Brasil di Piala Dunia 2026: Kesempatan Pembuktian dan Fakta Unik Ulangi Sejarah 1970-1994

Skuad Timnas Brasil usai kemenangan telak 6-2 atas Panama dalam pertandingan persahabatan menuju Piala Dunia 2026. (Foto: CBF)

MAKLUMAT — Dalam sejarah sepak bola dunia, tidak ada negara yang memiliki hubungan sedemikian erat dan kuat dengan Piala Dunia selain Brasil. Ketika orang berbicara tentang sepak bola indah, kreativitas tanpa batas, dan tradisi juara, nama Brasil hampir selalu muncul pertama kali. Selecao—julukan Timnas Brasil—bukan hanya tim yang sukses, tetapi telah menjadi simbol sepak bola itu sendiri.

Lima gelar juara dunia yang diraih pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002 menjadikan Brasil sebagai negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia. Lebih dari itu, Brasil juga tak pernah berhenti melahirkan talenta dan pemain-pemain besar yang menjadi ikon lintas generasi.

Dunia mengenal Pele sebagai legenda terbesar abad ke-20. Setelah itu muncul Romario, Bebeto, Cafu, Rivaldo, Ronaldo Nazario, Roberto Carlos, Ronaldinho, Dida, Juninho Pernambucano, Kaka, Oscar, Neymar, hingga kini Vinicius Junior dan Endrick. Hampir setiap generasi sepak bola memiliki satu atau beberapa pemain Brasil yang menjadi standar kehebatan di posisinya masing-masing.

Namun justru di balik kemegahan dan berbagai glorifikasi kehebatan Brasil itulah tersimpan ironi. Sudah 24 tahun berlalu sejak Brasil terakhir kali tampil di final Piala Dunia dan mengangkat trofi juara. Sejak kemenangan atas Jerman dengan skor 2-0 pada final 2002 di Jepang, Brasil memang tidak pernah kehilangan status sebagai unggulan. Namun status tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan menjadi juara ataupun konsistensi performa di atas lapangan.

Dalam dua dekade terakhir, Brasil terus datang ke Piala Dunia dengan ekspektasi tinggi, tetapi selalu gagal pada momen-momen krusial. Bahkan, dari lima edisi (2006, 2010, 2014, 2018, 2022) Brasil hanya sekali mencapai semifinal, sisanya berakhir di 8 besar.

Pada Piala Dunia 2006 di Jerman, Selecao datang dengan skuad yang bahkan disebut sebagai salah satu yang paling bertabur bintang dalam sejarah sepak bola modern. Namun mereka tersingkir oleh Prancis di 8 besar.

Pada edisi 2010 di Afrika Selatan, Brasil juga terhenti di 8 besar, kali ini oleh Belanda.

Pada edisi 2014 saat menjadi tuan rumah, bahkan dunia menyaksikan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola ketika Brasil dihancurkan Jerman dengan skor 1-7 di hadapan publik sendiri pada fase semifinal. Oscar dkk saat itu harus puas sebagai juara keempat usai dipermalukan Belanda dengan skor 0-3 pada perebutan tempat ketiga. Ironisnya, meskipun dibantai Jerman dan Belanda, capaian pada edisi ini adalah prestasi terbaik Brasil sejak 2002.

Empat tahun kemudian, pada Piala Dunia 2018 di Rusia, generasi emas Belgia memulangkan Brasil di fase 8 besar. Sementara pada 2022, Kroasia berhasil menyingkirkan Neymar dkk melalui drama adu penalti yang menyakitkan.

Baca Juga  Khofifah Nobar Final Piala Dunia 2026 Bersama Ribuan Warga di Grahadi

Semua kegagalan itu menimbulkan satu pertanyaan yang terus menghantui publik Brasil: mengapa negara yang begitu sangat kaya talenta dan dikenal luas sebagai kekuatan tradisional sepak bola dunia, justru selalu kesulitan dan menemui kegagalan?

Generasi yang Diragukan?

Menjelang Piala Dunia 2026, keraguan terhadap Brasil kembali muncul. Meski tetap tak mengubah status mereka sebagai salah satu unggulan. Unggulan yang mungkin diragukan.

Sejumlah pengamat bahkan menilai skuad Brasil saat ini merupakan salah satu yang paling lemah dalam sejarah mereka. Penilaian tersebut mungkin terdengar berlebihan, tetapi ada alasan yang melatarbelakanginya. Terlebih jika dibandingkan dengan generasi 1970, 1994, 2002, ataupun skuad bertabur bintang di 2006.

Pada 2002, misalnya, Brasil diperkuat Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, Cafu, Roberto Carlos, Lucio, hingga Dida. Hampir setiap posisi dihuni pemain kelas dunia yang berada pada puncak performa.

Sementara itu, generasi 2026 lebih banyak dihuni pemain muda yang masih berada dalam proses pembuktian. Meskipun pelatih Carlo Ancelotti akhirnya kembali memanggil Casemiro dan Neymar Jr yang diharapkan dapat menjadi sosok senior serta mentor untuk membimbing skuadnya.

Vinicius Junior bersama Real Madrid memang telah berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dunia. Marquinhos di PSG juga terus menunjukkan kualitasnya di level tertinggi dan baru saja menjuarai Liga Champions Eropa, Rapinha bersama Barcelona juga tampil impresif. Endrick yang tampil menjanjikan di Lyon disebut-sebut sebagai calon superstar masa depan. Namun, sebagian besar pemain ini belum memiliki pengalaman membawa Selecao berbicara banyak di kompetisi tertinggi.

Selain itu, muncul pula kritik bahwa generasi sekarang terlalu bergantung pada kualitas individu dan belum memiliki figur pemimpin sekuat Dunga, Cafu, atau bahkan Neymar pada masa jayanya.

Tidak sedikit pula yang menilai bahwa sepak bola modern telah menciptakan generasi pemain yang lebih cepat menjadi selebritas daripada pemimpin. Popularitas media sosial, kontrak komersial yang besar, dan sorotan global terkadang membuat sebagian pemain lebih dikenal karena citra personal dibanding kontribusinya bagi tim nasional.

Tentu penilaian seperti itu tidak sepenuhnya adil. Namun kritik tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap generasi sekarang tidak sebesar kepercayaan yang pernah diberikan kepada generasi-generasi sebelumnya.

Brasil Tetap Berbahaya?

Meski demikian, meremehkan Brasil adalah suatu kesalahan besar yang fatal. Fakta bahwa mereka belum menjadi juara selama 24 tahun sering membuat orang lupa bahwa Brasil tetap menjadi salah satu tim paling konsisten di dunia. Dalam hampir setiap edisi Piala Dunia, mereka selalu mencapai fase gugur dan selalu masuk daftar unggulan juara.

Baca Juga  Julian Quinones Jadi Bintang Kemenangan Meksiko di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Yang lebih penting, Brasil memiliki sesuatu yang tidak dimiliki negara lain: kemampuan menghasilkan talenta kelas dunia tanpa henti.

Ketika Pele pensiun, muncul Zico. Saat Zico pergi, lahir Romario. Setelah Romario muncul Ronaldo dan Rivaldo, hingga Ronaldinho dan Kaka. Kemudian Thiago Silva, David Luiz, Oscar, hingga Neymar Jr.

Kini tongkat estafet berada di tangan Vinicius Junior, Gabriel Magalhaes, Endrick, Gabriel Martinelli, dan sebagainya. Kemampuan regenerasi seperti ini merupakan kekuatan terbesar Brasil. Mereka mungkin kehilangan satu generasi emas, tetapi hampir tidak pernah kehilangan bakat-bakat potensial.

Selain itu, mayoritas pemain Brasil saat ini bermain di klub-klub elite Eropa. Mereka terbiasa menghadapi tekanan Liga Champions, kompetisi domestik yang ketat, dan pertandingan berintensitas tinggi setiap pekan. Pengalaman tersebut menjadi modal yang sangat penting dalam turnamen sebesar Piala Dunia.

Bahkan, beberapa pemain yang dipanggil Carlo Ancelotti juga berasal dari Liga Brasil, yang merupakan liga paling kompetitif dan dominan di konfederasi CONMEBOL.

Fakta Sejarah Unik

Ada satu fakta unik yang membuat perjalanan Brasil menuju Piala Dunia 2026 terasa semakin menarik.

Dalam sejarah mereka, rentang tercepat antara dua gelar juara dunia adalah empat tahun, alias berhasil mempertahankan gelar juara di dua edisi beruntun, yakni pada 1958 dan 1962.

Sebaliknya, rentang terlama yang pernah dialami Brasil untuk kembali menjadi juara adalah 24 tahun. Hal itu terjadi setelah era Pele, ketika Brasil harus menunggu dari 1970 hingga 1994 untuk kembali mengangkat trofi dunia.

Kini, sejarah menghadirkan sebuah kebetulan yang unik. Dari gelar terakhir pada 2002 hingga Piala Dunia 2026, jaraknya juga tepat 24 tahun.

Lebih menarik lagi, ketika Brasil mengakhiri penantian 24 tahun pada 1994, turnamen tersebut adalah untuk kali pertama berlangsung di Amerika Serikat. Saat itu mereka datang bukan sebagai tim yang paling dipuji, tetapi mampu mengalahkan Italia melalui adu penalti dan meraih gelar dunia keempat.

Kini Piala Dunia 2026 kembali diselenggarakan di kawasan Amerika Utara, dengan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah bersama. Dan ini adalah pertama kalinya Piala Dunia memiliki tiga negara tuan rumah sekaligus, serta kalo pertama menggunakan format 48 negara dalam 12 grup.

Tentu sepak bola tidak ditentukan oleh angka-angka statistik, kebetulan sejarah, ataupun “cocoklogi” semacam itu. Tidak ada jaminan bahwa apa yang terjadi pada 1994 akan terulang pada 2026. Namun olahraga sering kali melahirkan kisah-kisah simbolik yang membuat publik percaya bahwa sejarah memiliki caranya sendiri untuk berulang.

Baca Juga  Daftar Negara Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026: Kejutan Tanjung Verde hingga Pencapaian Bersejarah Sejumlah Negara

Setidaknya, fakta tersebut memberikan secercah optimisme bagi jutaan pendukung Brasil yang telah lama menunggu Selecao di puncak prestasi mereka.

Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang paling menentukan dalam sejarah Timnas Brasil. Jika mereka kembali gagal, penantian akan berlanjut menjadi 28 tahun dan itu menjadi rekor penantian terpanjang Brasil, serta semakin memperkuat anggapan krisis prestasi.

Namun jika berhasil menjadi juara, mereka tidak hanya akan meraih bintang keenam. Mereka juga akan menyamai kisah kebangkitan generasi 1994 yang berhasil mengakhiri penantian panjang selama 24 tahun.

Karena itu, Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen biasa bagi Brasil. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa tradisi besar itu masih hidup. Bahwa di balik segala kritik terhadap generasi sekarang, Brasil tetap memiliki kemampuan untuk melahirkan kisahnya sendiri saat dunia mulai meragukannya.

Dan seperti yang telah dibuktikan sejarah, terkadang justru ketika Brasil diragukan, mereka menemukan cara untuk kembali menjadi Brasil yang sesungguhnya.

Skuad Brasil di Piala Dunia 2026

Pelatih Carlo Ancelotti telah resmi mengumumkan daftar 26 pemain yang mengisi Skuad Brasil untuk Piala Dunia 2026. Sejumlah nama muda masuk, namun salah satu sorotan adalah kembali dipanggilnya Neymar Jr maupun Casemiro yang sudah berusia 34 tahun.

Pelatih asal Italia itu juga tidak memanggil penyerang sayap Real Madrid Rodrygo lantaran mengalami cedera ACL.

Banyak pengamat menilai ini adalah generasi Brasil yang lebih muda dibanding generasi 2002 atau 2006, dengan tumpuan utama pada Vinicius Junior, Raphinha, hingga Endrick. Sebab itu, pemain senior seperti Marquinhos, Casemiro, Marquinhos, Danilo, Alisson, dan Neymar diharapkan menjadi penyeimbang bagi skuad yang relatif muda.

Kiper

  • Alisson Baker (Liverpool/Inggris)
  • Ederson (Fenerbahce/Turki)
  • Weverton (Gremio/Brasil)

Belakang

  • Alex Sandro (Flamengo/Brasil)
  • Bremer (Juventus/Italia)
  • Danilo (Flamengo/Brasil)
  • Douglas Santos (Zenit St Petersburg/Rusia)
  • Gabriel Magalhaes (Arsenal/Inggris)
  • Ibanez (Al-Ahli/Arab Saudi)
  • Leo Pereira (Flamengo/Brasil)
  • Marquinhos(PSG/Prancis)
  • Wesley (AS Roma/Italia)

Tengah

  • Bruno Guimaraes (Newcastle United/Inggris)
  • Casemiro (Manchester United/Inggris)
  • Danilo (Botafogo/Brasil)
  • Fabinho (Al-Ittihad/Arab Saudi)
  • Lucas Paqueta (Flamengo/Brasil)

Depan

  • Endrick (Lyon/Prancis)
  • Gabriel Martinelli (Arsenal/Inggris)
  • Igor Thiago (Brentford/Inggris)
  • Luiz Henrique (Zenit St Petersburg/Rusia)
  • Matheus Cunha (Manchester United/Inggris)
  • Neymar Jr (Santos/Brasil)
  • Raphinha (Barcelona/Spanyol)
  • Rayan (Bournemouth/Inggis)
  • Vinicius Junior (Real Madrid/Spanyol)

Pelatih: Carlo Ancelotti (Italia)