MAKLUMAT – Ada pemandangan berbeda dalam konferensi pers Timnas Argentina menjelang laga Piala Dunia 2026 melawan Yordania yang digelar Ahad (28/6/2026) WIB. Bukan Lionel Messi atau pelatih Lionel Scaloni yang menjadi pusat perhatian, melainkan seorang jurnalis berusia 91 tahun.
Namanya Enrique Macaya Márquez. Sosok yang sudah hampir tujuh dekade mengabadikan sejarah Piala Dunia dari balik meja pers.
Momen itu menjadi viral setelah jurnalis sepak bola Fabrizio Romano mengunggah videonya melalui akun X, @FabrizioRomano.
Saat sesi tanya jawab, Macaya Márquez mengangkat tangan dan bertanya kepada pelatih Argentina, Lionel Scaloni.
“Apakah Messi akan bermain melawan Yordania?” tanyanya.
Scaloni sempat tersenyum. Ia mengatakan biasanya tidak pernah mengungkap susunan pemain sebelum pertandingan.
Namun kali ini ia membuat pengecualian.
“Saya tidak akan pernah menjawab pertanyaan seperti ini kepada jurnalis mana pun. Tapi karena pertanyaan itu datang dari Anda, saya jawab. Messi tidak akan menjadi starter,” ujar Scaloni.
Jawaban itu langsung disambut tepuk tangan para jurnalis.
91 year old legendary Argentinian journalist Macaya Márquez was in press conference, covering his 18th (!) World Cup 🐐
“Let me ask you… will Messi play against Jordan or not?” 😬
“I’d never reply to any journalist on this topic now… but it is coming from you, and so I tell… pic.twitter.com/KrTZqq64dk
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) June 27, 2026
Konferensi pers kemudian ditutup dengan pemandangan yang menyentuh. Scaloni berjalan menghampiri Macaya Márquez, memeluknya, lalu berfoto bersama.
“Saya sangat menghormati Anda. Saya bangga melihat Anda berada di sini,” kata Scaloni.
Bagi publik sepak bola Argentina, penghormatan itu bukan sesuatu yang berlebihan.
Rekor 18 Piala Dunia
Enrique Macaya Márquez merupakan jurnalis olahraga paling senior di Argentina sekaligus pemegang rekor dunia FIFA sebagai wartawan dengan liputan Piala Dunia terbanyak sepanjang sejarah.
Pada usia 91 tahun, ia masih aktif meliput Piala Dunia 2026. Turnamen ini menjadi Piala Dunia ke-18 berturut-turut yang diikutinya sebagai jurnalis.
Perjalanannya dimulai pada Piala Dunia 1958 di Swedia. Saat itu usianya baru 23 tahun.
Sejak edisi tersebut, Macaya tidak pernah absen. Ia menjadi saksi langsung lahirnya berbagai era sepak bola dunia, mulai dari Pelé, Johan Cruyff, Franz Beckenbauer, Diego Maradona, Ronaldo Nazário, hingga Lionel Messi.
Menyaksikan Perubahan Dunia Media
Karier Macaya juga mencerminkan perubahan besar dunia jurnalistik.
Ia memulai pekerjaannya ketika laporan pertandingan masih dikirim melalui radio gelombang pendek, mesin tik, dan perjalanan panjang menggunakan pesawat baling-baling.
Kini, di era media digital dan platform streaming, ia masih aktif sebagai analis sepak bola dan tetap hadir di ruang konferensi pers Piala Dunia.
Kemampuannya mengikuti perkembangan zaman membuat namanya tetap dihormati lintas generasi.
Ikon Jurnalisme Argentina
Selain dikenal sebagai peliput Piala Dunia, Macaya Márquez merupakan figur penting dalam dunia penyiaran olahraga Argentina.
Selama lebih dari 20 tahun, tepatnya pada 1985 hingga 2009, ia menjadi pembawa acara Fútbol de Primera, program televisi yang menjadi referensi utama masyarakat Argentina untuk menyaksikan cuplikan pertandingan dan analisis kompetisi sepak bola domestik.
Program tersebut menjadi salah satu tayangan olahraga paling berpengaruh sebelum era internet dan media sosial berkembang.
Diakui FIFA
Dedikasi Macaya Márquez mendapat pengakuan internasional.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, FIFA bersama Asosiasi Pers Olahraga Internasional (AIPS) memberikan penghargaan khusus atas pengabdiannya selama puluhan tahun di dunia jurnalistik olahraga.
Kini, pada Piala Dunia 2026, penghormatan datang langsung dari lapangan. Pelukan Lionel Scaloni menjadi simbol penghargaan dunia sepak bola kepada seorang jurnalis yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk merekam sejarah permainan paling populer di dunia.
Di usia 91 tahun, Enrique Macaya Márquez belum berhenti bertanya, belum berhenti menulis, dan belum berhenti meliput. Sebab bagi seorang jurnalis, usia boleh menua, tetapi rasa ingin tahu tak pernah pensiun.***














