MAKLUMAT — Ada manusia-manusia yang kebesarannya justru memancar dari kesederhanaan yang ekstrem. Mereka tidak butuh panggung megah atau sekat-sekat protokoler untuk menunjukkan kelasnya sebagai penuntun arah bangsa. Bagi saya, manusia langka itu adalah almarhum Buya Syafi’i Ma’arif—seorang Guru Bangsa, nahkoda Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998-2005.
Belakangan ini, ingatan saya tentang atmosfer kebersahajaan di Nogotirto—kediaman Buya Syafi’i Ma’arif—itu mendadak menyeruak kembali ke permukaan. Pemicunya adalah ketika lini masa media sosial dan ruang publik ramai memperbincangkan potret kehidupan Prof. Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah saat ini. Menyaksikan bagaimana Pak Haedar menampilkan wajah kepemimpinan yang begitu membumi, bersahaja, dan jauh dari gemerlap panggung kuasa, seolah melemparkan saya pada mesin waktu. Ada garis lurus yang membentang indah di sana; sebuah warisan kultural tentang bagaimana menjadi pemimpin umat yang selesai dengan dirinya sendiri.
Ingatan saya seketika melayang ke suatu malam di bulan Juni tahun 2007. Kala itu, saya masih seorang mahasiswa yang menggebu-gebu di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Langkah kaki membawa saya ke sebuah Masjid di Kabupaten Sleman. Di sanalah, melalui perantara seorang kawan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), takdir mempertemukan saya dengan Buya.
Sebagai anak muda, saya memperkenalkan diri apa adanya. Saya sampaikan kepada beliau bahwa saya adalah seorang kader GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), yang datang dengan maksud tulus untuk menimba ilmu serta memperluas cakrawala wawasan sebagai generasi muda.
Mendengar kata “GMNI”, sepasang mata Buya justru berbinar jenaka. Tidak ada dahi yang mengkerut, tidak ada jarak yang membentang. Beliau menyambut identitas saya dengan antusiasme yang luar biasa. Saat itu juga saya paham, bagi seorang Buya Syafi’i, sekat-sekat warna bendera organisasi sama sekali tidak berlaku, apalagi jika yang dibahas dan diperbincangkan adalah tentang masa depan Indonesia. Beliau adalah personifikasi sejati dari sikap inklusif.
Kehangatan pertemuan pertama itu membuka pintu-pintu silaturahmi berikutnya. Sepanjang rentang tahun 2007 hingga 2009, saya mendapatkan kemewahan: kesempatan untuk sowan, berbagi cerita, dan berdiskusi langsung di masjid serta kediaman beliau.
Ada satu momen yang membuat dada saya berdesir oleh rasa tak percaya. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kompleks Perumahan Nogotirto II, Blok D76, Gamping, Sleman, saya tertegun. Rumah itu teramat sederhana. Nyaris mustahil dibayangkan bahwa bangunan bersahaja di sudut gang tersebut adalah kediaman seorang tokoh yang pernah memimpin salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Di rumah tanpa kemewahan itulah, rupa-rupa pemikiran besar tentang keislaman dan keindonesiaan justru lahir dan dirawat. Kesederhanaan radikal seorang Buya adalah teladan yang melintasi zaman, sebuah kemewahan spiritual yang sulit dicari tandingannya saat ini.
Berkat intensitas diskusi dan kedekatan yang terbangun, sebuah kepercayaan besar akhirnya lahir. Buya, dengan kelapangan hatinya, memberikan kehormatan kepada kami—anak-anak GMNI Yogyakarta—untuk menjadi salah satu kelompok penyelenggara bedah buku paling awal. Kami diberi ruang untuk mengkaji secara terbuka, kritis, dan ilmiah sebuah karya fenomenal yang memantik ruang publik kala itu: Ilusi Negara Islam.
Bagi saya, perjalanan spiritual dan intelektual bersama Buya bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah kompas moral. Dari ruang tamu Nogotirto yang sederhana itu, saya belajar bahwa menjadi Indonesia adalah tentang keberanian membuka hati untuk mendengar, merangkul perbedaan, dan mencintai bangsa ini tanpa syarat.












