturan kadang terasa ingin membuat orang takut?” Pak Pacee tersenyum samar, “Karena sebagian pemimpin mengira kepatuhan lahir dari rasa takut, padahal kepatuhan paling kuat justru lahir dari rasa dipercaya.”
Pak Pacee melanjutkan pelan, lalu menceritakan seorang filsuf dan ahli hukum bernama Jeremy Bentham asal Inggris. Bentham yang dikenal sebagai pendiri aliran utilitarianisme pernah mengatakan, hukum itu harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang. Itu yang disebut utilitarianisme.
Jajar mengangguk pelan, “Berarti aturan perusahaan juga harus membawa manfaat bersama?” Ya, jawab Pak Pacee, yang kemudian melanjutkan jika aturan hanya membuat satu pihak nyaman sementara pihak lain kehilangan suara, lama-lama aturan berubah jadi pagar berduri.
Qiqi yang sedari tadi diam tiba-tiba nyeletuk, “Berarti kalimat baik suka maupun tidak suka itu problemnya karena lebih mirip perintah mutlak daripada ruang bersama ya Pak?” Pak Pacee tersenyum, “Kamu mulai paham.” Ia lalu mengambil gelas kopinya yang hampir habis.
Teori Bentham menyebutkan, hukum bukan dibuat supaya orang takut, tapi supaya kehidupan bersama menjadi lebih baik. Jadi, kalau ada aturan yang justru membuat orang takut bicara, takut bertanya, atau takut menyampaikan keberatan, berarti ada yang perlu dievaluasi. Maman menghela napas, “Makanya banyak pekerja sebenarnya patuh, tapi diam-diam kehilangan rasa memiliki.”
Pak Pacee mengangguk, “Tapi ada teori lain. Hendrik Jacob Hamaker mengatakan, hukum itu lahir dari kesadaran masyarakat sendiri, negara hanya mengesahkan apa yang memang hidup dalam rasa keadilan masyarakat.” Mamad mengernyit, “Berarti hukum bukan cuma pasal?” Bukan, jawab Pak Pacee cepat, hukum itu juga perasaan.
Hujan mulai reda. Maman menatap keluar jendela, “Berarti perusahaan juga harus belajar mendengar ya, Pak?” Bukan hanya perusahaan, jawab Pak Pacee. Ia menjelaskan bahwa semua bentuk dan langgam kepemimpinan, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. Aturan dibuat agar manusia tertib, bukan agar manusia kehilangan martabatnya.
Maman menarik napas, “Kita juga pernah mendengar karena sempat viral, apa yang dilontorkan oleh para punggawa sebuah bangsa, ‘kalau tidak suka pemerintah, jangan ikut pemerintah yang saya pimpin’. Ada juga, ‘kalau mau kabur, kabur aja’. Sebagian orang menganggap itu ketegasan. Tapi sebagian lain merasa seperti sedang diminta diam.”
Pemimpin memang perlu ketegasan. Ketika kritik selalu dibalas dengan nada konfrontatif, ada risiko yang diam-diam tumbuh, orang mulai takut menyampaikan kegelisahannya. Padahal kritik belum tentu kebencian, justru sering kali kritik lahir karena rasa memiliki.
Orang yang benar-benar tidak peduli biasanya akan memilih diam dan pergi. Kekuasaan bisa jadi melelahkan, apalagi di zaman ketika semua orang bisa bicara dalam satu sentuhan jari, kadang belum kerja saja sudah dihujat.
Perlu diingat, pemimpin dipilih bukan untuk hidup nyaman. Ia dipilih untuk mendengar bahkan ketika yang didengar tidak menyenangkan, nada anti-kritik biasanya lahir bukan dari kekuatan, tetapi dari kekhawatiran kehilangan kendali.
Sejarah mencatat, banyak pemimpin jatuh bukan karena kritik terlalu keras, tapi karena mereka terlalu curiga pada semua suara. Ketika semua kritik dianggap musuh, pemimpin perlahan kehilangan cermin, kalau tidak ada cermin, orang bisa lupa wajahnya sendiri, semua tersenyum kecil.
Mamad kemudian berkata pelan, “Berarti kalimat seperti ‘yang tidak suka minggir’ itu bisa membuat jarak?” Ya, jawab Pak Pacee. Karena negara bukan barisan seragam. Di dalamnya ada perbedaan pandangan, kegelisahan, bahkan kekecewaan, demokrasi justru hidup dari kemampuan mendengar semua itu. Patriotisme tidak selalu berarti setuju, kadang orang yang paling keras mengkritik justru orang yang paling takut negaranya salah arah.
Angin malam masuk pelan dari jendela yang sedikit terbuka. Pak Pacee menutup percakapan malam itu dengan suara yang nyaris seperti gumaman, “Pemimpin yang kuat bukan yang berhasil membungkam suara, tetapi yang tetap tenang mendengar suara yang berbeda.”
Tak ada yang langsung bicara, karena mereka sadar, dalam kehidupan bersama, kepatuhan memang penting tetapi ruang untuk bersuara adalah tanda bahwa manusia masih dihargai sebagai manusia.
Ruangan kembali hening, tak ada debat panjang, tak ada kesimpulan keras. Hanya satu pemahaman kecil yang tumbuh sore itu: kepatuhan memang penting, tetapi hubungan kerja yang sehat tidak dibangun dari kalimat ‘baik suka maupun tidak suka’, melainkan dari kejelasan aturan, rasa hormat, dan ruang dialog yang tetap terbuka.
Seperti biasa, Pak Pacee menutup sore dengan diam yang lebih mengajar daripada ceramah panjang.














