MAKLUMAT — Latar belakang pendidikan teknik tidaklah membatasi pilihan karier. Pesan itu disampaikan Direktur Keuangan Inalum, Ken Permana dan Direktur Human Capital & Compliance BNI, Munadi Herlambang dalam forum Professional Muda ITS Meet Up & Networking di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Forum yang digelar Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) Pengurus Wilayah Jakarta Raya tersebut mempertemukan 50 alumni muda, mahasiswa tingkat akhir, dan peserta Youth Leadership Camp (YLC)-8 untuk mendengar langsung pengalaman para alumni yang meniti karier hingga level direksi di sektor strategis nasional.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian YLC-8 itu mengangkat tema Where Engineering Meets Leadership & Finance. Seluruh konsep dan pelaksanaannya dirancang oleh peserta YLC-8 sebagai bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan.

Ketua IKA ITS PW Jakarta Raya Kusdi Widodo mengatakan ITS telah melahirkan banyak lulusan yang berkiprah di berbagai bidang, termasuk keuangan, energi, teknologi, hingga kebijakan publik.
“ITS telah melahirkan banyak talenta unggul yang tidak hanya berkiprah di bidang engineering, tetapi juga memimpin transformasi di sektor keuangan, energi, teknologi, dan kebijakan publik. Melalui forum ini kami ingin menunjukkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh jurusan semata, melainkan oleh kemauan belajar, keberanian beradaptasi, dan kemampuan membangun jejaring yang kuat,” ujarnya.
Wakil Sekretaris Umum IKA ITS PW Jakarta Raya yang juga Steering Committee YLC-8, Reynuh, menilai perubahan dunia kerja menuntut hadirnya talenta yang mampu menggabungkan kemampuan teknis, bisnis, dan kepemimpinan. “Dunia kerja tidak lagi bergerak linear. Talenta yang mampu mengintegrasikan engineering mindset, business acumen, dan leadership capability akan menjadi pemenang di era transformasi digital,” katanya.
“Kami ingin peserta memperoleh role model yang relevan dan melihat bahwa lulusan teknik dapat menjadi pemimpin korporasi tanpa kehilangan fondasi keilmuannya,” ujar Ellisya, Wakil Bendahara IKA ITS PWJR.
Ketua panitia Rozaq menjelaskan kegiatan itu dirancang sebagai ruang diskusi mengenai tantangan karier, perpindahan lintas industri, dan kepemimpinan profesional. “Kami ingin menghadirkan dialog yang jujur tentang tantangan karier, transisi lintas industri, dan kepemimpinan, sehingga peserta memahami proses di balik kesuksesan, bukan hanya melihat hasil akhirnya,” katanya.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Ken Permana memaparkan perjalanan karier yang membawanya menjadi Direktur Keuangan Inalum pada usia 34 tahun. Alumnus Teknik Mesin ITS kelahiran 1989 itu menilai keberanian mengambil peluang menjadi faktor penting dalam percepatan karier. “Keberanian memulai, kemauan belajar, dan kesiapan menghadapi tantangan baru adalah modal utama untuk mencapai lompatan karier,” ujarnya.

Sementara itu, Munadi Herlambang menyoroti pentingnya kemampuan menerjemahkan keahlian teknis ke dalam bahasa bisnis agar dapat memberi nilai tambah bagi organisasi. “Engineer harus mampu berbicara dalam bahasa bisnis agar ide teknis dapat dipahami. Fondasi penting, tetapi kemampuan adaptasi yang membuat karier bertahan,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan konsep Unlearn, Relearn, and Own sebagai kerangka pengembangan diri yang dinilainya relevan bagi generasi muda, sekaligus menekankan pentingnya integritas, karakter, dan pengembangan sumber daya manusia dalam membangun karier jangka panjang.
Forum ini mendapatkan antusiasme peserta sepanjang acara. Fawaz, salah seorang peserta mengaku memperoleh perspektif baru setelah mendengar pengalaman kedua narasumber. “Tema ini langsung menarik perhatian saya karena relevan dengan perjalanan saya dari finance ke engineering. Mendengar pengalaman Cak Ken dan Cak Munadi memberi perspektif yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain,” ujarnya.
Sera, peserta lain menilai forum ini memberikan kesempatan belajar langsung dari para pemimpin industri. “Acaranya rapi dan memberi ruang belajar langsung dari para pemimpin industri. Ini ruang yang jarang kami temukan,” katanya.

Pada penutupan acara, Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya sekaligus Steering Committee YLC-8, Dzulfikar Arifuddin, mengajak peserta memanfaatkan jejaring alumni sebagai modal sosial untuk memperluas peluang kolaborasi dan pengembangan diri.
Dia berharap IKA ITS menjadi ruang yang mempercepat lahirnya generasi pemimpin berikutnya melalui mentoring, coaching, berbagi pengetahuan, dan kolaborasi lintas profesi. Program YLC sendiri merupakan agenda pengembangan kepemimpinan yang disiapkan untuk membentuk alumni muda yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas.
“Jangan hanya membawa pulang foto dan sertifikat. Bawalah pulang relasi, inspirasi, dan komitmen untuk bertumbuh. Networking bukan tentang mengenal banyak orang, tetapi tentang membangun kolaborasi yang menghasilkan dampak,” ujarnya.













